5 Hal Terkait Kondisi Sampah di TPST Bantargebang yang Nyaris Overload

·Bacaan 3 menit
TPST Bantargebang.

Liputan6.com, Jakarta Kondisi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi saat ini dinilai mengkhawatirkan lantaran nyaris kelebihan kapasitas (overload).

Tumpukan sampah yang kian menggunung diperkirakan sudah mencapai lebih dari 40 meter, dari ketinggian maksimal 50 meter.

Sementara itu, salah satu warga setempat mengaku, tidak adanya pembaharuan lahan akibat keterbatasan merupakan penyebab volume sampah di TPST Bantargebang terus meninggi.

"Belum ada pembukaan lahan (baru), karena kan ini nggak ada lahan lagi, jadi (sampah) ya dibuang ke atas terus," kata Nur Hidayat, warga sekitar, Kamis, 16 September 2021.

Meski mengaku khawatir, Nur mengaku dirinya tak bisa berbuat banyak untuk mengantisipasi apabila terjadi longsor di tempat tinggalnya tersebut.

"Ya mau gimana lagi, wong keadaannya begitu," ujarnya.

Sementara itu Kepala Satuan Pelaksana TPST Bantargebang UPST DKI Jakarta, Handoko Raitno menyatakan, pihaknya akan melakukan sejumlah upaya untuk menanggulangi masalah tersebut.

Berikut sederet hal terkait kondisi sampah TPST Bantargebang yang kini nyaris overload dihimpun Liputan6.com:

1. Telah Capai Ketinggian Maksimal

Kondisi sampah di TPST Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, nyaris kelebihan kapasitas. Saat ini gunungan sampah milik Pemprov DKI Jakarta itu disebutkan sudah mencapai lebih dari empat puluh meter, dari ketinggian maksimal lima puluh meter.

Meski demikian, puluhan alat berat masih dioperasikan pekerja untuk menata sampah-sampah yang terus berdatangan. Sejumlah pemulung juga masih tetap beraktivitas seperti biasa, tanpa khawatir bahaya longsor yang mengancam keselamatan.

2. Keterbatasan Lahan

Kepala Satuan Pelaksana TPST Bantargebang Unit Pengelolaan Sampah Terpadu (UPST) DKI Jakarta, Handoko Raitno, saat dikonfirmasi mengatakan kondisi sampah yang nyaris overload disebabkan keterbatasan lahan.

Ia berujar, dalam sehari ada sekitar 7.000-7.500 ton sampah milik warga DKI Jakarta yang dibuang ke TPST Bantargebang. Seluruh sampah berasal dari lima wilayah, yaitu Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Utara, termasuk Kepulauan Seribu.

"Kita ada empat zona. Kalau berdasarkan kajian di tahun 2019, ketinggian maksimal itu kurang lebih 50 meter. Itu 2019, sekarang 2021 memang. Kemungkinan ketinggian yang 50 meter itu, ya sudah over lah, atau sudah terlampaui," ucap Handoko.

3. Upaya Pembuatan Terasering Sampah

Terkait hal ini, pihaknya terus berupaya mengendalikan gunungan sampah dengan melakukan perapihan untuk setiap zona setiap harinya. Di antaranya pembuatan terasering atau undukan untuk menghindari terjadinya longsor.

Solusi lainnya, kata dia, juga dilakukan Pemprov DKI Jakarta dengan membangun Fasilitas Pengolahan Sampah Antara (FPSA) atau Intermediate Treatment Facility (ITF), yang dapat mengolah sampah hingga 2.000 ton per hari.

"Jadi langkah itu yang kita terapkan sembari menunggu dibangunnya ITF di Jakarta. Rencana kalau tidak salah ada tiga sampai empat titik. Tapi yang sudah diklaim itu di Sunter," paparnya.

4. Jalin Koordinasi

Dan untuk mengantisipasi keselamatan pemulung di sekitaran TPST, Handoko menegaskan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Ikatan Pemulung Indonesia (IPI). Pemulung diimbau untuk menjaga jarak dari alat berat yang sedang beroperasi.

"Kita tetap khawatir terjadinya pergeseran, jadi kami koordinasi hal-hal apa yang setidaknya tidak membahayakan teman-teman pemulung. Salah satunya jaga jarak. Hindari daerah-daerah yang sekiranya rawan bahaya, contohnya dorongan-dorongan sampah yang setelah ditempatkan di permukaan itu, mereka harus hindari, jangan di sekitar itu lah," tandasnya.

5. Akan Dilakukan Evaluasi

Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi menanggapi kondisi sampah di TPST Bantargebang yang nyaris kelebihan kapasitas. Dia mengaku sedang melakukan evaluasi terkait kerja sama pengelolaan sampah dengan Pemprov DKI Jakarta.

"Kita lagi bersama sekarang membahas tentang perjanjian kerjasamanya, kan itu setiap lima tahun sekali dievaluasi. Bulan Oktober kalau nggak salah habis ya," kata Rahmat Effendi kepada awak media, Jumat (17/9/2021).

Dalam evaluasi tersebut, pria yang kerap disapa Pepen ini menyebutkan, keinginan untuk adanya pengolahan sampah yang menghasilkan energi terbarukan, untuk mengurangi deposit sampah.

"Kita ingin seperti lima tahun yang lalu, harus ada tempat pembuangan sampah terpadu yang menggunakan energi terbarukan. Ya itu menjadi listrik, bahan briket batubara, supaya mengurangi deposit," paparnya.

Deni Koesnaedi

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel