5 Fakta Staf Perpustakaan SMP di Kota Bekasi Lecehkan Murid

Merdeka.com - Merdeka.com - DP (30), staf perpustakaan SMPN 6 Kota Bekasi akhirnya diringkus polisi. Dia juga ditetapkan sebagai tersangka kasus pelecehan seksual terhadap sejumlah murid di sekolahan tersebut.

Berdasarkan pendalaman polisi, diperkirakan jumlah korban mencapai 10 pelajar. Namun yang baru melapor baru tiga korban, yang saat ini telah menjadi alumni SMPN 6.

Kasus ini terungkap setelah bukti percakapan WhatsApp pelaku dengan korban tersebar di sosial media, salah satunya dugaan ajakan pelaku kepada korban ke hotel dan apartemen.

Sebelum ditangani kepolisian, DP pernah diperiksa pihak sekolah terkait perkara pelecehan tersebut. Dalam konfirmasinya yang disampaikan Humas SMPN 6 Kota Bekasi, Alis Maryamah, DP membantah.

"(Di viral) betul ada tapi, setelah diklarifikasi pengakuan si terduga itu tidak, itu yang disampaikan ke kami," kata Alis kepada wartawan, Senin (1/8).

Kasus ini lantas ditangani Polres Metro Bekasi Kota. Di hadapan penyidik, perbuatan memalukan DP akhirnya terbongkar.

Berikut fakta-fakta kasus pelecehan seksual tersebut:

Tersangka Bekerja Sejak Tahun 2013

Alis Maryamah membenarkan bahwa DP, pelaku pelecehan bekerja sebagai staf perpustakaan sejak tahun 2013.

"Dari 2013, 2013 sebagai honorer, 2017 diangkat menjadi TKK, jadi (terduga pelaku) belum PNS," kata Alis kepada wartawan, Senin (1/8).

Alis juga mengatakan tidak mentolerir keberadaan pelaku pelecehan ada di lingkungan sekolah. Bahkan seluruh guru sudah sepakat untuk tidak lagi menerima DP.

"Karena pertama sudah mencoreng nama baik ya, kalau kita sih guru-guru berharap (pelaku) tidak di SMPN 6 ini lagi," jelasnya.

Bentuk Pelecehan

Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Bekasi ikut turun tangan dalam penanganan persoalan ini. Lembaga tersebut memfokuskan pada penanganan kesehatan mental korban pelecehan.

Komisioner KPAD Kota Bekasi, Novrian mengatakan dari hasil wawancara kepada pihak sekolah dan korban, pihaknya belum menemukan korban yang dilecehkan secara fisik. Namun pihaknya menyerahkan ke Polres Metro Bekasi Kota untuk penyelidikan lebih lanjut.

"Lebih banyak sih chat (korban pelecehan), dari WhatsApp gitu. Itu (pelecehan fisik) nanti polisi yang menggali," katanya.

Nomor HP Korban Dimasukkan ke Grup Pria Dewasa

Salah satu korban pelecehan berinisial R menceritakan perilaku mesum terduga pelaku DP. Alumni SMPN tersebut pernah dilecehkan dengan cara memasukkan kontaknya ke grup laki-laki dewasa di aplikasi WhatsApp pada tahun 2019.

Tidak ada itu, terduga pelaku D juga menyebar nomor telepon R yang mengakibatkan korban banyak yang chat bahkan ada yang mengajak video call.

"Itu disebar gitu nomornya sama dia, terus pernah pada banyak yang ngespam 'eh open vcs gak' terus pas aku tanya salah satu dari ngechat itu 'iya nomor kamu di-share sama D'," kata R, Selasa (2/8).

Kesaksian Korban

Selama bersekolah, R mengaku tidak pernah menanggapi dan tidak menerima ancaman. Namun, teman satu angkatannya sempat diajarkan cara masturbasi.

"Enggak (pernah diancam), tapi paling teman aku diajarin masturbasi sama dia," jelasnya.

Korban lainnya mengatakan sempat melihat terduga pelaku memeluk siswi dari arah belakang. Tidak hanya itu, pelaku juga terlihat suka memperhatikan dada siswi.

"Waktu itu aku sempat lihat jadi intinya kaya pernah dipeluk dari belakang, sempat katanya dia cuma kaya ke arah arah cewek cuma bagian dadanya, enggak merhatiin orangnya cuma ke arah dada doang," jelasnya.

Pelaku Kirim Konten Porno dan Ajak Korban ke Apartemen

Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Hengki mengatakan, salah satu dari ketiga korban yang melapor ke polisi sempat diajak tersangka ke sebuah apartemen di wilayah Kota Bekasi.

Tersangka mengambil kesempatan saat korban menanyakan peminjaman dan pengembalian buku di perpustakaan.

Bukannya menjawab dengan benar, DP sesekali sengaja mengirimkan video dewasa kepada muridnya.

"Jadi pelaku ini setelah dihubungi korban tentang pinjam meminjam buku, tetapi dimanfaatkan oleh tersangka ini dengan mengirimkan konten-konten yang genit maupun porno," kata Hengki.

"Akhirnya tersangka juga mengajak korban untuk ngobrol. Ternyata dibawa ke tempat apartemen. Nah sampai apartemen di situlah terjadi hal-hal cabul terhadap korban," lanjutnya.

Dua korban lainnya, lanjut Hengki, hanya mendapatkan perilaku pelecehan melalui pesan singkat WhatsApp.

Atas tindakannya, tersangka dikenakan Pasal 82 Jo Pasal 76E UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Menjadi Undang-Undang. [cob]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel