5 Keterampilan Hidup Dasar yang Harus Diajarkan Orangtua pada Anak Sejak Dini

·Bacaan 4 menit

Fimela.com, Jakarta Sejak kecil, seorang anak pastinya akan diajarkan keterampilan-keterampilan hidup dasar (basic life skills) oleh orangtuanya. Hal ini dikarenakan keterampilan hidup dasar ini akan berguna bagi kehidupan si anak di masa yang akan datang.

Keterampilan hidup berjalan seiring dengan perkembangan, dan dapat membantu anak menjadi sukses di kemudian hari. Jika seorang anak mampu menguasai dan selalu mengaplikasikan keterampilan hidup dalam rutinitas sehari-harinya, maka dapat dipastikan ia akan sukses di semua aspek kehidupan, termasuk sekolah, hubungan, bahkan pekerjaan.

TERKAIT: Pastikan Anak Siap Sekolah dengan Memperhatikan Usia Ideal dan Indikator Kesiapannya

TERKAIT: Jangan Dipaksa, Ini Usia Ideal Anak Belajar Membaca dan Hal yang Perlu Diajarkan Orangtua

TERKAIT: 6 Dampak Buruk Psikologis yang akan Terjadi jika Orangtua Sering Membandingkan Anak

Maka dari itu, penting bagi orangtua untuk bisa mengajari dasar-dasar hidup tersebut, dari keterampilan hidup pada anak sejak dini agar mereka bisa tumbuh dengan maksimal dan bisa sukses dalam segala aspek kehidupan yang nantinya akan memudahkan mereka dalam menjalani hidup. Dalam hal ini, anak jadi tahu bagaimana cara memecahkan masalah, menjadi kreatif, bekerja sama, dan berkomunikasi dengan baik.

Dalam buku “Mind the Making” yang ditulis oleh Psikolog anak Ellen Galinsky, terdapat 5 keterampilan hidup dasar yang harus diajari orangtua sejak dini. Orangtua juga dapat mengajarkan 5 keterampilan dasar ini melalui aktivitas dan permainan yang bisa membuat anak-anak enjoy ketika melakukannya. Apa saja 5 keterampilan dasar tersebut? Simak ulasan selengkapnya di bawah ini.

Problem-solving

Mengajarkan anak keterampilan problem solving (Montenegro/Shutterstock)
Mengajarkan anak keterampilan problem solving (Montenegro/Shutterstock)

Kemampuan memecahkan masalah atau problem-solving sangat diperlukan sejak dini dan perlu diajarkan secara konsisten agar si kecil bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini juga ia butuhkan untuk maju dalam dunia yang kompetitif, sehingga dirinya mampu mengamati, menganalisis, dan menemukan solusi cerdas untuk dilema yang kompleks.

Dilansir dari scholastic.com, untuk sampai ke sana, anak perlu belajar mengajukan pertanyaan seperti “mengapa?” dan “bagaimana jika?” dalam memikirkan semua sisi dari suatu masalah, sehingga nantinya dirinya bisa memecahkan setiap permasalahan yang ia hadapi dalam kehidupan sehari-harinya.

Fokus dan kontrol diri

Mengajarkan anak untuk fokus dan bisa mengontrol diri (Foto: unsplash/Leo Rivas)
Mengajarkan anak untuk fokus dan bisa mengontrol diri (Foto: unsplash/Leo Rivas)

Anak-anak berkembang dengan jadwal, kebiasaan, dan rutinitas, yang tidak hanya menciptakan rasa aman, tetapi hal ini juga membantu anak-anak belajar mengendalikan diri dan fokus.

Kamu perlu membicarakan hal ini dengan sang anak tentang apa yang kamu harapkan darinya setiap hari. Atur rumahmu sehingga anak-anak tahu di mana harus meletakkan sepatu, mantel, dan barang-barang pribadinya. Dilansir dari Bright Horizons pada Sabtu (4/9), aktivitas yang tenang seperti membaca buku, menikmati aktivitas sensorik, ataupun menyelesaikan teka-teki bersama dapat membantu anak menjadi fokus dan akhirnya dapat mengontrol dirinya sendiri.

Komunikasi

Keterampilan komunikasi sangat penting bagi perkembangan anak (Foto: unsplash/Vitolda Klein)
Keterampilan komunikasi sangat penting bagi perkembangan anak (Foto: unsplash/Vitolda Klein)

Anak-anak membutuhkan interaksi pribadi sesering mungkin untuk membangun keterampilan sosial-emosional yang sehat, termasuk kemampuan untuk memahami dan berkomunikasi dengan orang lain. Sementara kecepatan mereka mengembangkan keterampilan ini dapat bervariasi, anak-anak perlu belajar bagaimana “membaca” isyarat sosial dan mendengarkan dengan cermat.

Mereka harus mempertimbangkan apa yang ingin mereka katakan, sekaligus mereka juga harus memikirkan cara apa yang paling efektif untuk berkomunikasi dengan orang lain. Hanya berbicara dengan orang dewasa yang tertarik berkomunikasi dengannya, dpat membantu anak membangun keterampilan ini.

Sebagai orangtua, luangkan waktumu setiap harinya untuk mendengarkan dan menanggapi anak ketika mereka berbicara, ya.

Berpikir kritis

Mengajari anak berpikir kritis (Foto: unsplash/Sigmund)
Mengajari anak berpikir kritis (Foto: unsplash/Sigmund)

Kita hidup di dunia yang kompleks, di mana orang dewasa dituntut untuk menganalisis informasi dan membuat keputusan tentang banyak hal setiap harinya. Salah satu cara terbaik untuk membangun pemikiran kritis adalah melalui permainan yang terbuka.

Pastikan anak memiliki waktu setiap hari untuk bermain sendiri ataupun bersama teman-temannya. Permainan ini termasuk seperti bermain drama dan mengambil peran (seperti berpura-pura menjadi pemadam kebakaran atau pahlawan super), membangun struktur, bermain board games, atau bermain di luar permainan fisik seperti petak umpet.

Dengan melakukan permainan-permainan berikut, anak-anak akan mampu merumuskan hipotesis, mengambil risiko, mencoba ide-ide mereka, membuat kesalahan, hingga akhirnya mampu menemukan solusinya. Hal inilah yang mampu membangun pemikiran kritis pada anak.

Keberanian mengambil tantangan

Ilustrasi anak berani mengambil tantangan (Foto: unsplash/Anna Samoylova)
Ilustrasi anak berani mengambil tantangan (Foto: unsplash/Anna Samoylova)

Kemampuan dalam menghadapi tantangan, bangkit kembali dari kegagalan, dan memiliki kemampuan untuk terus berusaha adalah salah hal-hal terpenting yang harus dimiliki dalam hidup. Dalam hal ini, setiap anak jadi memiliki ketahanan dalam dirinya sendiri.

Anak-anak belajar menghadapi tantangan ketika orangtuanya menciptakan lingkungan dengan jumlah struktur yang tepat. Bukan untuk membatasi, tetapi cukup untuk membuat mereka merasa aman. Dorong anak untuk mencoba hal-hal baru, dan biarkan mereka menghadapi risiko yang wajar, seperti memanjat pohon, atau mengendarai sepeda.

Tawarkan tantangan baru ketika dia tampak siap, misalnya dalam mengikat tali sepatunya atau memakai bajunya sendiri. Setelah itu, orangtua perlu fokus pada upaya daripada pencapaiannya. Misalnya seperti, “belajar mengikat sepatu memang sangat sulit, tapi kamu terus berusaha. Bagus sekali. Tak apa-apa, coba lagi nanti, ya!”

Dengan mengikuti kelima tips sederhana ini, kamu dapat dengan mudah membantu anak dalam membangun keterampilan hidup dasar yang nantinya berguna dalam kehidupannya di masa yang akan datang.

*Penulis: Chrisstella Efivania.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel