5 Fakta di Balik Produksi Peti Mati Berbahan Kardus di Sri Lanka

·Bacaan 1 menit

Fimela.com, Jakarta Peti mati menjadi barang yang makin populer di masa pandemi Covid-19. Bahkan di sejumlah negara yang mengalami lonjakan kasus Covid-19 tinggi, peti mati menjadi barang yang langka dan tinggi peminat.

Rupanya, sejumlah negara, salah satunya Sri Lanka membuat alternatif lain dari bentuk peti mati konvensional yang ada. Jika pada umumnya peti mati terbuat dari kayu, namun kini Sri Lanka menciptakan peti mati yang terbuat dari kardus. Lalu apa saja keunikan dan fakta di balik peti mati yang terbuat dari bahan kardus tersebut? Simak selengkapnya berikut ini.

1. Dibuat di kota Dehiwala-Mount Lavinia, Sri Lanka

Di disi, para pekerja membuat kardus yang dibentuk seperti peti mati. Kotak panjang tersebut direkatkan dengan lem dan staples sedemikian rupa sehingga lebih kokoh dan kuat untuk menyimpan jenazah.

2. Terbuat dari bahan kertas daur ulang

Ilustrasi kardus bekas | pexels.com
Ilustrasi kardus bekas | pexels.com

Priyantha Sahabandu, pejabat kota Dehiwala-Mount Lavinia mengungkapkan jika peti mati tersebut dibuat dari kertas daur ulang yang membuat bahan baku pembuatan peti dari kardus sangat murah dibandingkan dengan peti mati kayu.

3. Bahan ramah lingkungan

Material kardus tentu lebih mudai terurai tanah jika dibandingkan dengan material kayu. Selain itu, harganya juga terbilang lebih terjangkau, membuat peti mati dari kardus bisa dijangkau oleh siapapun.

4. Mulai populer

Peti mati kardus (Jose Sanchez/AFP)
Peti mati kardus (Jose Sanchez/AFP)

Peti mati dari material kardus sudah cukup populer di kalangan masyarakat. Harganya juga cukup terjangkau yaitu 4.500 rupee sri Lanka, setara dengan 23 US Dollar. Seangkan peti kayu seharga 30 ribu rupee Sri Lanka.

5. Sudah didistribusikan

Peti Mati ini sudah banyak didistribusikan. Sejak tahun 2020 ada 350 peti mati dan kini, pabrik juga tengah mengerjakan 150 peti mati.

#Elevate Women

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel