5 Fakta Unik Tradisi Kawin Lari dalam Pernikahan Suku Sasak

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Ada salah satu tradisi pernikahan yang cukup unik dan itu hanya bisa ditemukan dalam lingkungan masyarakat Suku Sasak di Pulau Lombok, yakni mengenai tradisi pernikahannya yang dinamakan dengan ‘Merarik’ atau kawin lari. Walau Merarik sering diidentikkan sebagai kawin culik, namun dalam prosesnya tidak boleh ada pemaksaan atau kekerasan karena Merarik hanya dilakukan jika pasangan calon pengantin pria dan perempuan sama-sama setuju untuk melakukannya.

1. Dilakukan pada malam hari

Merarik berasal dari kata ‘rari’ yang berarti lari atau dalam istilah dapat diartikan sebagai melarikan seorang perempuan untuk dinikahi. Merarik hanya boleh dilakukan pada malam hari tanpa sepangetahuan orang lain, agar tidak terjadi keributan dan agar terhindar dari hal-hal yang dapat menyebabkan kegagalan pernikahan. Dan jika dalam proses Merarik ini terjadi keributan, pihak pria akan didenda dengan sejumlah uang.

2. Perempuan memiliki kedudukan yang berharga

Tak hanya prosesnya yang unik, Merarik ini juga memiliki makna yang mendalam. Jika, dalam tradisi pernikahan yang lain mambawa lari seorang perempuan dianggap sebagai sesuatu yang tidak sesuai dengan kebiasaan mayarakat atau dikonotasikan negarif. Maka sebaliknya, bagi masyarakat Suku Sasak mengartikan bahwa Merarik ini seperti ‘mencuri atau membawa lari’. Dan sesuatu yang dicuri berarti sesuatu yang berharga. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perempuan yang dibawa lari dipandang sangat berharga kedudukanya.

3. Hanya dilakukan oleh pria yang memiliki keberanian

Merarik bukanlah hal yang sederhana dilakukan dalam lingkungan masyarakat Suku Sasak, sehingga jika seorang pria berani melakukannya maka ia memang sudah dianggap siap. Sebab, dalam Merarik dibutuhkan strategi agar tidak terjadi kegaduhan, mengatur waktu yang tepat, kesiapan mental maupun materi. Sehingga tidak bisa dilakukan oleh sembarangan orang, kecuali bagi mereka yang dewasa dan mapan. Seperti di zaman dahulu, dalam tradisi Suku Sasak pria yang mau menikahi seorang perempuan harus memberikan minimal dua ekor kerbau (sekarang sudah dikonversi sebagai simbol kemapanan; memiliki pekerjaan, rumah dan penghasilan tetap, dsb).

4. Perempuan diharuskan bisa memintal (Nyesek)

Nyesek dalam Bahasa Sasak berarti memintal dengan alat tradisional untuk membuat kain khas Suku Sasak dan tradisi ini masih bisa ditemukan di Desa Sade, Lombok Tengah. Jika pada zaman dahulu, perempuan baru boleh menikah jika sudah mahir memintal. Karena ini pekerjaan yang rumit dan butuh keahlian, mungkin dibutuhkan waktu selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun agar bisa mahir. Jadi perempuan yang dianggap sudah mahir memintal ini dianggap sudah dewasa dan siap berumah tangga sehingga mereka boleh menikah.

5. Dibawa ke rumah kerabat terdekat

Dalam proses Merarik, pria membawa calon pengantin perempuan ke rumah kerabat atau keluarga terdekat dan tidak boleh langsung dibawa ke rumah calon pengantin pria. Agar proses pernikahan cepat dilalukan, kemudian kerabat akan melaporkan pada kepala dusun untuk segera menginformasikan pada pihak keluarga perempuan. Dalam masyarakat Sasak proses ini dinamakan sebagai ‘Nyelabar’. Setelah itu baru dilakukan prosesi pernikahan selanjutnya, seperti meminta wali, akad nikah (bekawin), dan iring-iringan pengantin (Nyombe/ Nyongkolan).

Tradisi pernikahan Suku Sasak ini mungkin dianggap sangat tabu karena sering diidentikan dengan ‘kawin culik, padahal menculik di sini tidak mengandung arti kriminalitas atau kekerasan, karena kedua mempelai yang melakukannya atas kesadaran masing-masing, tidak boleh atas paksaan atau ancaman dan didasarkan pada kesiapan.

Sangat unik sekali ya tradisi pernikahan Suku Sasak ini, apakah di daerahmu juga memiliki tradisi yang unik juga? Yuk, share di sini.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel