5 Kisah Perjuangan Pelajar Menuntut Ilmu ke Sekolah Sampai Bertaruh Nyawa

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kemudahan untuk menuntut ilmu nyatanya belum merata di Indonesia. Berbeda dengan pelajar di perkotaan yang mendapat kemudahan akses transportasi, para siswa dan siswi di pelosok Indonesia masih bersusah payah untuk pergi ke sekolah.

Tak jarang, mereka harus bertaruh nyawa demi menuntut ilmu. Hal ini dikarenakan akses dari rumah tinggal mereka ke lokasi sekolah belum memadai.

Beberapa pelajar di pelosok ada yang harus melewati jembatan yang rusak dan hampir roboh atau menyebrangi sungai yang deras. Bahkan, saat ini sulitnya akses dan transportasi bukan satu-satunya masalah bagi pelajar.

Seperti yang belum lama ini viral, tiga anak laki-laki menyeberangi sungai dengan tak lazim sepulang sekolah.

Bagaimana tidak, ketiga anak SD tersebut menggunakan boks styrofoam bekas tempat ikan untuk menyeberang sungai.

Berdasarkan perekam unggahan yang viral di media sosial tersebut, mereka berada di Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatera Selatan.

Tak hanya terkendala masalah transportasi, ada juga sebagian mereka yang mengeluh soal sulitnya jaringan internet untuk mengikuti pembelajaran daring di masa pandemi Covid-19.

Liputan6.com mencoba merangkum beberapa kisah perjuangan para pelajar Indonesia demi menuntut ilmu ke sekolah. Berikut kisahnya:

1. Sebrangi Sungai dengan Seutas Tali

Atlet olahraga ekstrem Andi Ardi berjalan di atas tali di ketinggian 740 meter (2.427 kaki) di Gunung Nglanggeran di Yogyakarta (9/9/2019). Ardi melakukan aksi tersebut sebagai bagian dari kampanye pariwisata untuk mempromosikan tempat yang indah. (AFP Photo/Agung Supriyanto)
Atlet olahraga ekstrem Andi Ardi berjalan di atas tali di ketinggian 740 meter (2.427 kaki) di Gunung Nglanggeran di Yogyakarta (9/9/2019). Ardi melakukan aksi tersebut sebagai bagian dari kampanye pariwisata untuk mempromosikan tempat yang indah. (AFP Photo/Agung Supriyanto)

Pada Maret 2015 lalu, beredar sebuah video yang memperlihatkan video perjuangan anak-anak SD. yang harus menyeberangi sungai. Bukan menggunakan jembatan, tetapi hanya menggunakan seutas tambang.

Empat bocah SD tersebut harus bergelayutan tanpa alas kaki di atas seutas tambang yang diikatkan pada pohon di seberang sungai.

Di bawahnya, aliran sungai deras siap melibas keempat bocah tersebut bila salah langkah atau terlepas pegangan tali.

2. Pelajar Bertaruh Nyawa Seberang Sungai

Pekerja menarik perahu eretan berisi kendaraan menyebrangi Sungai Citarum di Muara Gembong, Bekasi, Rabu, (29/7/2015). Kendaraan yang menyebrang menggunakan perahu eretan dikenakan biaya Rp.20.000 bagi mobil dan Rp 2.000 motor. (Liputan6.com/Johan Tallo)
Pekerja menarik perahu eretan berisi kendaraan menyebrangi Sungai Citarum di Muara Gembong, Bekasi, Rabu, (29/7/2015). Kendaraan yang menyebrang menggunakan perahu eretan dikenakan biaya Rp.20.000 bagi mobil dan Rp 2.000 motor. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Para pelajar SMP di Desa Tobo, Werinama, Maluku harus bertaruh nyawa dengan menyeberangi sungai deras demi ke sekolah.

Berdasarkan video yang diunggah Liputan6.com pada Juli 2020, terdapat empat pelajar yang hendak pergi ke sekolah.

Untuk pergi ke sekolah, mereka harus menyebrang ke desa sebelah yang dipisahkan dengan sungai. Namun, tidak ada jembatan yang menyambungkan antar desa tersebut.

Sehingga, para pelajar tersebut mau tak mau harus menyebrangi sungai tersebut. Memang airnya tak setinggi dibayangkan, namun mereka harus tetap melawan derasnya arus air sungai. Bahkan, saat menyebrang, ada pelajar yang hampir terbawa arus sungai.

3. Mendaki Bukit agar Bisa Belajar Daring

Siswa SD Daki Bukit Agar Bisa Belajar Online: Siswa SD mencari sinyal internet sebelum mengikuti pembelajaran online menggunakan smartphone di bukit Temulawak, Yogyakarta, Jumat (8/5/2020). Mereka ke atas bukit mendapat sinyal agar kegiatan secara online dapat berlangsung. (AGUNG SUPRIYANTO/AFP)
Siswa SD Daki Bukit Agar Bisa Belajar Online: Siswa SD mencari sinyal internet sebelum mengikuti pembelajaran online menggunakan smartphone di bukit Temulawak, Yogyakarta, Jumat (8/5/2020). Mereka ke atas bukit mendapat sinyal agar kegiatan secara online dapat berlangsung. (AGUNG SUPRIYANTO/AFP)

Sejumlah sekolah menerapkan pembelajaran daring atau online, menyusul pandemi Covid-19 yang masuk Indonesia pada awal 2020.

Sayangnya, konsep pembelajaran daring tersebut masih sulit dilakukan di daerah-daerah pelosok karena tak ada sinyal untuk mengakses.

Di Nagari (desa adat) Pasia Laweh Kecamatan Palupuh, Agam Sumatera Barat, sejumlah siswa SMP, MTs, dan SMA terpaksa mencari sinyal seluler ke tempat yang lebih tinggi guna mendukung proses belajar mengajar secara daring. Sebab daerah ini tidak ada sinyal seluler sama sekali.

Siswa yang belajar secara daring harus ke lokasi yang jauh dari rumah penduduk dan itu pun pada waktu tertentu. Kemudian juga tidak semua provider seluler yang tersedia.

Salah seorang siswa SMA Negeri 1 Palupuh Solia kepada Liputan6.com, Senin 3 Agustus 2020 mengaku terkendala dalam mengikuti pelajaran sekolah setiap hari karena tidak ada sinyal di kampungnya.

Keadaan seperti ini sudah dijalaninya sejak kebijakan pemerintah mengalihkan proses belajar mengajar tatap muka ke rumah akibat pandemi Covid-19.

"Iya hampir setiap hari selama hari sekolah kami pergi ke perbukitan ini, supaya dapat sinyal," kata Solia.

4. Lintasi 2 Negara untuk Sekolah

Arus kendaraan melintasi kawasan perkantoran di Jalan Sudirman, Jakarta, Kamis (26/8/2021). Menteri Keuangan menyebutkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencapai Rp336,9 triliun atau 2,04 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada akhir Juli 2021 (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)
Arus kendaraan melintasi kawasan perkantoran di Jalan Sudirman, Jakarta, Kamis (26/8/2021). Menteri Keuangan menyebutkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencapai Rp336,9 triliun atau 2,04 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada akhir Juli 2021 (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Seorang pelajar SD bernama Nuraska harus melintasi dua negara demi mendapat pendidikan. Hal tersebut lantaran dirinya tinggal di perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia.

Setiap harinya, Nuraska harus melewati kantor imigrasi untuk dilakukan pemeriksaan agar bisa masuk ke Indonesia.

Dia tinggal di Tebedu, Malaysia. Untuk bersekolah setiap harinya Nursaka diantar menggunakan motor.

Nursaka mengaku bahwa dirinya tak pernah lelah harus tiap hari mengurus berkas di Imigrasi tiap kali berangkat sekolah. Ia bahkan juga ingin tinggal di Indonesia.

"Enggak (capek), di Indonesia (ingin tinggal), karena bangga menjadi bangsa Indonesia," ungkap Saka sebagaimana berita yang tayang di Merdeka.com, Selasa 11 Mei 2021.

5. Anak SD Seberangi Sungai Pakai Boks Styorofoam Bekas

Video 3 anak SD menyeberangi Sungai Riding, Sumatera Selatan, viral. (Istimewa)
Video 3 anak SD menyeberangi Sungai Riding, Sumatera Selatan, viral. (Istimewa)

Belum lama ini, sebuah video memperlihatkan tiga anak laki-laki menyeberangi sungai sepulang sekolah dengan tak lazim.

Tiga anak berseragam Sekolah Dasar (SD) tersebut menggunakan box styrofoam bekas ikan untuk menyeberang sungai.

Box yang digunakan pun tak besar, cukup ditumpangi satu anak. Saat masuk dalam box tersebut setiap anak membawa potongan styrofoam yang digunakan sebagai dayung sebagai penahan arus sungai.

Berdasarkan unggahan yang viral di media sosial tersebut, Minggu (26/9/2021), disebutkan lokasinya berada di Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatera Selatan.

Dalam video tersebut juga tampak tak ada jembatan penghubung antara kedua wilayah pinggir sungai. Perekam video juga menyebutakan ketiga anak sekolah tersebut menyebrangi Sungai Riding dengan arus yang lumayan deras.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel