5 Januari 1762: Kematian Tsarina Elizabeth, Pemimpin Sensasional di Rusia

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Moskow - Elizabeth Petrovna (Yelisaveta) merupakan salah satu wanita yang pernah menjadi tsarina di Rusia. Ia meraih puncak kekuasaan usai drama politik usai kematian ayahnya: Tsar Peter yang Agung.

Wanita itu memerintah dengan gemilang selama 20 tahun hingga kematiannya pada 5 Januari 1962.

Nama Elizabeth Petrovna mungkin tak seterkenal nama penerusnya, Catherine yang Agung. Akan tetapi, Elizabeth memiliki peran sebagai mentor Catherine.

Lahir di Moskow, 29 Desember 1709, Tsarina Elizabeth dikenal sebagai pemimpin yang flamboyan, meski terkadang sifatnya labil.

Menurut buku Catherine the Great - Portrait of a Woman tulisan Robert K. Massie, sejak muda Elizabeth memang terkenal cantik, apalagi statusnya adalah cucu Tsar Peter.

Alhasil, ia menjadi populer di lingkungan istana, bahkan mengalahkan sepupunya, Tsarina Anna Ivanovna.

Selama berkuasa, Elizabeth memiliki reputasi yang cemerlang di bidang seni dan politik. Ia terkenal suka fashion, tetapi juga berani mengirim pasukan untuk melawan Kaisar Prusia, Frederik yang Agung.

Akan tetapi, salah satu misi utamanya adalah mendidik Putri Sophia (Catherine) yang direncanakan akan dikawinkan dengan keponakannya, Peter III. Elizabeth ingin agar garis keturunan Tsar Peter terus berjalan, sehingga ia sangat protektif terhadap Peter dan Sophia.

Elizabeth terbilang dermawan kepada Sophia, tetapi terkadang ia sangat tegas. Kemampuan Catherine di dunia politik tidak terlepas dari intrik politik yang ia saksikan di istana ketika Elizabeth berkuasa.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Dari Kakek, Ibu, Keponakan, dan Sepupu

Wartawan menyaksikan kembang api meledak di atas Katedral St. Basil dan Kremlin dengan Menara Spasskaya di Lapangan Merah yang kosong karena pembatasan pandemi COVID-19 saat perayaan Tahun Baru di Moskow, Rusia, Sabtu (1/1/2022). (AP Photo/Alexander Zemlianichenko Jr)
Wartawan menyaksikan kembang api meledak di atas Katedral St. Basil dan Kremlin dengan Menara Spasskaya di Lapangan Merah yang kosong karena pembatasan pandemi COVID-19 saat perayaan Tahun Baru di Moskow, Rusia, Sabtu (1/1/2022). (AP Photo/Alexander Zemlianichenko Jr)

Ketika Tsar Peter yang Agung meninggal pada 1725, Kekaisaran Rusia jatuh ke dalam drama politik dan keluarga yang berkepanjangan. Takhta kaisar bahkan sempat dipegang anak bayi.

Adipati Agung Alexei Petrovich keburu meninggal sebelum naik takhta, alhasil kekuasaan jatuh kepada Catherine I (Yekaterina) yang merupakan janda dari Tsar Peter dan ibu dari Elizabeth.

Baru dua tahun berkuasa, Catherine I mangkat, sehingga kekuasaan beralih ke cucu Tsar Peter, yakni Peter II (Pyotr). Usia Peter waktu itu masih remaja dan meninggal pada usia 19 tahun.

Berikutnya, kekuasaan jatuh ke tangan Tsarina Anna, sepupu dari Elizabeth. Kekuasaan Anna berlangsung selama 10 tahun hingga ia meninggal di 1740. Kekuasaan jatuh ke keponakan Anna yang masih bayi, yaitu Ivan VI.

Di sinilah Elizabeth mengambil langkah dan melancarkan kudeta. Ia dengan mulus merebut kekuasaan dan Ivan VI yang masih bayi dikurung di penjara.

Meski Elizabeth mencatat kesan positif selama berkuasa, nasib Ivan VI terbilang menjadi catatan kelam di rekam jejak Elizabeth. Ivan VI dipenjara hingga usianya 23 tahun. Seumur hidupnya ia tidak pernah merasakan kebebasan.

Ivan IV akhirnya dibunuh setelah Elizabeth meninggal. Salah satu teorinya adalah Ivan VI dikhawatirkan menjadi alat merebut kekuasaan dari Catherine yang baru berkuasa.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel