5 Ganda Campuran Calon Kuda Hitam di Olimpiade Tokyo

Zaky Al-Yamani
·Bacaan 3 menit

VIVA – Lima pasangan pada sektor ganda campuran diprediksi bakal menebar ancaman sebagai tim kuda hitam pada beberapa ajang kualifikasi tersisa demi mengamankan tempat di Olimpiade Tokyo yang akan digelar pada 23 Juli-8 Agustus 2021 mendatang.

Untuk sektor ganda campuran, lima pasangan sudah berada dalam posisi aman berdasarkan ranking Race to Tokyo meski babak kualifikasi Olimpiade cabang bulu tangkis baru akan berakhir pada 13 Juni 2021.

Lima pasangan yang diharapkan bisa bersaing ketat hingga babak kualifikasi berakhir adalah Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong (China), Wang Yi Lyu/Huang Dong Ping (China), Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai (Thailand), Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti (Indonesia) dan Yuta Watanabe/Arisa Higashino (Jepang).

Namun selain lima pasangan tersebut, Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) juga mencatat beberapa pasangan yang dianggap bisa memberi kejutan, mengacaukan persaingan di antara para pemain papan atas dan pantas menyandang predikat kuda hitam.

Berikut lima ganda campuran yang diprediksi BWF bisa jadi kuda hitam:

Thom Gicquel/Delphine Delrue (Prancis)

Gicquel/Delrue mencatatkan kemajuan pesat, baik dari segi kemampuan maupun kepercayaan diri mereka. Duet pemain muda berusia 22 tahun itu telah menyingkirkan hampir semua pasangan top dunia dalam beberapa turnamen belakangan ini.

Mereka memenangi gelar pertamanya pada tahun ini pada turnamen level Super 300 Swiss Open 2021 setelah mengalahkan pasangan Denmark, Mathias Christiansen/Alexandra Boje.

Tak hanya itu, mereka juga mampu mencatatkan sejarah bagi Prancis dengan tembus semifinal dua turnamen Super 1.000 Yonex Thailand Open, Januari lalu.

Marcus Ellis/Lauren Smith (Inggris)

Ellis/Smith sempat berada di bawah bayang-bayang kompatriotnya yang lebih terkenal, yakni Chris Adcock/Gabrielle Adcock. Namun dalam beberapa musim terakhir, mereka mampu membuktikan diri sebagai pasangan berprestasi.

Meski permainan mereka tidak terlalu spektakuler, namun cukup efisien sehingga bisa memenangi Thailand Masters 2020, serta menjadi semifinalis All England 2020 dan 2021, Denmark Open 2020, dan Swiss Open 2021.

Seo Seung Jae/Chae YuJung (Korea Selatan)

Dalam beberapa kesempatan, Seo/Chae bisa jadi lawan yang menyulitkan mengingat keduanya jadi satu-satunya pasangan kidal, selain Tang Chun Man/Tse Ying Suet (Hong Kong) dalam daftar peringkat 10 besar Race to Tokyo.

Seo menunjukkan perkembangan pesat dalam beberapa bulan terakhir dengan permainan menyerang yang semakin kuat. Kemampuannya dalam memberikan serangan tak terduga juga menjadi keunggulan dari pasangan ini.

Sedangkan Chae merupakan tipe pemain yang tenang ketika di depan sehingga memudahkan Seo untuk agresif melancarkan serangan dari berbagai sisi.

Chan Peng Soon/Goh Liu Ying

Chan/Goh sempat mengejutkan banyak orang ketika mencapai final Olimpiade 2016 Rio de Janeiro. Setelah itu, mereka mampu membuktikan diri dan konsistensi berada di posisi 10 besar kendati kini keduanya berstatus sebagai pemain profesional.

Meski usia mereka sudah tidak lagi muda serta Goh juga tengah cedera, Chan/Goh jelas tidak boleh dipandang sebelah mata karena pasangan ini diprediksi masih bisa memberi kejutan.

Mathias Christiansen/Alexandra Boje

Beberapa pasangan Eropa saat ini masih berjuang untuk memperebutkan tempatnya di Olimpiade Tokyo. Selain Ellis/Smith, Gicquel/Delrue, dan Mark Lamsfuss/Isabe Herttrich (Jerman), masih ada Mathias Christiansen/Alexandra Boje yang kini sedang dalam kondisi terbaiknya.

Keduanya memang belum pernah mendapatkan gelar utama, tetapi kemenangan mereka di SaarLorLux Open 2020 atau runner up Swiss Open 2021 cukup menunjukkan kualitas mereka sebagai pasangan yang solid.

Pengalaman dan kekuatan Christiansen dan energi besar khas anak muda seperti Boje menjadikan pasangan tersebut layak untuk disaksikan. (Ant)