5 Duet Maut yang Pernah Bikin Timnas Indonesia Mengerikan di SEA Games: Disegani Lawan dan Banjir Gol

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Jakarta - Timnas Indonesia tak pernah berhenti melahirkan pemain-pemain berkualitas. Biasanya, mereka bermunculan pada ajang SEA Games yang diikuti Timnas Merah Putih.

Banyak pemain hebat semisal gelandang dan penyerang lahir dan tampil mengejutkan di SEA Games. Hal itulah yang membuat Timnas Indonesia tak pernah dipandang sebelah mata oleh lawan.

Para pemain berkualitas yang lahir di SEA Games acap kali menjadi andalan di Timnas Indonesia pada masa depan. Situasi semacam itu seperti sudah menjadi tradisi di Timnas Garuda.

Namun, ketajaman duet yang sering dimiliki Timnas Indonesia tak menjadi jaminan prestasi. Timnas Indonesia tak pernah mulus dalam meraih medali emas di SEA Games.

Terakhir kali Indonesia keluar sebagai yang terbaik di SEA Games terjadi pada edisi 1991. Sejak saat itu, Timnas Indonesia belum pernah lagi berprestasi pada ajang dua tahunan tersebut.

Bola.com mencatat ada sejumlah duet yang tampil tajam bersama Timnas Indonesia di SEA Games. Mereka mampu menunjukkan performa gemilang berupa sumbangan banyak gol hingga disegani lawan. Siapa saja? Berikut ini adalah perinciannya.

Eri Irianto dan Fakhri Husaini

Pelatih Timnas Indonesia U-19, Fakhri Husaini, memberikan instruksi saat melawan Iran U-19 pada laga uji coba di Stadion Patriot Chandrabhaga, Bekasi, Sabtu (7/9). Indonesia kalah 2-4 atas Iran. (Bola.com/Yoppy Renato)
Pelatih Timnas Indonesia U-19, Fakhri Husaini, memberikan instruksi saat melawan Iran U-19 pada laga uji coba di Stadion Patriot Chandrabhaga, Bekasi, Sabtu (7/9). Indonesia kalah 2-4 atas Iran. (Bola.com/Yoppy Renato)

Timnas Indonesia pernah disegani lawan pada SEA Games 1995. Ketika itu, Timnas Merah Putih mencetak 11 gol sekaligus menjadi yang tersubur pada babak penyisihan grup.

Ketajaman lini depan Timnas Garuda tak bisa dipisahkan dari duet Eri Irianto dan Fakhri Husaini. Keduanya menyumbang sembilan gol dengan rincian Eri Irianto lima gol dan Fakhri Husaini lima gol.

Sayangnya, ketajaman duet gelandang maut itu tak mampu membantu Timnas Indonesia lolos dari fase grup. Indonesia finis di peringkat ketiga dengan raihan enam poin hasil dua kali menang dan sekali kalah.

Kurniawan Dwi Yulianto dan Widodo Cahyono Putro

Pelatih Timnas Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto, mengamati anak asuhnya saat latihan di Stadion Wibawa Mukti, Jawa Barat, Senin (10/9/2018). Latihan ini persiapan jelang laga uji coba melawan Mauritius. (Bola.com/Vitalis Trisna)
Pelatih Timnas Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto, mengamati anak asuhnya saat latihan di Stadion Wibawa Mukti, Jawa Barat, Senin (10/9/2018). Latihan ini persiapan jelang laga uji coba melawan Mauritius. (Bola.com/Vitalis Trisna)

Timnas Indonesia tampil menggila pada SEA Games 1997. Tim Merah Putih lolos sebagai juara grup dengan koleksi 10 poin dan mencetak 13 gol.

Ketajaman Timnas Indonesia tak bisa dipisahkan dari peran duo penyerang Kurniawan Dwi Yulianto dan Widodo Cahyono Putro. Sepanjang turnamen, Kurniawan mencetak empat gol dan Widodo membukukan tiga gol.

Namun, Timnas Indonesia ketika itu gagal meraih medali emas SEA Games. Pada laga final, Indonesia menyerah 2-4 melalui drama adu penalti dari Thailand.

Bambang Pamungkas dan Elie Aiboy

Bambang Pamungkas, Timnas Indonesia (AFP/Bay Ismoyo)
Bambang Pamungkas, Timnas Indonesia (AFP/Bay Ismoyo)

Duet maut di Timnas Indonesia terjadi pada SEA Games 2001. Ketika itu, lini depan Timnas Garuda disegani lawan berkat kehadiran Bambang Pamungkas dan Elie Aiboy.

Keduanya sukses mencetak tujuh gol dengan rincian, Bambang menyumbang empat gol dan Elie Aiboy membukukan tiga gol. Namun, ketajaman keduanya gagal membantu Timnas Indonesia meraih medali.

Indonesia dikalahkan Thailand pada laga semifinal dengan skor 1-2. Kemudian pada perebutan medali perunggu, skuad Garuda menyerah 0-1 dari Myanmar.

Patrich Wanggai dan Titus Bonai

Gol dari Titus Bonai, strker Timnas untuk Pra-Olimpiade, tidak mampu menghindari Indonesia terhindar dari kekalahan 1-3 atas Turkmenistan pada laga di Stadion Gelora Sriwijaya, Jakabaring, Palembang, 23 Februari 2011.
Gol dari Titus Bonai, strker Timnas untuk Pra-Olimpiade, tidak mampu menghindari Indonesia terhindar dari kekalahan 1-3 atas Turkmenistan pada laga di Stadion Gelora Sriwijaya, Jakabaring, Palembang, 23 Februari 2011.

Patrich Wanggai dan Titus Bonai pernah membuat lini depan Timnas Indonesia disegani di SEA Games 2011. Ketika itu, keduanya tampil tajam dan berhasil mengumpulkan sembilan gol untuk Timnas Garuda.

Patrich Wanggai ketika itu membukukan lima gol dan Titus Bonai mencetak empat gol. Namun, ketajaman duet maut mereka tak mampu menghadirkan medali emas SEA Games.

Timnas Indonesia menyerah 3-4 dari Malaysia di final SEA Games. Timnas Indonesia harus puas meraih medali perunggu dalam ajang tersebut.

Egy Maulana Vikri dan Osvaldo Haay

Gelandang Timnas Indonesia U-22, Osvaldo Haay, merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Thailand pada laga SEA Games 2019 di Stadion Rizal Memorial, Manila, Selasa (26/11). Indonesia menang 2-0 atas Thailand. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)
Gelandang Timnas Indonesia U-22, Osvaldo Haay, merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Thailand pada laga SEA Games 2019 di Stadion Rizal Memorial, Manila, Selasa (26/11). Indonesia menang 2-0 atas Thailand. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Harapan akan medali emas pada SEA Games 2019 melambung setelah Timnas Indonesia dihuni Egy Maulana Vikri dan Osvaldo Haay. Sepanjang penyisihan grup, dua nama tersebut tampil menggila dan membuat lini depan Timnas Garuda disegani lawan.

Egy Maulana Vikri dan Osvaldo Haay sukses mencetak 12 gol untuk Timnas Indonesia. Perinciannya adalah Egy mencetak empat gol dan Osvaldo delapan gol.

Namun, ketajaman keduanya tak cukup mengantarkan Timnas Indonesia meraih medali emas SEA Games. Pada laga final, Timnas Indonesia menyerah 0-3 dari Vietnam dan harus puas membawa pulang medali perak.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini