5 Penyebab Kurang Darah yang Perlu Diwaspadai, Lengkap Beserta Gejala dan Penanganannya

·Bacaan 6 menit

Fimela.com, Jakarta Penyebab kurang darah atau anemia dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Anemia terjadi jika jumlah sel darah merah seseorang di bawah normal atau ketika sel darah merahnya tidak berfungsi secara optimal.

Penyakit kurang darah dalam istilah medis disebut sebagai anemia. Anemia adalah kondisi di mana tubuh tidak mempunyai cukup butir darah merah atau kekurangan kadar hemoglobin di dalam darah. Akibatnya, organ tubuh tidak mendapat cukup oksigen, sehingga membuat penderita anemia pucat dan mudah lelah.

Penyebab kurang darah atau darah rendah bisa dilihat dari jumlah hemoglobin (HB) tubuh. Jumlah HB pria dan wanita ini berbeda. Pria memiliki HB normal 13.5 gm/dL. Perempuan memiliki HB normal 12.0 gm/dL. Jika jumlah HB kurang dari batas normal berarti orang tersebut sedang mengalami kurang darah atau darah rendah.

Banyak faktor yang dapat memicu kurang darah atau penyakit anemia ini, seperti kekurangan vitamin dan mineral hingga pengaruh cuaca. Namun itu semua dapat dicegah dengan menerapkan hidup sehat, seperti rajin minum air mineral yang cukup dan tidak mengonsumsi minuman kafein pada malam hari.

Untuk lebih jelasnya, berikut Fimela.com akan mengulas 5 penyebab kurang darah yang perlu diwaspadai, lengkap beserta gejala dan penanganannya.

Penyebab Kurang Darah atau Anemia

Ilustrasi Penyebab Kurang Darah atau Anemia Credit: pexels.com/Nataliya
Ilustrasi Penyebab Kurang Darah atau Anemia Credit: pexels.com/Nataliya

Penyebab kurang darah bisa disebabkan oleh beberapa latar belakang yang berbeda. Ada beberapa penyebab kurang darah atau anemia yang perlu kamu ketahui, sebagai berikut :

1. Cuaca

Penyebab kurang darah yang pertama adalah karena cuaca. Cuaca udara yang lebih panas bisa menjadi salah satu faktor penyebab darah rendah pada seseorang. Bahkan, darah rendah juga bisa menyerang seseorang yang sering beraktivitas di bawah sinar matahari. Sebab, sinar matahari ini akan menyebabkan suhu tubuh meningkat dan tekanan darah menurun.

2. Hormon Kehamilan

Penyebab kurang darah yang selanjutnya adalah hormon kehamilan. Kehamilan membuat peredaran darah tubuh berkembang lebih cepat. Kondisi ini sangat berbeda dengan kondisi ketika tidak hamil. Perubahan hormonal adalah penyebabnya. Perubahan ini yang menyebabkan pembuluh darah membesar, dan tekanan darah menurun.

3. Kekurangan Vitamin dan Mineral

Penyebab kurang darah yang berikutnya adalah kekurangan vitamin dan mineral. Vitamin dan mineral sangat diperlukan untuk melakukan produksi sel darah merah oleh tubuh. Vitamin dan mineral ini berupa zat besi, vitamin B12, dan asam folat/vitamin B9. Zat ini sangat penting untuk membantu proses pembentukan hemoglobin.

4. Penyakit Jantung

Penyebab kurang darah yang lainnya adalah karenya penyakit jantung. Penderita penyakit jantung akan lebih mudah terserang darah rendah karena darah tidak dapat dipompa dengan baik oleh jantung. Begitu juga otot jantung yang lemah lebih berisiko menyebabkan darah rendah.

5. Kurangnya Zat Besi

Penyabab kurang darah yang selanjutnya adalah kurangnya zat besi. Sumsum tulang sangat membutuhkan zat besi. Zat besi ini akan digunakan untuk memroduksi sel darah merah dengan struktur hemoglobin yang sempurna. Jika proses produksi ini tidak sempurna maka akan mengakibatkan anemia. Penyebab umumnya adalah pola makan yang tidak seimbang.

6. Dehidrasi

Penyebab kurang darah yang berikutnya adalah dehidrasi. Komposisi tubuh dan darah manusia yang utama adalah air. Jika terjadi dehidrasi maka volume darah juga akan mengalami penurunan. Kondisi ini akan semakin parah jika sampai terjadi tekanan darah rendah secara tiba-tiba. Darah rendah karena dehidrasi ditandai dengan pusing, lemas, dan pingsan.

7. Perdarahan

Perdarahan bisa menjadi penyebab kurang darah atau darah rendah. Perdarahan ini berupa mestruasi atau luka. Tidak hanya luka yang terjadi di bagian luar. Luka ini bisa terjadi karena pengidap tukak lambung dan kanker usus besar.

Jenis-jenis Penyakit Kekurangan Darah

Ilustrasi Kekurangan Darah Credit: pexels.com/Andrea
Ilustrasi Kekurangan Darah Credit: pexels.com/Andrea

Jenis jenis kurang darah yang umum terjadi berdasarkan penyebabnya:

1. Anemia akibat kekurangan zat besi

Kekurangan zat besi membuat tubuh tidak mampu menghasilkan hemoglobin (Hb). Kondisi ini bisa terjadi akibat kurangnya asupan zat besi dalam makanan, atau karena tubuh tidak mampu menyerap zat besi, misalnya akibat penyakit celiac.

2. Anemia pada masa kehamilan

Ibu hamil memiliki nilai hemoglobin yang lebih rendah dan hal ini normal. Meskipun demikian, kebutuhan hemoglobin meningkat saat hamil, sehingga dibutuhkan lebih banyak zat pembentuk hemoglobin, yaitu zat besi, vitamin B12, dan asam folat. Bila asupan ketiga nutrisi tersebut kurang, dapat terjadi anemia yang bisa membahayakan ibu hamil maupun janin.

3. Anemia akibat perdarahan

Anemia dapat disebabkan oleh perdarahan berat yang terjadi secara perlahan dalam waktu lama atau terjadi seketika. Penyebabnya bisa cedera, gangguan menstruasi, wasir, peradangan pada lambung, kanker usus, atau efek samping obat, seperti obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS). Selain itu, anemia karena perdarahan juga bisa merupakan gejala cacingan akibat infeksi cacing tambang yang menghisap darah dari dinding usus.

4. Anemia aplastik

Anemia aplastik terjadi ketika kerusakan pada sumsum tulang membuat tubuh tidak mampu lagi menghasilkan sel darah merah dengan optimal. Kondisi ini diduga dipicu oleh infeksi, penyakit autoimun, paparan zat kimia beracun, serta efek samping obat antibiotik dan obat untuk mengatasi rheumatoid arthritis.

5. Anemia hemolitik

Anemia hemolitik terjadi ketika penghancuran sel darah merah lebih cepat daripada pembentukannya. Kondisi ini dapat diturunkan dari orang tua, atau didapat setelah lahir akibat kanker darah, infeksi bakteri atau virus, penyakit autoimun, serta efek samping obat-obatan, seperti paracetamol, penisilin, dan obat antimalaria.

6. Anemia akibat penyakit kronis

Beberapa penyakit dapat memengaruhi proses pembentukan sel darah merah, terutama bila berlangsung dalam jangka panjang. Beberapa di antaranya adalah penyakit Crohn, penyakit ginjal, kanker, rheumatoid arthritis, dan HIV/AIDS.

7. Anemia sel sabit (sickle cell anemia)

Anemia sel sabit disebabkan oleh mutasi (perubahan) genetik pada hemoglobin. Akibatnya, hemoglobin menjadi lengket dan berbentuk tidak normal, yaitu seperti bulan sabit. Seseorang bisa terserang anemia sel sabit apabila memiliki kedua orang tua yang sama-sama mengalami mutasi genetik tersebut.

8. Thalasemia

Thalasemia disebabkan oleh mutasi gen yang memengaruhi produksi hemoglobin. Seseorang dapat menderita thalasemia jika satu atau kedua orang tuanya memiliki kondisi yang sama.

Gejala Penyakit Kurang Darah

Ilustrasi Gejala Penyakit Kurang Darah Credit: pexels.com/Marcus
Ilustrasi Gejala Penyakit Kurang Darah Credit: pexels.com/Marcus

Pada kondisi kurang darah yang ringan, biasanya tidak memiliki gejala khusus. Gejala-gejala biasanya baru mulai muncul apabila kondisi kurang darahnya menjadi lebih parah.

Berikut beberapa gejala kurang darah:

1. Perasaan tidak enak badan.

2. Perasaan lemah, tidak punya tenaga dan cepat lelah.

3. Sakit kepala.

4. Dingin di tangan dan kaki.

5. Detak jantung tidak teratur.

6. Gangguan konsentrasi.

7. Kemampuan berpikir menurun.

8. Kuku menjadi tidak halus lagi.

9. Pucat.

10. Sesak napas.

11. Lidah dan dada terasa nyeri.

12. Pening saat bangun dari posisi duduk atau jongkok.

13. Warna kebiruan pada bagian putih mata (terjadi pada kasus kurang darah yang sangat parah).

Cara Mencegah Kekurangan Darah

Ilustrasi Makanan Sehat Credit: pexels.com/Ella
Ilustrasi Makanan Sehat Credit: pexels.com/Ella

Beberapa jenis anemia, seperti anemia pada masa kehamilan dan anemia akibat kekurangan zat besi, dapat dicegah dengan pola makan kaya nutrisi, terutama:

a. Makanan kaya zat besi dan asam folat, seperti daging, sereal, kacang-kacangan, sayuran berdaun hijau gelap, roti, dan buah-buahan.

b. Makanan kaya vitamin B12, seperti susu dan produk turunannya, serta makanan berbahan dasar kacang kedelai, seperti tempe dan tahu.

c. Buah-buahan kaya vitamin C, misalnya jeruk, melon, tomat, dan stroberi.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel