5 Kisah tentang Perempuan dan Keberanian dalam Membuat Pilihan Hidup

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Dalam hidup, kita akan selalu dihadapkan pada berbagai macam pilihan. Setiap pilihan yang kita ambil pasti akan disertai dengan sejumlah konsekuensi. Selain itu, selalu ada tanggung jawab yang hadir dari setiap pilihan yang kita buat.

Memang tak mudah untuk membuat sebuah pilihan. Apalagi jika pilihan yang kita ambil berbeda dari orang-orang di sekitar kita, rasanya ada beban yang makin berat yang harus kita pikul. Meskipun begitu, kita sebagai perempuan selalu punya hak untuk membuat pilihan dalam hidup.

1. Pilihan ketika Berumah Tangga

"Sekarang saya tidak terlalu memusingkan suara sumbang yang mengatakan bahwa perempuan yang telah menjadi sarjana ilmunya akan sia-sia jika hanya menjadi seorang ibu rumah tangga. Generasi manusia hebat adalah karya dari pendidikan keluarga yang sukses dari si ibu. Ibu berperan besar dalam pembentukan watak, karakter dan kepribadian anak-anaknya. Tak berhenti hanya dengan bekal seorang sarjana, tetapi saya akan terus menerus menimba ilmu, untuk membangun kecerdasan emosional dan spiritual anak-anak saya."

Selengkapnya: Perempuan, Pendidikan, dan Generasi Penerus yang Cerdas

2. Pilihan dalam Berkarier

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/xmee
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/xmee

"Keputusanku pindah ke Sungailiat Bangka membuat rekan-rekan kerjaku di Jakarta tercengang dan tidak mempercayai alasanku untuk meninggalkan karier yang sudah kubangun selama 7 tahun menjadi dosen di PTS Jakarta. Karierku bagus bahkan aku sering mendapat penghargaan sebagai dosen favorit dan dosen komunikatif karena kemampuanku memberi motivasi dan mengubah mindset mahasiswa bahwa kuliah bukan sekadar kuliah tetapi sebagai mahasiswa harus cerdas dan selalu membuka wawasan agar cakrawala berpikirnya terbuka."

Selengkapnya: Perempuan Hebat Selalu Tahu Cara Menjadi Pribadi Cerdas Bermanfaat

3. Pilihan dalam Pendidikan

Kalian perempuan istimewa./Copyright pexels.com/moose photos
Kalian perempuan istimewa./Copyright pexels.com/moose photos

"Saat itu ibu dan bapak memang tak pernah memaksa saya harus memilih jurusan apa. Saya memang tak ingin mengambil jurusan dengan banyak pertimbangan. Saya hanya mengambil jurusan sesuai dengan perkembangan nilai rapor saya karena yang terpenting adalah saya bisa kuliah di perguruan tinggi negeri dengan harapan biaya kuliah yang lebih ringan. Belum lagi sindiran-sindiran yang dilontarkan langsung kepada ibu perihal kemampuan finansialnya dalam pembiayaan kuliah: paling-paling bapak dan ibu hanya mampu membiayai kuliah anak pertamanya saja dan masih banyak cibiran-cibiran yang lain."

Selengkapnya: Apapun Pekerjaan Suami, Perempuan Tetap Perlu Mandiri dalam Hal Finansial

4. Pilihan dalam Melahirkan

Ilustrasi/copyright shutterstock.com/interstid
Ilustrasi/copyright shutterstock.com/interstid

"Pada akhirnya saya dan suami memilih untuk melahirkan di rumah. Ini tentu ada ceritanya sendiri. Tapi intinya, saya merasa bahwa pada akhirnya, semua wanita berhak untuk menentukan apa yang terbaik bagi dirinya dan janinnya. Apa yang ia rasakan dan apa yang ia inginkan, ini lah yang butuh untuk didengarkan. Bukan tergantung dokter, bukan tergantung bidan, orang tua, atau siapapun. Tapi bagaimana si Ibu bisa “peka” terhadap kemauan si bayi, dan didukung oleh suami. Ya iya dong, suami harus jadi pendukung nomor satu. Istilah kasarnya, ini bikinnya berdua kok pas melahirkan ditinggal, diserahkan ke orang lain."

Selengkapnya: Perempuan Juga Berhak Menentukan yang Terbaik bagi Dirinya dan Janinnya

5. Pilihan dalam Berdaya dan Memberikan yang Terbaik untuk Keluarga

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/d8nn
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/d8nn

"Di samping tugasku sebagai guru yang harus mengajar dan mendidik di beberapa sekolah, sepulang ke rumah aku harus berperan sebagai kepala rumah tangga. Tapi aku percaya dan yakin aku bisa melewatinya. Ibuku mengatakan padaku aku harus lebih baik daripadanya. Seiring berjalannya waktu, kehidupan keluarga kami kembali normal. Kondisi keuangan kami pun lebih stabil. Aku tak perlu lagi harus banting tulang mengajar di berbagai sekolah, memberikan bimbel, berjualan, menenun kain."

Selengkapnya: Perempuan Dilahirkan Istimewa dengan Tugas dan Tanggung Jawab Mulia

Semoga dari kisah-kisah di atas kita bisa mendapat inspirasi dan semangat baru dalam menjalani kehidupan yang lebih baik, ya.

#ElevateWomen