5 Pelatih yang Sukses Membesut PSIS: Sartono Anwar dan Edy Paryono Paling Mantap

·Bacaan 4 menit

Bola.com, Semarang - PSIS Semarang memiliki sejarah yang cukup panjang di kompetisi Liga Indonesia. Tim Mahesa Jenar meraih gelar juara Perserikatan tahun 1986-1987 dan Liga Indonesia 1998-1999.

Hampir dalam setiap musimnya, PSIS menjadi tim yang patut diperhitungkan. Selain punya kedalaman skuat dan dukungan penuh dari suporter, PSIS punya pelatih yang jeli dalam memaksimalkan potensi para pemainnya.

Banyak pelatih yang pernah mengenyam kesuksesan bersama PSIS. Menariknya, mayoritas pelatih yang sukses di PSIS adalah pelatih dalam negeri. Mereka tidak kalah prestasinya dengan juru taktik asing.

Selain itu, pelatih lokal PSIS juga mampu memaksimalkan potensi daerah. PSIS meraih juara ketika skuatnya biasa-biasa saja dan tidak diperhitungkan pada awal musim.

Bola.com merangkum sejumlah pelatih yang cukup sukses menjadi nakhoda PSIS Semarang. Ada yang mampu membawa gelar juara, ada pula yang setidaknya berhasil menghindarkan posisi dari jurang degradasi.

Sartono Anwar

Sartono Anwar bisa melatih Madiun Putra di Liga 2 2017, berkat peran sang anak, Nova Arianto. (Bola.com/Robby Firly)
Sartono Anwar bisa melatih Madiun Putra di Liga 2 2017, berkat peran sang anak, Nova Arianto. (Bola.com/Robby Firly)

Sartono Anwar adalah pelatih asal Semarang yang memberikan gelar pertama bagi PSIS Semarang. Sartono membawa PSIS menjadi tim yang punya karakter pada Kompetisi Perserikatan 1986-1987.

Pada era itu, PSIS dikenal sebagai Si Jago Becek, karena selalu tampil beringas ketika berkandang di Stadion Citarum, yang pada waktu itu lapangannya berkubang.

Sartono membawa PSIS ke tangga juara, dengan mengalahkan tim tangguh, Persebaya Surabaya, pada partai final. Gol tunggal PSIS tercipta lewat aksi Ribut Waidi.

Edy Paryono

Legenda PSIS Semarang mendirikan akademi sepak bola. Siapa mereka?
Legenda PSIS Semarang mendirikan akademi sepak bola. Siapa mereka?

Edy Paryono merupakan pelatih asli Semarang yang lahir pada 14 Juli 1954. Ia meneruskan jejak prestasi Sartono Anwar, dengan mempersembahkan gelar Liga Indonesia 1998-1999.

Meski dengan bekal skuat yang pas-pasan dan tidak diperhitungkan sebelumnya, PSIS Semarang justru tampil sebagai pemenang kompetisi. PSIS dibawanya meraih gelar juara usai mengalahkan Persebaya Surabaya di final lewat gol tunggal Tugiyo.

Filosofi permainannya adalah bola-bola pendek dari kaki ke kaki, seperti tiki-taka milik Barcelona dan Spanyol. Kekompakan pemain antarlini juga menjadi kunci kesuksesan Eddy Paryono membesut PSIS.

Trofi PSIS itu tak lepas dari tangan dingin Eddy Paryono dalam menyusun taktik dan strategi. Ia mampu memaksimalkan peran mulai dari penjaga gawang sampai barisan penyerang.

Bambang Nurdiansyah

Pelatih PSIS Semarang, Bambang Nurdiansyah, saat melawan Persija Jakarta pada laga Liga 1 di Stadion Patriot, Bekasi, Minggu (15/9). Persija menang 2-1 atas PSIS. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)
Pelatih PSIS Semarang, Bambang Nurdiansyah, saat melawan Persija Jakarta pada laga Liga 1 di Stadion Patriot, Bekasi, Minggu (15/9). Persija menang 2-1 atas PSIS. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Pria 60 tahun ini begitu familiar dengan PSIS Semarang. Ia sudah tiga kali menangani tim kebanggaan masyarakat Semarang dalam tiga musim berbeda.

Musim 2005 adalah kesempatan pertamanya membesut PSIS. Ia membawa PSIS menempati peringkat ketiga Liga Indonesia. Ia mampu memaksimalkan potensi pemain PSIS, termasuk Julio Lopez dan Muhammad Ridwan.

Bambang kembali singgah ke Kota Lunpia pada musik 2008-2009. Bambang Nurdiansyah kembali ke PSIS pada pertengahan musim Shopee Liga 1 2019. Ia ditunjuk sebagai pengganti Jafri Sastra yang didepak pada tengah musim akibat pretasi tim yang menurun.

Pria yang akrab disapa Banur membuktikan kapasitasnya sebagai pelatih berpengalaman. Ia mampu menyelamatkan PSIS dari ancaman jurang degradasi, setelah sebelumnya berkutat di zona merah.

Kerja sama Banur dengan PSIS berakhir setelah berakhirnya kompetisi. Manajemen klub menunjuk Dragan Djukanovic yang sebelumnya adalah direktur teknik. Sementara Banur memilih membesut tim Liga 2, Babel United.

Bonggo Pribadi

Pelatih Blitar United, Bonggo Pribadi (kedua dari kiri) dan Stefano Cugurra (pelatih Bali United) saat jumpa pers, Kamis (31/1/2019). (Liputan6.com/Dewi Divianta)
Pelatih Blitar United, Bonggo Pribadi (kedua dari kiri) dan Stefano Cugurra (pelatih Bali United) saat jumpa pers, Kamis (31/1/2019). (Liputan6.com/Dewi Divianta)

Bonggo adalah sosok yang sukses ketika menjadi pemain sekaligus pelatih. Bonggo menjadi bagian dari skuat PSIS Semarang saat menjuarai Liga Indonesia 1998-1999.

Bersama Agung Setyabudi ia bahu-membahu mengamankan barisan pertahanan. Ia dikenal sebagai bek tangguh dalam menghalau pegerakan lawan.

Kesuksesan Bonggo ternyata menular saat ia menjadi caretaker pelatih PSIS musim 2006. Bonggo yang menggantikan Sutan Harhara di tengah musim, justru mampu melaju jauh.

Pada musim itu, Emanuel De Porras dkk. melaju hingga partai puncak. Sayangnya, PSIS menyerah di tangan Persik Kediri pada laga final di Solo.

Bonggo kemudian melatih tim kasta bawah Persekaba Blora. Bonggo Pribadi sempat kembali membesut PSIS pada musim 2010-2011. Saat ini Bonggo Pribadi bekerja untuk tim Liga 2, PSIM Yogyakarta. Ia menjadi asisten dari Seto Nurdiyantoro.

Jafri Sastra

Pelatih PSIS Semarang, Jafri Sastra usai pertandingan melawan Tira Persikabo di Stadion Moch Soebroto, Magelang, Jumat (2/8/2019). (Bola.com/Vincentius Atmaja)
Pelatih PSIS Semarang, Jafri Sastra usai pertandingan melawan Tira Persikabo di Stadion Moch Soebroto, Magelang, Jumat (2/8/2019). (Bola.com/Vincentius Atmaja)

PSIS Semarang mendapat durian runtuh setelah Jafri Sastra dipecat oleh klub Liga 2, Persis Solo pada tengah musim 2018.

PSIS langsung merekrut Jafri untuk menggantikan posisi Vincenzo Annese. Jafri mampu menunjukkan sebagai pelatih dalam negeri yang jempolan. PSIS terseok-seok di tangan Annese, lalu Jafri mampu membangkitkan kembali performa Mahesa Jenar.

Permainan atraktif dan menyerang menjadi ciri khas PSIS saat dilatihnya. Pada akhir musim 2018, Jafri membawa PSIS finis di urutan ke-10 klasemen akhir.

Jafri Sastra kemudian diperpanjang kontraknya hingga musim 2019. Sayangnya, musim kedua tidak bersahabat dengannya. PSIS terperosok ke papan bawah sampai paruh musim 2019.

Jafri Sastra pun digantikan Bambang Nurdiansyah. Selain membesut PSIS, Jafri Sastra juga pernah melatih Semen Padang, Mitra Kukar, hingga Persipura Jayapura.

Video

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel