5 Perkembangan Kasus Covid-19 di Indonesia yang Disampaikan Menkes Budi

·Bacaan 6 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyampaikan perkembangan terkini kasus Corona Covid-19 di Indonesia. Salah satunya dijelaskan tentang masih tingginya angka positivity rate Covid-19 di Indonesia.

Menurut dia, salah satu penyebabnya adalah terdapat kendala dalam pelaporan data oleh laboratorium pemeriksa spesimen. Akibatnya, data yang masuk ke pusat belum semua terkumpul.

"Ada beberapa hipotesis yang terindikasi positivity rate Covid-19 tinggi. Ada lab yang belum bisa memasukkan semua data, terutama data (hasil) yang negatif (Covid-19)," ujar Budi saat konferensi pers daring Penjelasan Menteri Kesehatan mengenai Positivity Rate Covid-19, Rabu (17/2/2021).

Ikuti cerita dalam foto ini https://story.merdeka.com/2303605/volume-5

Meski begitu, dia menyebut, kasus Covid-19 di Indonesia kini sedang mengalami tren penurunan. Hal itu dilihat dari jumlah kasus konfirmasi positif harian dan perawatan pasien di rumah sakit yang menurun sejak dua pekan terakhir.

"Kami double check dengan data di rumah sakit untuk memastikan penurunan kasus konfirmasi benar terjadi, atau karena jumlah tes yang turun. Kita lihat jumlah pasien di rumah sakit sudah turun secara konsisten dalam dua minggu," kata Budi.

Berikut deretan pernyataan Menkes Budi soal perkembangan kasus Corona Covid-19 di Indonesia dihimpun Liputan6.com:

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Alasan Positivity Rate Covid-19 Tinggi

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menghadiri acara Mata Najwa dalam sesi 'Beres-beres Kursi Menkes' pada 6 Januari 2021. (Dok Kementerian Kesehatan RI)
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menghadiri acara Mata Najwa dalam sesi 'Beres-beres Kursi Menkes' pada 6 Januari 2021. (Dok Kementerian Kesehatan RI)

Terkait positivity rate Covid-19 Indonesia tinggi, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, salah satu penyebab terdapat kendala dalam pelaporan data oleh laboratorium pemeriksa spesimen. Akibatnya, data yang masuk ke pusat belum semua terkumpul.

"Ada beberapa hipotesis yang terindikasi positivity rate Covid-19 tinggi. Ada lab yang belum bisa memasukkan semua data, terutama data (hasil) yang negatif (Covid-19)," ujar Budi saat konferensi pers daring Penjelasan Menteri Kesehatan mengenai Positivity Rate Covid-19, Rabu (17/2/2021).

Menanggapi pelaporan data Covid-19 dari laboratorium, Kementerian Kesehatan mengecek kendala di lapangan.

Sejumlah penyebab yang dialami lab seperti sulit mengakses sistem aplikasi untuk pelaporan data hasil Covid-19.

"Kami sudah mengecek ke masing-masing lab. Kendalanya itu susah masuk ke aplikasi sistem pelaporan data, respons sistem, lambat. Kemudian juga user interface-nya masih agak terlalu rumit," kata Budi.

"Soal kendala tadi, kami sudah melakukan perbaikan sehingga minggu ini, aplikasi yang baru sudah online dan bisa dipakai oleh seluruh lab. Harapannya, agar semua data, baik positif maupun negatif bisa masuk dengan lebih cepat dan dilakukan otomatis," sambung dia.

Adapun perkembangan Covid-19 nasional per Selasa, 16 Febuari 2021, jumlah spesimen yang diperiksa sebanyak 28.167, yang mana konfirmasi positif Covid-19 bertambah 10.029 orang. Angka positivity rate menjadi 35,60 persen.

Budi Gunadi menambahkan, hasil tes negatif Covid-19 rupanya belum langsung dikirim ke pusat, sehingga data yang diterima Kemenkes lebih banyak data terkonfirmasi positif.

"Kenapa data negatif tidak dimasukkan? Sesudah kami cek ke beberapa rumah sakit dan laboratorium. Karena jumlah datanya demikian banyak juga user interface atau cara memasukkan ke sistem aplikasi masih rumit. Ini mengakibatkan banyak lab yang memasukkan data positif," terang dia.

"Jadi, data yang negatif yang tidak dimasukkan. Karena menurut mereka yang penting data psoitif yang dimasukkan agar biar cepat diisolasi (ditangani)," sambung Budi.

Perbaikan sistem aplikasi pelaporan data Covid-19 sudah diperbaiki Kemenkes. Pelaporan data pun bisa dimasukkan menggunakan via dokumen Excel.

"'Dengan demikian akan memudahkan semua rumah sakit, lab, dan fasilitas kesehatan untuk memasukkan laporannya. Bisa otomatis langsung dengan Excel. Sehingga nanti data yang masuk lebih banyak dan lebih, termasuk data yang negatif sudah dites. Upaya ini akan merefleksikan positivity rate yang sebenarnya," imbuh Budi.

Positivity rate adalah perbandingan jumlah kasus konfirmasi positif Covid-19 dengan jumlah tes yang dilakukan.

Sebut Setiap Libur, Positivity Rate Covid-19 Naik

Menkes Budi Gunadi Sadikin saat mengunjungi RSHS Bandung, 30 Desember 2020. (Foto: Liputan6com/AdityaEkaPrawira)
Menkes Budi Gunadi Sadikin saat mengunjungi RSHS Bandung, 30 Desember 2020. (Foto: Liputan6com/AdityaEkaPrawira)

Budi menjelaskan alasan di Indonesia yang hingga saat ini angka positivity rate Covid-19 meningkat. Hingga per 13 Februari 2021, positivity rate nasional mencapai 35,53 persen dengan rata-rata 26,87 persen.

"Ingin kami sampaikan memang positivity rate tinggi khususnya di hari libur jumlah yang dites turun, akibatnya kasus terkonfirmasi juga turun dan positivity rate naik," kata Budi.

"Jadi setiap saat-saat libur positivy rate kita naik. Jadi lonjakannya di sini memang liburnya yang panjang. Memang ini pun masih tinggi, angka positivity rate kisaran 20-an sekarang ini masih tinggi. Harusnya positivity rate yang bagus di bawah 5," tambahnya.

Pihak kemenkes pun sudah menganalisis terkait positivity rate yang meningkat. Hal tersebut disebabkan adanya lonjakan kasus terkonfirmasi positif di Indonesia.

"Memang kami amati adalah jumlah kasus turun, jumlah kasus positif harian turun," ungkap Budi.

Budi pun menyontohkan tingginya positivity rate pada masa libur tahun baru 2021. Lalu disusul pada 10-11 Januari, 17-18 Januari, kemudian 31-1 Februari.

"Karena memang positivity jumlah kasus aktif dibandingkan jumlah testing. Karena setiap hari libur, jumlah testing kita turun, sehingga penyebutnya turun, dan positivity rate-nya naik. Kebetulan 4 hari terakhir ini karena liburnya agak panjang, maka positivity rate-nya naik terus," papar Budi.

Jurus Kemenkes Turunkan Positivity Rate Covid-19

Menkes Budi Gunadi Sadikin menjalani  vaksinasi COVID-19 dosis kedua di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (27/1/2021). Presiden Jokowi memastikan bahwa pemerintah telah menindaklanjuti hal tersebut dan tetap berupaya untuk memenuhi target semula. (Rusman/Biro Pers Sekretariat Presiden)
Menkes Budi Gunadi Sadikin menjalani vaksinasi COVID-19 dosis kedua di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (27/1/2021). Presiden Jokowi memastikan bahwa pemerintah telah menindaklanjuti hal tersebut dan tetap berupaya untuk memenuhi target semula. (Rusman/Biro Pers Sekretariat Presiden)

Dalam presentasi yang disampaikan Budi, tertulis bahwa positivity rate Covid-19 merupakan salah satu indikator penting dalam penanganan pandemi.

Positivity rate dihitung dengan membandingkan jumlah orang yang positif dengan jumlah orang yang diperiksa.

Setidaknya ada tiga faktor yang memengaruhi positivity rate yakni:

-Jumlah orang yang diperiksa yang tergantung pada kapasitas pemeriksaan.

-Target orang yang diperiksa yang bergantung pada prioritas pemeriksaan.

-Dan, pelaporan hasil swab.

Adapun strategi yang dimiliki Kementerian Kesehatan menurut presentasi tersebut yakni meningkatkan jumlah pemeriksaan dengan menggunakan rapid test antigen untuk pelacakan kontak dan diagnosis. Diikuti dengan scaling up akses dan waktu tunggu pemeriksaan dengan metode deteksi molekuler.

Strategi berikutnya adalah memperluas cakupan target pemeriksaan dengan mewajibkan semua kontak erat dan suspek untuk diperiksa.

Terakhir, meningkatkan pelaporan hasil swab dengan meningkatkan reliabilitas dan interkonektivitas sistem informasi Covid-19 serta mendorong kepatuhan input data.

Trennya Menurun dalam 2 Pekan

Menkes Budi Gunadi Sadikin memberikan keterangan usai menjalani vaksinasi COVID 19 dosis kedua di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (27/1/2021). Pemerintah mengharapkan per harinya 900 ribu hingga 1 juta masyarakat Indonesia dapat menerima vaksin. (Rusman/Biro Pers Sekretariat Presiden)
Menkes Budi Gunadi Sadikin memberikan keterangan usai menjalani vaksinasi COVID 19 dosis kedua di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (27/1/2021). Pemerintah mengharapkan per harinya 900 ribu hingga 1 juta masyarakat Indonesia dapat menerima vaksin. (Rusman/Biro Pers Sekretariat Presiden)

Meski begitu, Budi mengatakan kasus Covid-19 di Indonesia kini sedang mengalami tren penurunan. Hal itu dilihat dari jumlah kasus konfirmasi positif harian dan perawatan pasien di rumah sakit yang menurun sejak dua pekan terakhir.

"Kami double check dengan data di rumah sakit untuk memastikan penurunan kasus konfirmasi benar terjadi, atau karena jumlah tes yang turun. Kita lihat jumlah pasien di rumah sakit sudah turun secara konsisten dalam dua minggu," terang dia.

Bahkan Menkes menyebutkan jumlah pasien baru yang datang untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit juga menurun dalam dua minggu terakhir.

Budi menyebut turunnya kasus konfirmasi positif Covid-19 harian di Indonesia bukan dikarenakan jumlah tes yang berkurang dari hari biasanya, melainkan memang tren kasusnya yang sudah melewati puncak dan mulai menurun.

Budi menampik pendapat dari berbagai kalangan yang mengatakan bahwa penurunan kasus Covid-19 dikarenakan menurunnya tes yang dilakukan.

Menkes menyebut penurunan jumlah tes memang selalu turun secara konsisten di saat hari libur nasional maupun di akhir pekan. Menkes BGS mengatakan penurunan jumlah tes belakangan ini dikarenakan adanya libur panjang Hari Raya Imlek.

Sedangkan mengenai penyebab turunnya jumlah kasus Covid-19 di Indonesia, Menkes mengungkapkan bukan dampak dari vaksinasi yang telah dilakukan.

Indonesia Sudah Lewati Puncak Penularan Kasus

Menkes Budi Gunadi Sadikin tentang pengadaan vaksin COVID-19. (Foto: jabarprov.go.id)
Menkes Budi Gunadi Sadikin tentang pengadaan vaksin COVID-19. (Foto: jabarprov.go.id)

Budi menganalisa bahwa turunnya kasus dalam dua minggu terakhir dikarenakan puncak penularan kasus Covid-19 yang disebabkan oleh mobilitas tinggi saat libur natal dan tahun baru sudah terlewati.

"Setiap ada liburan panjang, mobilitas manusia tinggi maka akan terjadi kenaikan konfirmasi kasus 30 hingga 40 persen. Sehabis naik, karena virus ini dalam 14 hari akan mati dengan sendirinya, jadi kasus setelah libur natal dan tahun baru telah terlampaui, itu sudah turun," kata Budi.

Penyebab kedua, menurut Budi, adalah dampak dari Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro yang diterapkan oleh pemerintah sejak awal Januari 2021.

"Puncak liburan natal dan tahun baru sudah tercapai, PPKM yang berdampak di masyarakat sehingga mengurangi laju penularan. Dengan data ini terlihat jelas bahwa sudah ada tren penurunan kasus konfirmasi dan penurunan perawatan rumah sakit," jelas Budi.

Yuk Kenali Cara Kerja Vaksin Covid-19

Infografis Yuk Kenali Cara Kerja Vaksin Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Yuk Kenali Cara Kerja Vaksin Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: