5 Pelatih yang Mengarungi BRI Liga 1 Bersama Klub Jawa Timur: Dominasi Arsitek Lokal

·Bacaan 4 menit

Bola.com, Surabaya - Dalam membentuk sebuah tim yang solid, waktu yang dibutuhkan kadang tidak sebentar. Ungkapan 'percaya proses' yang menggema beberapa tahun terakhir adalah bentuk manisfestasi perjuangan pelatih dalam membangun tim, termasuk yang dijalani klub BRI Liga 1 asal Jawa Timur.

Beruntung, klub-klub asal Jawa Timur di BRI Liga 1 punya juru racik strategi yang memahami hal tersebut. Mereka tak pernah menjanjikan sukses akan datang dengan instan ketika mereka berada di belakang kemudi tim.

Deretan laga uji coba jelang kompetisi memberikan hasil beragam. Tapi, bukan hasil akhir yang mereka cari. Pemahaman taktik yang akan diusung saat kompetisi nanti yang jadi tujuan utama.

Persebaya Surabaya tetap mengandalkan Aji Santoso sementara Persik Kediri menunjuk kembali Joko Susilo. Pelatih kawakan sekaliber Rahmad Darmawan berada di kubu Madura United.

Persela Lamongan yang dihuni banyak pemain muda kini memilih Iwan Setiawan yang terkenal mampu memoles pemain mentah menjadi sebuah berlian. Hanya Arema FC yang mempercayakan timnya kepada seorang ekspatriat dalam diri Eduardo Almeida.

Lantas dari kelima pelatih ternama yang menangani klub asal Jawa Timur di BRI Liga 1 ini, siapa yang memiliki prestasi dan reputasi yang lebih mentereng. Berikut ulasannya!

Aji Santoso

Persebaya Surabaya - Aji Santoso (Bola.com/Adreanus Titus)
Persebaya Surabaya - Aji Santoso (Bola.com/Adreanus Titus)

Pria asal Malang ini merupakan pelatih yang dikenal mengandalkan pemain-pemain muda di setiap tim yang dilatihnya. Hal ini ditegaskan dengan menjadikan Persebaya Surabaya sebagai tim dengan rataan usia termuda di antara klub lainnya musim ini.

Mantan pesepak bola yang pernah sukses pada era 1990-an ini baru mengambil alih kursi pelatih Green Force, julukan Persebaya, pada pertengahan musim 2019. Berada di bawah tangan dinginnya, Rendi Irwan dkk. berhasil menduduki posisi kedua di bawah Bali United.

Pelatih yang sempat membawa Arema FC menjuarai Piala Presiden 2018 ini sempat identik dengan Persela Lamongan. Namun, ikatan kuat antara Aji Santoso dan Persebaya Surabaya membawanya kembali ke klub lamanya saat masih aktif sebagai pemain.

Joko Susilo

Pelatih Persik Kediri, Joko Susilo. (Bola.com/Joko Susilo)
Pelatih Persik Kediri, Joko Susilo. (Bola.com/Joko Susilo)

Karier kepelatihannya dimulai dengan pelatih akademi Arema sampai akhirnya mendapatkan kepercayaan sebagai asisten pelatih. Pria yang karib disapa Getuk itu akhirna naik kelas setelah kepergian Aji Santoso dari kursi pelatih.

Namun, beberapa hasil minor pada awal musim 2018 memaksanya lengser dari kursi kepelatihan. Getuk dikembalikan ke jabatan semula untuk mendampingi pelatih asal Serbia, Milan Petrovic.

Setelah itu, pelatih berusia 50 tahun itu mendapatkan kesempatan menjadi asisten pelatih Timnas Indonesia menemani caretaker, Yeyen Tumena. Namun, hal itu hanya berlangsung dalam satu pertandingan saja.

Klub promosi Persik Kediri lantas menunjuknya sebagai pelatih kepala pada awal musim 2020. Jabatannya sempat 'naik' menjadi direktur teknik, tapi itu tidak bertahan lama seiring kosongnya kursi pelatih setelah kepergian Budi Sudarsono.

Rahmad Darmawan

Rahmad Darmawan, pelatih Madura United. (Bola.com/Aditya Wany)
Rahmad Darmawan, pelatih Madura United. (Bola.com/Aditya Wany)

Madura United beruntung memiliki Rahmad Darmawan. Pelatih asal Lampung itu memiliki sederet trofi setelah mengumpulkan dua titel Liga Indonesia dan tiga gelar Piala Indonesia pada medio 2000-an.

Pengalamannya di dunia kepelatihan luar biasa banyak. Tak hanya melatih sejumlah klub besar Tanah Air, seperti Persipura Jayapura, Persija Jakarta, dan Sriwijaya FC, pria yang akrab disapa RD ini juga pernah berkarier di Malaysia dengan melatih Terengganu FC II.

Rekam jejaknya itu membuat Madura United yang tengah berburu kejayaan di sepak bola nasional tertarik meminangnya. Sejak kemunculannya, klub berjuluk Laskar Sape Kerrap ini belum benar-benar meraih apapun meski selalu masuk bursa juara.

Kehadirannya cocok dengan visi klub yang ingin segera meraih supremasi tertinggi. Harapan besar dibebankan kepadanya untuk segera membawa titel perdana ke Pulau Garam.

Iwan Setiawan

Sesi latihan Persela Lamongan, di Stadion Surajaya, Lamongan. (Bola.com/Aditya Wany)
Sesi latihan Persela Lamongan, di Stadion Surajaya, Lamongan. (Bola.com/Aditya Wany)

Memilih Iwan Setiawan sebagai pelatih kepala bisa dikatakan sebuah pilihan bijak dari Persela Lamongan. Pelatih asal Medan itu dikenal memiliki sensor yang tepat dalam menilai bakat seorang pemain muda.

Andritany Ardhiyasa, Ramdani Lestaluhu, Miswar Saputra, hingga Irfan Jaya merupakan beberapa pemain yang pernah bermain di bawah arahannya secara langsung. Hal itu juga diharapkan bisa terjadi saat memimpin Laskar Joko Tingkir, julukan Persela.

Meski begitu, pelatih berusia 63 tahun tersebut dihadapkan dengan sejumlah masalah jelang sepak mula kompetisi. Persela dianggapnya tak benar-benar memiliki kedalaman yang cukup dan terlalu bergantung dengan pemain muda di sebuah kompetisi bisa jadi bumerang.

Selain itu, mantan pelatih Persebaya Surabaya ini juga memiliki sedikit celah. Gaya ceplas-ceplosnya terkadang tidak bisa diterima semua pihak dan itu menyebabkan dirinya beberapa kali terdepak dari kursi pelatih.

Eduardo Almeida

Arema FC - Eduardo Almeida (Bola.com/Adreanus Titus)
Arema FC - Eduardo Almeida (Bola.com/Adreanus Titus)

Satu-satunya pelatih asing yang menangani klub Jawa Timur ini memiliki beban yang cukup berat. Kegagalan di Piala Menpora 2021 lalu seolah mencoreng kebesaran Arema FC dan Eduardo Almeida dituntut memperbaikinya.

Pelatih asal Portugal ini pertama kali mendarat di Indonesia pada 2019. Saat itu, dirinya mendapatkan misi penting untuk menyelematkan Semen Padang dari jurang degradasi.

Walaupun penampilan tim berjuluk Kabau Sirah itu sempat membaik, Semen Padang harus rela turun kasta. Tapi, gaya melatihnya yang atraktif membuat manajemen Arema FC tertarik mendatangkannya.

Presiden Arema FC, Gilang Widya Pramana, pun juga tidak mau setengah-setengah mendukungnya. Deretan legiun asing baru dihadirkan untuk membantunya mengembalikan nama baik Arema FC.

Hanya saja, sejauh ini performa Arema FC belum bisa dikatakan membaik. Kegagalan meraih kemenangan menghadapi dua klub Liga 2, PSIM Yogyakarta dan Persis Solo, membuat posisnya dalam sorotan.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel