5 Gejala COVID-19 Pada Anak dan Perbedaannya dengan Dewasa

·Bacaan 1 menit

VIVA – Penelitian menunjukkan bahwa gejala COVID-19 yang harus diwaspadai pada anak-anak berbeda dengan orang dewasa.

Anak-anak masih bisa terinfeksi COVID-19 dan menjadi sakit, tapi sangat jarang menjadi sakit parah. Tapi, anak-anak juga masih bisa menjadi carrier COVID-19, menularkan virus di antara mereka dan ke keluarga yang berisiko mengalami keparahan.

Selain itu, anak-anak yang positif COVID-19 biasanya tidak melaporkan gejala klasik seperti orang dewasa, demikian menurut data dari aplikasi ZOE Covid Symptom Tracker.

Setidaknya setengah dari anak-anak usia sekolah yang positif COVID-19 tidak mengalami gejala klasik orang dewasa menurut aplikasi itu. Tapi, NHS menyatakan bahwa tiga gejala utama COVID-19 pada dewasa dan anak-anak adalah batuk terus menerus, suhu tinggi dan kehilangan indra perasa dan bau.

Gejala tersebut sudah masuk ke dalam daftar sejak Mei 2020 dan menjadi syarat untuk melakukan tes.

Tapi, penelitian oleh ZOE menemukan bahwa sedikitnya setengah dari anak-anak usia sekolah yang positif tidak memiliki tiga gejala tersebut.

Selain itu, sepertiga anak-anak tidak pernah tercatat mengalami 20 gejala yang terdaftar di dalam aplikasi. Ini artinya mereka bisa memiliki gejala tertentu atau tidak sama sekali (dan hasil tes positif melalui skrining).

Dikutip laman The Sun, para ahli mengatakan bahwa orang tua harus mewaspadai gejala-gejala berikut pada anak-anak mereka.

1. Kelelahan (55 persen)
2. Sakit kepala (53 persen)
3. Demam (49 persen)
4. Radang tenggorokan (38 persen)
5. Kehilangan nafsu makan (35 persen).

Riset tersebut juga menunjukkan bahwa 15 persen anak-anak yang dites positif mengalami ruam kulit yang tidak biasa.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel