5 Gejala COVID-19 yang Terkait dengan Kebiasaan Makan

Donny Adhiyasa, Sumiyati
·Bacaan 2 menit

VIVA – Infeksi virus corona atau COVID-19 menunjukkan beberapa gejala khas, seperti batuk kering, demam dan menggigil, layaknya virus pernapasan. Selain itu, ada juga beberapa gejala lain yang dapat mengganggu pasiennya.

Tetapi ternyata, infeksi COVID-19 juga dikaitkan dengan pola dan kebiasaan makan, yang umum terjadi pada infeksi virus. Berikut beberapa gejala terkait kebiasaan makan, yang dilaporkan pasien COVID-19, dilansir Times of India.

Sakit perut
Menurut tinjauan yang dilakukan oleh tiga rumah sakit di China, 1 dari setiap 5 pasien COVID-19 melaporkan menderita gejala gastrointestinal termasuk muntah, diare dan sakit perut.

Meskipun gejalanya tidak berarti kamu dipastikan mengidap COVID-19, sebaiknya gunakan kamar mandi terpisah sampai hasil tes keluar.

Perlu dicatat juga bahwa menurut data statistik, orang dengan gejala gastrointestinal mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk membersihkan virus dari tubuh, dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki gejala ini.

Kehilangan nafsu makan
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di China, diamati bahwa lebih dari 80 persen pasien COVID-19, dilaporkan tidak nafsu makan beberapa hari setelah terinfeksi.

Efek samping lain yang diamati adalah penurunan berat badan dan metabolisme memburuk, yang disebabkan karena kebiasaan makan yang buruk.

Mual
Sama seperti diare dan kehilangan nafsu makan, mual bukanlah gejala COVID-19 umum, tetapi gejala yang baru-baru ini terjadi. Sebuah studi yang dilakukan pada 138 pasien di Wuhan, menemukan bahwa 10 persen orang mengalami mual dan diare, dua hari sebelum demam.

Jadi jika kamu merasa mual, diare, dan kontak dengan seseorang yang dinyatakan positif COVID-19, sebaiknya hubungi dokter.

Sakit tenggorokan
Sakit tenggorokan dapat dengan mudah disalahartikan sebagai alergi, seperti pilek dan flu. Begitupun dengan COVID-19, yang salah satunya ditandai dengan gejala ini.

Sebagaimana diketahui, sakit tenggorokan juga bisa membuat seseorang sulit untuk mengonsumsi makanan dan minuman, yang dapat mengiritasi atau menyebabkan rasa sakit saat makan.

Kehilangan indra penciuman dan perasa
Hilangnya indra penciuman dan perasa atau anosmia, sudah diakui sebagai salah satu gejala COVID-19 yang paling umum. Gejala ini bisa berkembang antara 2-14 hari setelah terpapar COVID-19.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), anosmia bukan gejala mengkhawatirkan. Namun, gejala ini bisa memakan waktu lama untuk pulih dan mengganggu pasien secara psikologis, karena tidak ada obat untuk menyembuhkannya.