5 Sebab Publik Tak Puas Agenda Reformasi

TEMPO.CO, Jakarta--Lingkaran Survei Indonesia menyatakan tingkat kepercayaan publik terhadap reformasi berada titik rendah yaitu sebanyak 31,4 persen. Melalui riset kualitatif, LSI menyatakan ada lima alasan penyebab rendahnya kepuasan publik terhadap reformasi.

"Pertama, maraknya korupsi oleh politikus yang mengklaim antikorupsi," kata peneliti LSI Ardian Sopa saat jumpa pers di Jakarta, Ahad, 26 Mei 2013. Dia menjelaskan, selama hampir tiga tahun publik selalu disuguhi oleh kasus korups uyang dilakukan petinggi partai dan pejabat negara.

Survei dilakukan pada 21-23 Mei 2013 melalui quick poll dengan metode sistem random berjenjang. Jumlah responden sebanyak 1.200 responden di seluruh Indonesia dengan tingkat kepercayaan sebesar 2,9 persen. Survei juga dilengkapi dengan penelitian kualitatif metode analisis media, diskusi kelompok terfokus dan wawancara mendalam.

Ardian menyebutkan, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Demokrat yang mengklaim antikorupsi pun tak luput dari kasus ini. Sejumlah petinggi partaui ini kini justru terseret dalam kasus korupsi. Padahal, kata dia, salah satu tuntutan reformasi adalah penghapusan korupsi, kolusi dan nepotisme.

Ardian menjelaskan politikus tak lagi dipercaya oleh masyarakat bebas korupsi dan bekerja untuk rakyat. Sebanyak 83,1 persen publik tidak yakin politikus di DPR bebas korupsi. Selain itu, sebanyak 80,55 persen publik tidak percaya bahwa partai politik bekerja untuk kepentingan rakyat.

Penyebab kedua adalah terancamnya kerukunan. Dia menuturkan, konflik horizontal berbasis primordial masih kerap terjadi di sejumlah wilayah. Umumnya, konflik terjadi dalam bentuk kekerasan terhadap kelompok minoritas. Menurut Ardian, ini menjadi ironi karena pada saat Orde Baru kerukunan dan toleransi terjaga dengan baik.

Penyebab ketiga adalah publik kecewa terhadap kondisi ekonomi. Hanya sebanyak 24,4 persen publik yang menyatakan ada kemajuan dalam bidang ekonomi. Menurut dia, pemerintah belum mampu memenuhi tuntutan reformasi yakni harga bahan pokok yang murah dan terjangkau.

Penyebab keempat reformasi tidak melahirkan kepemimpinan yang kuat. Berdasarkan hasil survei, publik yang puas dengan kepemimpinan SBY hanya sebesar 30,18 persen. Publik menilai SBY pada banyak kesempatan kerap ragu-ragu dalam menegakkan konstitusi. "Misalnya melindungi kelompok minoritas," ujarnya.

Penyebab kelima adalah publik kecewa dengan pengusutan kasus penembakan dan penculikan aktivis pada 1998. Sebanyak 51,3 persen publik mengetahui bahwa pengusutan ini merupakan salah satu tuntutan reformasi. Tetapi, sebanyak 55,7 persen menyatakan pengusutan kasus ini tak pernah tuntas hingga sekarang.

WAYAN AGUS PURNOMO

Terhangat:

Darin Mumtazah & Luthfi | Kisruh Kartu Jakarta Sehat | Menkeu Baru | PKS Vs KPK | Vitalia Sesha

Baca juga:

Ini 32 Anggota DPRD DKI Interpelator Jokowi

Lepas Empat Istrinya, Eyang Subur Tak Perlu Cerai

Lepas Empat Istrinya, Ini Perasaan Eyang Subur

Neymar Sudah Jadi Milik Barcelona

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.