5 Langkah Pemerintah Cegah Masuknya Virus Corona Varian Baru ke Tanah Air

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Hingga di penghujung tahun 2020, kasus Covid-19 di Tanah Air dilaporkan telah menyentuh angka 700 ribu lebih pasien positif. Dan setiap harinya terus menunjukkan trend peningkatan.

Di saat gencarnya upaya pemerintah untuk mengatasi persoalan penyebaran virus mematikan asal Kota Wuhan, China tersebut, kini muncul varian baru virus Corona di Inggris yang disebut-sebut sebagai mutasi dari virus Corona.

Bahkan para ahli menyebut, varian baru dari virus Corona ini bisa jauh lebih menular dari virus biasa.

"Para ahli amat sangat yakin bahwa memang virus B117 amat sangat mudah menular, namun tidak lebih mematikan. Sekali lagi, tidak lebih mematikan," kata Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonedia (IDI), Zubairi, Selasa, 29 Desember 2020.

Tak hanya muncul di Inggris, varian baru virus tersebut kini bahkan telah menyasar ke sejumlah negara di Eropa, Kanada, dan Jepang. Bahkan negara tetangga Indonesia yaitu Singapura juga telah ikut terpapar.

Lantas, seperti apa upaya pemerintah guna mengantisipasi masuknya varian baru virus Corona ini ke Tanah Air?

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Menutup Pintu Masuk untuk WNA

Calon penumpang berjalan di Terminal 3 Bandara-Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (22/12/2019). Manajemen Bandara Soekarno-Hatta menyiapkan 478 pesawat ekstra untuk mengantisipasi lonjakan penumpang saat mudik libur Natal dan Tahun Baru. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Calon penumpang berjalan di Terminal 3 Bandara-Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (22/12/2019). Manajemen Bandara Soekarno-Hatta menyiapkan 478 pesawat ekstra untuk mengantisipasi lonjakan penumpang saat mudik libur Natal dan Tahun Baru. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno Marsudi, mengatakan, pemerintah telah memutuskan menutup sementara pintu masuk ke Indonesia guna mencegah penularan varian baru Virus Corona.

Penutupan sementara pintu masuk bagi warga negara asing (WNA) dari semua negara ke Indonesia berlaku mulai 1 hingga 14 Januari 2020.

"Saat ini telah muncul pemberitaan mengenai strain baru virus COVID-19, yang menurut data ilmiah memiliki tingkat penyebaran yang lebih cepat," Kata Retno Marsudi saat melakukan konferensi pers yang disiarkan di kanal Youtube Sekretariat Presiden pada Senin, 28 Desember 2020.

"Mensikapi hal tersebut, rapat kabinet terbatas tanggal 28 Desember 2020 memutuskan, untuk menutup sementara dari tanggal 1 sampai 14 Januari 2021, masuknya warga negara asing atau WNA dari semua negara ke Indonesia," Retno melanjutkan.

Menunjukkan Hasil Tes PCR Negara Asal yang Masih Berlaku

Calon penumpang menggunakan face shield di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (10/6/2020). PT Angkasa Pura II selaku pengelola mulai menjalankan skenario protokol penerapan tatanan normal baru. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Calon penumpang menggunakan face shield di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (10/6/2020). PT Angkasa Pura II selaku pengelola mulai menjalankan skenario protokol penerapan tatanan normal baru. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Sementara, bagi para WNA yang tiba di Indonesia pada Senin, 28 Desember sampai dengan 31 Desember 2020, Retno menekankan akan diberlakukan aturan sesuai ketentuan dalam adendum surat edaran Satgas Penanganan COVID-19 nomor 3 tahun 2020, yaitu:

(a) menunjukkan hasil negatif melalui tes rt-PCR di negara asal yang berlaku maksimal 2 kali 24 jam sebelum jam keberangkatan dan dilampirkan pada saat pemeriksaan kesehatan atau EHAC International-Indonesia.

(b) pada saat kedatangan di Indonesia melakukan pemeriksaan ulang rt-PCR dan apabila menunjukkan hasil negatif, maka WNA melakukan karantina wajib selama lima hari terhitung sejak tanggal kedatangan.

(c) setelah karantina lima hari melakukan pemeriksaan ulang rt-PCR dan apabila hasil negatif, maka pengunjung diperkenankan meneruskan perjalanan.

Dan, undang-undang nomor 6 tahun 2011 pasal 14, warga negara Indonesia tetap diizinkan kembali ke Indonesia sesuai dengan ketentuan adandeum surat edaran yang sama, yaitu menunjukkan hasil negatif melalui rt-PCR di negara asal yang berlaku maksimal 2 kali 24 jam sebelum jam keberangkatan dan dilampirkan pada saat pemeriksaan kesehatan.

Syarat lain yang diperuntukkan bagi WNA juga diberlakukan untuk WNI yang akan kembali ke Indonesia.

Mendeteksi para Pendatang Terutama dari Inggris

Suasana Bandara Internasional Soekarno Hatta (Soetta). (Liputan6.com/Pramita Tristiawati)
Suasana Bandara Internasional Soekarno Hatta (Soetta). (Liputan6.com/Pramita Tristiawati)

Hal ini diungkap oleh Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Prof dr Tjandra Yoga Aditama Sp P(K), MARS, DTM&H, DTCE.

"Jadi kalau bisa deteksi itu diperkuat terutama untuk yang datang dari Inggris," ujar Tjandra kepada Health Liputan6.com melalui sambungan telepon, Minggu, 28 Desember 2020.

"Tapi kan sekarang bukan hanya Inggris, sudah ada beberapa negara, jadi dilihat daftar negara mana saja yang sudah terpapar dan harus ada semacam skrining yang tepat," tambahnya.

Mengecek Kasus Sebelumnya

Ratusan penerbangan di Bandara Soetta terdampak dari ribuan massa simpatisan yang hendak menyambut kepulangan Rizieq Shihab. (Liputan6.com/Pramita Tristiawati)
Ratusan penerbangan di Bandara Soetta terdampak dari ribuan massa simpatisan yang hendak menyambut kepulangan Rizieq Shihab. (Liputan6.com/Pramita Tristiawati)

Hal kedua yang dapat dilakukan menurut Tjandra adalah mengecek kasus sebelumnya. Di Inggris sendiri kasus ini sudah terjadi sejak September.

"Mungkin Singapura memantau orang yang datang sejak pertengahan November. Jadi orang yang sudah di Singapura sejak pertengahan November itu dihubungi lagi, dicek," jelasnya.

"Kita juga sebaiknya mundur ke belakang, lihat orang-orang yang datang dari negara-negara dengan mutasi misal sejak awal Desember dicek keadaannya sehat atau tidak," tuturnya.

Sequencing Genetic

TKI dari Singapura jalani rapid test di Bandara Soetta, Senin (4/5/2020). (Istimewa)
TKI dari Singapura jalani rapid test di Bandara Soetta, Senin (4/5/2020). (Istimewa)

Hal ketiga yang tak kalah penting menurut Tjandra adalah melakukan sequencing genetic.

"Orang untuk mengetahui sakit atau tidak biasanya tes PCR atau rapid test antigen, sebenarnya ada cara yang lebih detail lagi Namanya sequencing genetic," katanya.

Sequencing genetic adalah tes yang dapat menemukan ada mutasi atau tidak. Tes ini akan sulit dilakukan pada masyarakat secara menyeluruh. Namun, tetap dapat dilakukan pada orang-orang atau klaster tertentu yang tidak terlalu besar.

Hal yang membedakan sequencing genetic dengan swab test adalah detail hasilnya. Swab test hanya untuk mengetahui apakah ada virus atau tidak. Sedang, pada sequencing genetic, jika ditemukan sebuah virus maka virus tersebut ditelusuri lebih dalam lagi dari segi jenis dan karakteristiknya.

"Jadi ketahuan, apa itu virus biasa atau sudah bermutasi, hasilnya tidak dapat keluar dalam satu hari tidak seperti PCR. Kalau cara mengambil sampelnya sama, pemeriksaannya saja yang berbeda,” pungkasnya.

(Fifiyanti Abdurahman)

Saksikan video pilihan di bawah ini: