5 Fakta Tentang Sosok Kuat Ma'ruf, Pengancam Brigadir J

Merdeka.com - Merdeka.com - Sosok Kuat Ma'ruf, salah satu tersangka kasus pembunuhan terhadap Brigadir J alias Nofriansyah Yosua Hutabarat memiliki sejumlah peran. Kuat Ma'ruf merupakan warga sipil dan sopir mantan Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo dikenal sangat loyal.

Kuat Ma'ruf rupanya merupakan sosok yang berperan mengancam membunuh Brigadir J. pesan ancaman pembunuhan itu diterima Brigadir J malam hari sebelum hari dihabisi. Hal itu diketahui setelah Komnas HAM memeriksa kekasih Brigadir J bernama Vera.

"Kami komunikasi dengan Vera (pacar Brigadir J) keterangan cukup detail salah satu intinya bahwa betul tanggal 7 malam kan kematian tanggal 8, memang tanggal 7 ada ancaman pembunuhan," kata Komisioner Komnas HAM Choirul Anam menirukan isi pesan diterima Vera dari Brigadir J saat diinterogasi Komnas HAM pada awal penyelidikan kasus dugaan kematian Brigadir J.

Berikut fakta-fakta lain tentang Kuat Ma'ruf yang dihimpun merdeka.com:

1. Menghubungi Polisi Usai Kematian Brigadir J

Kuat Ma'ruf yang menghubungi Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan AKBP Ridwan Rhekynellson Soplanit untuk datang ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) pembunuhan Brigadir J di kediaman Ferdy Sambo kawasan Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan.

"Salah satunya, Kasat Reskrim Polres Jaksel yang hadir pertama di TKP pukul 17.30 WIB, pada saat itu yang bersangkutan dihubungi driver saudara FS (KM)," kata Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi III DPR RI di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (24/8).

Sigit menyebut, polisi yang datang setelahnya adalah personel dari Biro Provos Divisi Propam Polri sekitar pukul 17.47 WIB atas perintah Ferdy Sambo. Mereka kemudian melakukan pendataan dan pengamanan barang bukti.

Sementara itu, masuk pukul 19.00 WIB, para saksi antara lain Bharada Richard Eliezer alias Bharada E, Bripka Ricky Rizal, dan Kuat Ma'ruf pun dimintai keterangan di Kantor Biro Paminal Divisi Propam Polri. Untuk pelaksanaan olah TKP baru selesai pukul 19.40 WIB.

2. Kuat Maruf Sempat Mau Melarikan Diri

Namun skenario pembunuhan Brigadir J yang didalangi bosnya Ferdy Sambo terbongkar. Timsus Polri pun menetapkan Kuat Ma'ruf sebagai tersangka tersangka pembunuhan berencana Brigadir J bersama Ferdy Sambo, istri Ferdy Sambo bernama Putri Candrawathi, dua ajudan Ferdy Sambo bernama Bharada E dan Bripka Ricky Rizal (RE).

Status tersangka itu membuat Kuat Ma'ruf terpojok. Bahkan menurut Sigit, Kuat Ma'ruf sempat mau melarikan diri setelah skenario pembunuhan Brigadir J terbongkar.

"Tersangka Kuat Ma'ruf sempat mau melarikan diri. Namun, berhasil kami tangkap," ujar Sigit.

3. Bantu Pembunuhan

Kuat Ma'ruf menjadi tersangka lantaran, diduga turut membantu dan menyaksikan penembakan Brigadir J.

"KM membantu dan menyaksikan penembakan korban," kata Kabareskrim Komjen Agus Andrianto saat jumpa pers, Selasa (9/11).

Sosok tersebut, Kuat ternyata sempat muncul ke publik saat memenuhi panggilan pemeriksaan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), pada Senin (1/8). Ketika memenuhi panggilan pemeriksaan bersama tiga asisten rumah tangga (art) keluarga Ferdy Sambo, dan satu ajudan Brigadir D alias Deden.

Penampakan Kuat kala itu pun, telah dikonfirmasi dari sumber pihak yang melangsungkan pengusutan terhadap kasus ini. Sosoknya telah dikonfirmasi, hadir ketika pemeriksaan dengan kemeja abu-abu panjang, dan celana panjang.

Kuat memiliki perawakan berambut pendek tipis, dengan badan yang gempal berisi. Tidak jelas bentuk wajah darinya, karena saat datang mengenakan masker berwarna hitam dan tidak ada sepatah katapun merespon pertanyaan dari awak media.

4. Sempat dikira Skuad lama

Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam, mengungkapkan 'Skuad' yang mengancam akan membunuh Brigadir J ternyata adalah sopir dan ART istri Irjen Ferdy Sambo, Kuat Ma'ruf. Hal itu disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi III DPR RI.

"Kami komunikasi dengan Vera (pacar Brigadir J) keterangan cukup detail salah satu intinya bahwa betul tanggal 7 malam kan kematian tanggal 8, memang tanggal 7 ada ancaman pembunuhan," kata Choirul Anam.

Mendapat informasi tersebut, Komnas HAM terus menggali, siapa yang memberikan ancaman pembunuhan tersebut. Kala itu, Vera menyebut ancaman berasal dari 'skuad'. Tapi Vera tidak tahu siapa yang dimaksud dengan 'skuad' yang mengancam Yosua.

"Siapa yang melakukan? Vera bilang oleh skuad. Skuad ini siapa, apa ADC apa penjaga, sama sama tidak tahu, saya juga tidak tahu," terang Anam.

"Ujungnya nanti kita tahu bahwa skuad yang dimaksud itu adalah Kuat Ma'ruf. Si Kuat, bukan skuad penjaga ternyata," sambungnya.

5. Larang Brigadir J ketemu Putri Candrawathi

Choirul Anam memaparkan, bahwa Brigadir J dilarang bertemu dengan Putri Candrawathi yang pada saat itu berada di lantai atas, karena akan membuat istri Ferdy Sambo sakit. Jika Brigadir J nekat naik ke atas, maka diancam akan dibunuh.

"Jadi Yosua dilarang naik ke atas menemui ibu P karena membuat ibu P sakit, kalau naik ke atas akan dibunuh. Jadi komunikasi tanggal 7 malam," ungkapnya.

Mendapat informasi tersebut, Komnas HAM terus menggali, siapa yang memberikan ancaman pembunuhan tersebut. Kala itu, Vera menyebut ancaman berasal dari 'skuad'. Tapi Vera tidak tahu siapa yang dimaksud dengan 'skuad' yang mengancam Yosua.

"Siapa yang melakukan? Vera bilang oleh skuad. Skuad ini siapa, apa ADC apa penjaga, sama sama tidak tahu, saya juga tidak tahu," terang Anam.

"Ujungnya nanti kita tahu bahwa skuad yang dimaksud itu adalah Kuat Ma'ruf. Si Kuat, bukan skuad penjaga ternyata," sambungnya. [eko]