5 Ganda Putra Terbaik Dunia Satu Dekade Terakhir Versi Panelis BWF, 2 di Antaranya Berasal dari Indonesia

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Jakarta - Cara fans memandang pertandingan sektor ganda putra bulutangkis pada satu dekade terakhir bisa dibilang telah berubah, utamanya di Indonesia.

Sebagai negara yang memandang bulutangkis sebagai salah satu olahraga terpopuler, sektor tunggal sempat menjadi primadona. Namun kini telah berubah.

Ganda putra dengan permainan yang menyajikan banyak aksi menarik seperti smash kencang sangat digemari. Seiring itu pula, begitu banyak pemain dari sektor ganda putra yang sukses menarik perhatian.

Untuk hal di atas, Indonesia bahkan memiliki beberapa ganda putra yang bisa menunjukkan prestasi fantastis. Sebut saja pasangan senior Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan dan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon.

Channel Youtube BWF TV pun merilis daftar lima pasang ganda putra terbaik pada kurun waktu satu dekade terakhir. Tidak mengejutkan Ahsan/Hendra dan Kevin/Marcus masuk daftar ini.

Bola.com pun merangkum lima pasangan ganda putra tersebut beserta komentar dari panelis yang dipilih oleh BWF. Yuk scroll ke bawah untuk mengetahui siapa saja mereka.

1. Cai Yun / Fu Haifeng (China)

Fu Haifeng. (AFP/Claus Fisker))
Fu Haifeng. (AFP/Claus Fisker))

Pasangan China yang sangat menakutkan dan juga pernah berada di posisi satu dunia. Cai Yun/Fu Haifeng menyabet banyak gelar. Satu paling prestisius adalah medali emas Olimpiade 2012 di London.

Rexy Mainaky, legenda bulutangkis Indonesia untuk sektor ganda putra secara khusus memuji penampilan Fu Haifeng. "Fu Haifeng adalah silent killer," kata Rexy.

"Tidak pernah bicara, tidak pernah tersenyum. Jika punya kesempatan, bang, finis. Dia pemain dengan smash luar biasa. Tidak ada yang bisa menahannya," lanjutnya.

2. Mohammad Ahsan / Hendra Setiawan (Indonesia)

Ganda putra Indonesia, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, saat menghadapi Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, pada laga Indonesia Masters 2020 di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (18/1). Ahsan/Hendra menang tiga gim dengan skor 21-12, 18-21, dan 21-17. (Bola.com/Yoppy Renato)
Ganda putra Indonesia, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, saat menghadapi Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, pada laga Indonesia Masters 2020 di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (18/1). Ahsan/Hendra menang tiga gim dengan skor 21-12, 18-21, dan 21-17. (Bola.com/Yoppy Renato)

Tua-tua keladi adalah sebutan yang layak untuk duet ganda putra asal Indonesia, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan. Tentu sangat banyak gelar prestisius yang pernah diraihnya.

Yang membuat The Daddies-julukan pasangan Ahsan/Hendra banyak dipuji adalah kemampuan keduanya bisa tetap kompetitif di usia tidak lagi muda.

Pemain ganda putra Denmark, Kim Asturp pun merasa kagum dengan penampilan Hendra Setiawan. "Satu hal yang saya kagum dari Hendra Setiawan adalah ketenangannya. Caranya melihat permainan sangat luar biasa. Dia seperti tahu ke mana arah shuttlecock," pujinya.

3. Marcus Fernaldi Gideon / Kevin Sanjaya Sukamuljo (Indonesia)

Ganda putra Indonesia, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, berhasil mengalahkan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan pada laga final Daihatsu Indonesia Masters 2020, di Istora Senayan, Minggu (19/1/2020). (Bola.com/Muhammad Iqbal Ichsan)
Ganda putra Indonesia, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, berhasil mengalahkan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan pada laga final Daihatsu Indonesia Masters 2020, di Istora Senayan, Minggu (19/1/2020). (Bola.com/Muhammad Iqbal Ichsan)

Indonesia tidak perlu khawatir jika Ahsan/Hendra pensiun kelak. Karena kini sudah penerusnya yang tidak kalah hebat di dalam diri Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo.

Marcus/Kevin bisa dibilang pasangan yang komplet. Bukan hanya hebat, keduanya juga kerap memberikan penampilan menghibur untuk penonton. Bahkan Kim Asturp yang notabene lawan mengakui kehebatan kedua pemain ini.

"Saya pikir Marcus/Kevin telah menaikkan level permainan ganda putra dengan bagaimana cara mereka bermain. Sangat cepat," ujarnya.

"Kevin punya kemampuan hebat. Marcus bekerja sangat keras di belakang. Keduanya merupakan salah satu pasangan terbaik yang pernah ada," lanjutnya.

4. Mathias Boe/Carsten Mogensen (Denmark)

Pasangan Denmark, Mathias Boe/Carsten Mogensen, berusaha mengembalikan kok. Pasangan Denmark tersebut tampil menekan di gim tiga. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)
Pasangan Denmark, Mathias Boe/Carsten Mogensen, berusaha mengembalikan kok. Pasangan Denmark tersebut tampil menekan di gim tiga. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Salah satu pasangan yang paling awet duet bersama. Keduanya menjalin kolaborasi selama 15 tahun dan baru dipisahkan setelah All England 2019.

Keduanya juga meraih banyak gelar prestisius. Di antaranya tiga tahun berturut-turut juara World Superseries Finals periode 2010-2012.

"Keduanya merupakan pemain yang sangat hebat. Mereka bisa bermain sangat cepat dan mengkombinasikannya dengan baik. Carsten adalah pembunuh, utamanya melalui smash-nya yang begitu sulit ditaklukkan," Rexy Mainaky memberikan komentar.

5. Lee Yong Dae / Yoo Yeon Seong (Korea Selatan)

Lee Yong-dae yang memiliki paras tampan itu memang menjadi pusat perhatian dari para penggemar bulutangkis yang menyaksikan BCA Indonesia Open 2016 terutama bagi para kaum hawa. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)
Lee Yong-dae yang memiliki paras tampan itu memang menjadi pusat perhatian dari para penggemar bulutangkis yang menyaksikan BCA Indonesia Open 2016 terutama bagi para kaum hawa. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Salah pasangan ganda putra non Indonesia yang memiliki banyak fans di Tanah Air. Ya keduanya adalah Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong.

Duet ini juga pernah menempati posisi satu dunia. Konsistensi jadi nilai plus dari pasangan ini menurut Gill Clark MBE yang notabene eks pebulutangkis asal Inggris.

"Mereka pernah menempati posisi satu dunia dan memenangkan medali perak Kejuaraan Dunia. Keduanya mengikuti 42 turnamen, masuk ke final sebanyak 25 kali dan menjadi juara 20 juara. Itu artinya hampir setengah dari keduanya tampil bersama," Gill Clark menuturkan.

Sumber: BWF

Saksikan Video Pilihan Kami: