5 Pemain Akademi yang Diabaikan dan Kemudian Melejit di Klub Lain: Bersinar Bersama Rival

Bola.com, Jakarta - Akademi sepak bola muda merupakan fondasi yang solid bagi kebanyakan klub di seluruh dunia. Tidak mengejutkan banyak klub top Eropa mulai mempromosikan pemain-pemain muda dari akademi mereka. Namun, tidak mudah untuk selalu mendapatkan talenta seperti berlian.

Beberapa pemain tidak selalu bisa mendapatkan kesempatan ketika masih berkarier di tim akademi. Namun, beberapa klub perlu menjaga bintang potensialnya dengan kesabaran daripada melepaskan atau menjualnya dengan harga murah.

Ini karena beberapa pemain mencapai puncak kariernya di kemudian haru, terutama bersama klub yang memberikan mereka lingkungan yang tepat untuk berkembang, tak terkecuali klub yang merupakan rival dari klub yang menaungi akademinya.

Dengan catatan itu, seperti dilansir dari Sportskeeda, berikut lima pemain akademi yang diabaikan tapi mampu membuktikan bahwa klub masa kecil mereka salah dan bersinar dengan klub lain:

5. Joao Felix (FC Porto)

Joao Felix. Pemain asal Portugal yang kini membela Atletico Madrid ini meraih trofi Golden Boy edisi 2019 bersama Benfica. Benfica dibawanya meraih gelar Liga Portugal 2018/2019 dan bersama Timnas Portugal meraih gelar UEFA Nations League di musim yang sama. (AFP/Gabriel Bouys)
Joao Felix. Pemain asal Portugal yang kini membela Atletico Madrid ini meraih trofi Golden Boy edisi 2019 bersama Benfica. Benfica dibawanya meraih gelar Liga Portugal 2018/2019 dan bersama Timnas Portugal meraih gelar UEFA Nations League di musim yang sama. (AFP/Gabriel Bouys)

 

Joao Felix saat ini kesulitan untuk mendapatkan menit bermain di Atletico Madrid. Namun, penyerang asal Portugal ini tetap menjadi satu di antara pemain muda terbaik pada saat ini.

Penyerang asal Portugal itu kesulitan mendapatkan kepercayaan dari Diego Simeone dan mungkin juga bermain di sistem yang tidak cocok dengan keunggulannya. Namun, Felix selalu memperlihatkan potensinya dalam tiga tahun terakhir di Spanyol.

Atletico Madrid pasti akan merasa terlalu dini bagi mereka untuk menyiapkan 126 juta euro untuknya pada 2019. Ini terlepas dari performa debutnya yang cerah bersama Benfica pada musim 2018/2019.

Dia mencatatkan 20 gol dan 11 assist dalam 43 pertandingan di semua kompetisi. Namun, perlu dicatat bahwa pemain muda ini bukan produk dari 'Aguias' karena ia adalah pemain akademi di klub rival, FC Porto.

Felix bergabung dengan 'Dragoes' saat berusia 8 tahun dan dilatih selama tujuh tahun di akademi sebelum mereka melepasnya. Sang penyerang kemudian bergabung bersama Benfica dan menyumbangkan 22 gol pada musim debutnya sekaligus memenangkan gelar juara Liga Portugal.

4. Jamie Vardy (Sheffield Wednesday)

1. Jamie Vardy (Leicester City) - Striker andalan The Foxes ini sukses mencatatkan namanya sebagai top skor Liga Inggris pada musim 2019/2020. Pemain berusia 33 tahun itu berhasil mengemas 23 gol dari 35 laga. (AFP/Paul Ellis)
1. Jamie Vardy (Leicester City) - Striker andalan The Foxes ini sukses mencatatkan namanya sebagai top skor Liga Inggris pada musim 2019/2020. Pemain berusia 33 tahun itu berhasil mengemas 23 gol dari 35 laga. (AFP/Paul Ellis)

 

Kisah sukses Jamie Vardy adalah sebuah cerita yang sangat menarik karena determinasi dan keyakinannya untuk menjadi yang terbaik. Jamie Vardy yang selalu bermimpi menjadi pesepak bola, berlatih bersama akademi Sheffield Wednesday pada masa remajanya.

Namun, ia dilepas oleh klub pada 2003, membuat sang pemain seperti tidak ada harapan. Juara Premier League 2016 itu memulai karier bermain di kompetisi kasta ketujuh sepak bola Inggris bersama Stockbridge Steels. Ia juga bekerja paruh waktu di pabrik karbon pada saat itu.

Setelah bermain selama tujuh tahun dengan Stockbridge, Halifax Town merekrutnya sebelum Fleetwood Town membelinya satu tahun kemudian.

Namun, keberuntungan Vardy makin bersinar ketika Leicester City yang tampil di divisi Championship memboyongnya ke King Power Stadium dengan dana 1,2 juta pound pada 2012.

Meski tak langsung cocok dengan tim, Jamie Vardy mampu tampil cemerlang dalam debutnya di Premier League pada musim 2014/2015. Namun, tidak ada yang menyangka bahwa Leicester City mampu menjuarai Premier League pada musim berikutnya.

Jamie Vardy bahkan mencetka 24 gol dalam 36 pertandingan di Premier League saat itu. Performanya itu juga membuatnya mendapatkan gelar pemain terbaik Premier League pada 2016.

Sejak saat itu, ia berhasil memenangkan Piala FA dan Community Shield selain meraih sepatu emas Premier League pada 2019/2020.

3. Samuel Eto'o (Real Madrid)

5. Samuel Eto’o – 154 gol: Satu-satunya pemain Afrika yang masuk dalam daftar pencetak gol terbanyak LaLiga. Penyerang timnas Kamerun tersebut tampil moncer bersama Barcelona. (BCWGlobal)
5. Samuel Eto’o – 154 gol: Satu-satunya pemain Afrika yang masuk dalam daftar pencetak gol terbanyak LaLiga. Penyerang timnas Kamerun tersebut tampil moncer bersama Barcelona. (BCWGlobal)

 

Samuel Eto'o adalah satu di antara terbaik pada abad ke-21 dan juga dianggap menjadi penyerang tengah terbaik pada generasinya.

Striker asal Kamerun ini menjadi satu-satunya pemain yang pernah meraih treble dengan dua tim berbeda dalam dua musim berturut-turut. Ia melakukannya bersama Barcelona pada 2009 dan Inter Milan pada 2010.

Ia mencetak 362 gol dan 117 assist dalam 724 pertandingan di level klub. Ia juga empat kali menjadi pemain terbaik Afrika dan punya karier cemerlang bersama Barcelona dan Inter Milan.

Petualangannya dimulai bersama akademi Real Madrid pada 1996. Striker asal Kamerun itu beramin dalam dua musim untuk tim B Real Madrid sebelum sempat bermain sebentar bersama tim utama Los Blancos.

Los Blancos tidak pernah melihat potensi di dalam dirinya. Mereka menjualnya ke Mallorca pada 2000, yang memecahkan rekor transfer klub sebesar 7 juta euro.

Mantan striker Kamerun itu terus menghantui Real Madrid ketika ia mencetak gol dalam kemenangan 5-1 atas Mallorca atas mereka pada 2004. Ia juga mencetak gol melawan Real Madrid pada musim 2003/2004 sebelum bergabung bersama rival utama Los Blancos, Barcelona, pada 2004.

Real Madrid, terlepas dari kesuksesan mereka yang gemilang, akan menyesal karena tidak mempertahankan Samuel Eto'o di klub mereka lebih lama dari yang mereka lakukan.

2. Marco Reus (Borussia Dortmund)

Marco Reus. Gelandang Jerman berusia 32 tahun yang kini memasuki musim ke-10 bersama Borussia Dortmund ini mampu mencetak 9 gol ke gawang Bayern Munchen yang dikawal Manuel Neuer dari total 30 laga termasuk saat ia memperkuat Borussia Monchengladbach. (AFP/Ina Fassbender)
Marco Reus. Gelandang Jerman berusia 32 tahun yang kini memasuki musim ke-10 bersama Borussia Dortmund ini mampu mencetak 9 gol ke gawang Bayern Munchen yang dikawal Manuel Neuer dari total 30 laga termasuk saat ia memperkuat Borussia Monchengladbach. (AFP/Ina Fassbender)

 

Marco Reus sering dikenal sebagai one club man yang loyal, sesuatu yang selalu dibanggakannya, terutama ketika begitu banyak rekan setimnya yang pindah klub selama satu dekade terakhir.

Gelandang Jerman ini sudah berada di Borussia Dortmund sejak 2012 dan menyelesaikan 10 tahun sepak bola profesionalnya di klub pada tahun ini. Ia mencetak 156 gol dan mencatatkan 118 assist selama satu dekade terakhir dan dua kali menjadi pemain terbaik Bundesliga.

Ini menjadi keputusan kembali yang luar biasa bagi seorang pemain yang hanya membuat klub membayar 14,5 juta pound. Namun, mereka sebenarnya tidak perlu membayar jumlah itu jika mereka tidak melepasnya dari akademi mereka pada 2005.

Marco Reus bergabung bersama akademi Borussia Dortmund pada usia 6 tahun dan berlatih bersama mereka selama hampir 10 tahun.

Namun, ia tidak pernah memperlihatkan potensinya di akademi klub, yang membuat mereka memutuskan untuk berpisah dengannya saat masih muda.

Penyerang Jerman ini memperbaiki kariernya di Rot Weiss Ahlen dan kemudian bergabung bersama Borussia Monchengladbach pada 2009.

Dortmund akhirnya menyadari kesalahan mereka dan membawanya kembali. Reus mendapatkan sesuatu yang layak karena tidak menyerah untuk bisa bermain di level tertinggi.

 

1. Serge Gnabry (Arsenal)

Serge Gnabry. Sayap kanan Jerman berusia 26 tahun ini didatangkan Arsenal dari Stuttgart U-17 pada awal musim 2011/2012 dengan nilai transfer 100 ribu euro dan langsung memperkuat tim muda Arsenal U-18. Pada awal musim 2013/2014 ia dipromosikan dari tim U-18 langsung ke tim senior Arsenal. Setelah 2 musim, pada awal 2015/2016 ia dipinjamkan ke West Bromwich Albion selam setengah musim. Pada awal musim 2016/2017 Arsenal akhirnya melepasnya ke Werder Bremen dengan mahar 5 juta euro. Kini ia menjadi bagian skuat Bayern Munchen sejak awal musim 2017/2018. (AFP/Kerstin Joensson)
Serge Gnabry. Sayap kanan Jerman berusia 26 tahun ini didatangkan Arsenal dari Stuttgart U-17 pada awal musim 2011/2012 dengan nilai transfer 100 ribu euro dan langsung memperkuat tim muda Arsenal U-18. Pada awal musim 2013/2014 ia dipromosikan dari tim U-18 langsung ke tim senior Arsenal. Setelah 2 musim, pada awal 2015/2016 ia dipinjamkan ke West Bromwich Albion selam setengah musim. Pada awal musim 2016/2017 Arsenal akhirnya melepasnya ke Werder Bremen dengan mahar 5 juta euro. Kini ia menjadi bagian skuat Bayern Munchen sejak awal musim 2017/2018. (AFP/Kerstin Joensson)

 

Meski baru berusia 27 tahun, Serge Gnabry sudah pernah menjuarai Liga Champions dan merupakan empat kali juara Bundesliga. Pemain sayap ini berkembang menjadi pemain yang hebat sejak bergabung bersama Bayern Munchen pada 2017.

Ia telah mencetak 69 gol dan 49 assist dalam 189 penampilan bersama Bayern Munchen. Banyak yang meyakini bahwa kemampuan terbaiknya belum dikeluarkan. Namun, sudah merupakan jalan yang panjang dan berliku bagi Gnabry untuk bisa berada di titik ini.

Penyerang yang satu ini pindah dari sebuah akademi klub di Jerman saat masih kecil dan bergabung bersama Arsenal pada usia 16 tahun pada 2011. Arsene Wenger adalah sosok yang mengidentifikasinya dan mengembangkan potensinya menjadi pemain kelas dunia.

Namun, pemain sayap tersebut hanya mencetak 12 gol dan 8 assist dalam 38 penampilannya bersama tim senior Arsenal. Ia juga sempat menjalani peminjaman selama enam bulan di West Bromwich Albion.

Arsenal kemudian menjualnya kepada Werder Bremen pada Januari 2016 dengan harga hanya 4,5 juta pound. Gnabry memastikan The Gunners menyesali keputusan mereka setelah mencetak 11 gol dalam satu-satunya musim di Bremen.

Ini meyakinkan Bayern Munchen untuk merekrutnya pada musim selanjutnya. Sejak saat itu, Gnabry berubah menjadi satu di antara penyerang terbaik di dunia.

Sumber: Sportskeeda