5 Supersub Terampuh di Timnas Indonesia dan Liga 1: Dari Kurniawan Dwi Yulianto sampai Osvaldo Haay

Bola.com, Jakarta - Sebelas pemain terbaik selalu menjadi pilihan utama dalam sebuah tim ketika turun di lapangan hijau sejak awal pertandingan. Namun, selalu ada pemain penting yang datang dari bangku cadangan. Sejumlah nama pernah merasakan momentum itu, termasuk di Timnas Indonesia dan era Liga 1.

Pemain pengganti dalam sebuah tim sepak bola umumnya masuk untuk menyegarkan kembali tim ketika memasuki separuh terakhir permainan. Namun, penentuan pemain yang masuk ke lapangan sebagai pengganti pasti diambil dari pertimbangan strategi yang matang seorang pelatih yang berada di pinggir lapangan.

Dengan kejelian seorang pelatih membaca permainan untuk menentukan pemain yang masuk lapangan sebagai pengganti, dan didukung kualitas yang dimiliki oleh sang pemain itu sendiri, bukan tidak mungkin sang pemain bisa menjadi supersub yang mampu memberikan kontribusi besar terhadap arah permainan tim dan hasil dari pertandingan.

Manajer Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer, pernah merasakan momen menjadi supersub ketika masih aktif sebagai pemain di Old Trafford. Manajer legendaris Sir Alex Ferguson, kerap membangkucadangkan Solskjaer dan menurunkan pemain asal Norwegia itu pada momen-momen genting yang menentukan.

Peran sebagai supersub juga kerap terlihat di Timnas Indonesia. Striker sekaliber Kurniawan Dwi Yulianto yang kini menyandang status legenda Tim Garuda, hingga pemain muda asal Papua, Todd Rivaldo Ferre, pernah memainkan peran sebagai pemain pengganti dengan sangat baik dan menjelma sebagai supersub.

Kali ini Bola.com membahas lima pemain yang pernah dan sedang menyandang status supersub di Timnas Indonesia dan Liga 1. Berikut rangkumannya:

1. Kurniawan Dwi Yulianto

Kurniawan Dwi Yulianto, kalah menyakitkan di semifinal Piala Tiger 1996 dari Malaysia. (Bola.com/Dok. Pribadi)

Kurniawan Dwi Yulianto merupakan striker legendaris Timnas Indonesia. Gaya mainnya mengandalkan kecepatan, kemampuan dribel yang baik, serta ketajaman dalam mencetak gol. Alhasil pemain yang akrab disapa Si Kurus ini selalu dikenang sebagai satu dari beberapa striker terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.

Eks striker yang kini menjadi pelatih klub Malaysia, Sabah FA, dan sempat menjadi asisten pelatih Timnas Indonesia di Piala AFF 2018, pernah merasakan momen menjadi seorang supersub di Piala Tiger 2004.

Saat itu, Timnas Indonesia asuhan Peter Withe memiliki lima orang penyerang di Piala AFF 2004. Ada Boaz Solossa sebagai pemain muda yang cemerlang. Lalu ada Ilham Jaya Kesuma yang menjadi top scorer di ajang tersebut. Kemudian ada Elie Aiboy dan Saktiawan Sinaga. Kurniawan pun ada untuk melengkapi lima nama striker tersebut.

Kala itu, Peter Withe lebih mempercayakan duet lini depan Timnas Indonesia kepada pemain muda, Boaz Solossa yang berusia 18 tahun dan Ilham Jaya Kesuma yang cemerlang di level klub dan baru berusia 26 tahun. Keduanya tidak mengecewakan saat di lapangan hijau. Ilham Jaya Kesuma menyelesaikan turnamen sebagai top scorer dengan tujuh gol, dan Boaz mencetak empat gol.

Namun, saat itu Kurniawan Dwi Yulianto yang kerap masuk sebagai pemain pengganti tidak kalah cemerlang. Striker yang memang lebih senior dan memiliki jam terbang lebih banyak itu memang seperti disiapkan sebagai supersub oleh Peter Withe.

Dalam kemenangan 6-0 atas Laos di laga pertama, Kurniawan mencetak gol terakhir kemenangan Tim Garuda pada menit ke-86, di mana sebelumnya Boaz dan Ilham masing-masing sudah mencetak dua gol, dan satu gol lain dicetak Elie Aiboy.

Dalam laga kedua kontra Singapura, Peter Withe memberikan kepercayaan kepada Kurniawan untuk memberikan kemenangan. Sayang, Kurniawan tak bisa mencetak gol dan Tim Garuda bermain imbang tanpa gol. Peter Withe kemudian tidak lagi memberikan kesempatan kepada Kurniawan untuk bermain saat menang 3-0 atas Vietnam di laga ketiga.

Kurniawan akhirnya mampu mencetak dua gol saat Timnas Indonesia menang telak 8-0 atas Kamboja di laga keempat atau laga terakhir fase grup. Kurniawan mencetak gol pada menit ke-74 dan 76' yang mengantar Indonesia menjadi juara Grup A Piala Tiger 2004.

Lolos ke semifinal, Kurniawan mendapatkan kesempatan dari Peter Withe untuk tampil dari awal pertandingan pada laga kontra Malaysia di leg pertama babak empat besar itu. Bermain di depan puluhan ribu penonton di Stadion Gelora Bung Karno, Kurniawan membawa Tim Garuda unggul 1-0 saat laga baru berjalan enam menit. Sayang, Timnas Indonesia akhirnya menyerah kalah 1-2 dalam laga itu.

Ketika bertandang ke Bukit Jalil menjalani leg kedua, Timnas Indonesia yang sempat tertinggal 0-1 berhasil menyamakan kedudukan lewat gol yang dicetak Kurniawan pada menit ke-59. Gol tersebut menjadi pemicu semangat para pemain Tim Garuda yang lain hingga akhirnya menang telak 4-1 dan lolos ke final.

Dalam laga final Piala AFF 2004 kontra Singapura, Kurniawan kembali mendapat kesempatan bermain dari Peter Withe, tapi Si Kurus gagal mempersembahkan gol dan Timnas Indonesia pun gagal menjadi juara setelah kalah 1-3 di GBK dan kalah 1-2 di Stadion Nasional Kallang.

Piala AFF 2004 menjadi ajang terakhir Kurniawan Dwi Yulianto membela Timnas Indonesia di sebuah kejuaraan internasional. Kurniawan kemudian memutuskan pensiun pada 2005, di mana laga kontra Australia menjadi laga terakhir bagi striker legendaris Timnas Indonesia itu.

2. Todd Rivaldo Ferre

Gelandang Timnas Indonesia, Todd Rivaldo, menggiring bola saat melawan Qatar pada laga AFC U-19 Championship di SUGBK, Jakarta, Minggu (21/10). Indonesia kalah 5-6 dari Qatar. (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Todd Rivaldo Ferre pernah merasakan momen menjadi supersub saat Timnas Indonesia U-19 tengah beraksi di Piala AFC U-19 2018, di mana saat itu Indonesia memang menjadi tuan rumah.

Pemain muda asal Papua yang satu ini memang bergabung dalam skuat asuhan Indra Sjafri sebagai pelapis. Keberadaan pemain seperti Witan Sulaeman, Egy Maulana Vikri, Saddil Ramdani, dan Syahrian Abimanyu, membuat Todd Rivaldo Ferre harus bekerja ekstra keras dalam latihan. Hasilnya, Todd Ferre memang harus puas menjadi pelapis di tim tersebut.

Dalam laga pertama kontra Chinese Taipei, Todd Rivaldo Ferre masuk di babak kedua. Namun, yang menarik ia mampu mengubah ritme permainan Tim Garuda Muda dengan mengandalkan kecepatan dan dribel luar biasa yang dimilikinya. Timnas Indonesia U-19 pun menang 3-1 dalam laga itu berkat gol Egy Maulana Vikri dan tambahan dua gol dari Witan Sulaeman.

Peran penting Todd Ferre lebih terasa pada laga kedua kontra Qatar. Timnas Indonesia tertinggal 1-4 dari tim lawan di akhir babak pertama. Bahkan Qatar masih mampu menambah dua gol yang membuat kedudukan menjadi 6-1 dalam 11 menit pertama babak kedua.

Namun, Todd Rivaldo Ferre yang masuk di babak kedua memberikan permainan yang mengejutkan bagi tim lawan. Pemain muda bertubuh mungil asal Papua itu seakan tidak takut dengan postur besar yang dimiliki oleh pemain lawan. Ferre pun mencetak gol kedua Timnas Indonesia pada menit ke-65.

Setelah Saddil Ramdani membawa Timnas Indonesia U-19 mengubah kedudukan menjadi 3-6, Todd Rivaldo Ferre kembali membuat Qatar panik. Dua gol tambahan dicetak oleh pemain Persipura itu pada menit ke-73 dan 81' yang membuat Indonesia hanya tertinggal satu gol dalam waktu tersisa.

Sayang, permainan mengulur waktu yang diperagakan oleh Qatar membuat Tim Garuda Muda tak lagi mampu menambah keunggulan dan akhirnya harus kalah 5-6 dalam laga itu. Permainan Todd Ferre dalam laga tersebut mendapat apresiasi dari banyak pihak.

Namun, permainan cemerlang itu tak lantas membuat pemain yang saat itu berusia 19 tahun itu mendapatkan kepercayaan sebagai starter. Indra Sjafri memiliki penilaian tersendiri bagi Todd Ferre perihal perannya di dalam tim yang tampak lebih cocok menjadi supersub ketika pemain lawan sudah mulai kelelahan.

3. Osvaldo Haay

Striker Timnas Indonesia U-22, Osvaldo Haay, merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Singapura U-22 pada laga SEA Games 2019 di Stadion Rizal Memorial, Manila, Kamis (28/11). Indonesia menang 2-0 atas Singapura. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Setelah selalu menjadi pemain yang mengisi starter Timnas Indonesia U-22 di Piala AFF U-22 2019, di mana Tim Garuda Muda asuhan Indra Sjafri itu mampu mempersembahkan trofi juara, Osvaldo Haay yang mencetak satu-satunya gol pada laga final kejuaraan tersebut seakan dipersiapkan untuk peran yang berbeda ketika masuk dalam tim yang sama untuk SEA Games 2019 di Filipina.

Osvaldo Haay kerap menjadi pemain cadangan yang masuk pada babak kedua untuk memecah kebuntuan atau menyegarkan performa Tim Garuda Muda asuhan Indra Sjafri di SEA Games 2019. Hal tersebut langsung terlihat pada laga pertama Grup B saat Timnas Indonesia menghadapi Thailand.

Osvaldo Haay duduk di bangku cadangan. Namun, setelah pemain berdarah Papua itu masuk di babak kedua, di mana Timnas Indonesia tengah unggul 1-0 berkat gol cepat Egy Maulana Vikri pada menit keempat, sebuah gol tambahan dicetak Osvaldo pada menit ke-87 dan membawa Tim Garuda Muda menang 2-0 atas Thailand.

Pemandangan serupa terjadi di pertandingan kedua yang dijalani Timnas Indonesia. Menghadapi Singapura, Tim Garuda Muda ditahan imbang tanpa gol dalam 45 menit pertama pertandingan. Namun, Osvaldo Haay yang masuk sebagai pemain pengganti mampu memecah kebuntuan lewat golnya pada menit ke-64. Berkat tambahan gol dari Asnawi Mangkualam 10 menit berselang, Timnas Indonesia akhirnya menang 2-0.

Melihat penampilan Osvaldo yang cemerlang sebagai supersub dalam dua laga awal, Indra Sjafri mencoba untuk memainkannya sejak awal pertandingan saat menghadapi Vietnam di laga ketiga. Bukan hal yang aneh jika memainkan Osvaldo sejak awal laga mengingat Vietnam merupakan tim yang sangat kuat.

Namun, Osvaldo seakan tak berhasil mengeluarkan magisnya dalam laga tersebut. Kawalan ketat pemain Vietnam membuatnya tidak berkutik. Sani Rizki justru yang berhasil membawa Tim Garuda Muda unggul 1-0 pada menit ke-23, sebelum akhirnya menyerah 1-2 dari Vietnam yang mendapatkan dua gol pada babak kedua.

Melihat Osvaldo Haay gagal mengeluarkan performa terbaiknya dalam laga kontra Vietnam tak membuat Indra Sjafri lantas mengembalikannya ke bangku cadangan. Osvaldo tetap diberikan kepercayaan untuk turun dari awal pertandingan saat Timnas Indonesia U-22 menghadapi Brunei Darussalam.

Hasilnya positif. Osvaldo Haay mampu mencetak hattrick dalam pertandingan itu. Tiga gol yang dicetak Osvaldo Haay, plus dua gol dari Egy Maulana Vikri, dan masing-masing sebiji gol dari Sadil Ramdani, Witan Sulaeman, dan Andy Setyo, membuat Tim Garuda menang telak 8-0 atas Brunei Darussalam.

Hattrick ke gawang Brunei membuat Osvaldo kembali dipercaya menjadi starter saat Timnas Indonesia menjalani laga terakhir fase grup kontra Laos. Dalam laga itu, Osvaldo Haay berhasil mencetak dua gol yang membantu Tim Garuda Muda menang telak 4-0 dan lolos ke semifinal sebagai runner-up Grup B.

Dalam laga semifinal sepak bola SEA Games 2019, Timnas Indonesia bertemu dengan Myanmar yang menjadi juara Grup A. Pertandingan pun berjalan ketat. Dalam waktu normal, kedua tim harus bermain imbang 2-2.

Peran penting Osvaldo Haay terjadi di babak extra time. Sebuah gol pada menit ke-102 membangkitkan semangat Timnas Indonesia U-22 untuk lolos ke final. Pada saat yang bersamaan gol tersebut meruntuhkan mental pemain Myanmar. Evan Dimas yang mencetak gol pertama dalam laga itu, berhasil menambah keunggulan Tim Garuda Muda pada menit ke-113 dan lolos ke final berkat kemenangan 4-2.

Sayangnya, Osvaldo Haay yang kembali dipercaya menjadi starter di laga puncak tidak bisa membantu Tim Garuda Muda meraih medali emas SEA Games yang sudah dinantikan selama 28 tahun. Timnas Indonesia U-22 kalah 0-2 dari Vietnam dalam laga tersebut.

4. Herman Dzumafo

Striker Bhayangkara FC, Herman Dzumafo, saat melawan PSM Makassar pada laga uji coba di Stadion PTIK, Jakarta, Rabu, (5/2/2020). Bhayangkara FC takluk 0-1 dari PSM Makassar. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Herman Dzumafo menjadi satu dari sedikit supersub ampuh di era Liga 1. Bersama Bhayangkara FC sejak 2018, penyerang berusia 40 tahun ini tampil dalam 68 laga, dengan 27 di antaranya berawal dari bangku cadangan.

Dari 68 penampilan tersebut, Dzumafo masih mampu produktif di usianya yang sudah uzur. Pemain naturalisasi asal Kamerun itu mencatatkan 21 gol.

Pada musim lalu, Dzumafo menjadi pencetak gol tersubur Bhayangkara FC dengan torehan sepuluh gol. Padahal, ia hanya berstatus sebagai pelapis penyerang asal Argentina, Ramiro Fergonzi pada putaran pertama. Ketika Fergonzi ditendang pada paruh musim, eks pemain PSPS Pekanbaru ini promosi sebagai starter.

Di musim ini, Dzumafo kembali ke peran aslinya sebagai supersub. Ia menjadi pelapis Ezechiel N'Douassel dalam formasi 4-2-3-1 racikan pelatih Paul Munster.

5. Ramdani Lestaluhu

Gelandang Persija, Ramdani Lestaluhu, merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Persela pada laga Liga 1 di SUGBK, Jakarta, Selasa (20/11). Persija menang 3-0 atas Persela. (Bola.com/Yoppy Renato)

Posisi Ramdani Lestaluhu di Persija Jakarta mulai tergerus tatkala regulasi pemain U-23 dibuat pada Liga 1 2017. Peran gelandang berusia 28 tahun itu terpaksa dikorbankan demi slot pemain muda.

Semusim berselang, Ramdani kembali ke tempat utama menyusul dihapuskannya regulasi pemain U-23. Namun, kondisinya hanya bertahan setengah musim sebelum Renan Silva merebut posisinya pada paruh kedua.

Pada musim lalu, Ramdani kembali menjadi pelapis untuk posisi gelandang serang karena kedatangan Bruno Matos. Baru pada putaran kedua menit bermainnya lebih banyak lantaran gelandang asal Brasil itu telah dicoret dan permainan penggantinya, Joan Tomas, tidak sesuai ekspektasi.

Total dari 2017-2020, Ramdani memainkan 20 dari 77 penampilannya bersama Persija. Dari jumlah tersebut, mantan pemain Sriwijaya FC ini membukukan 13 gol.

Misi Ramdani untuk kembali merebut posisi utama terbilang mustahil di musim ini. Pasalnya, deretan pemain kelas kakap menghiasi lini tengah Persija semodel Evan Dimas, Marc Klok, dan Rohit Chand. Belum lagi ia harus bersaing dengan Sandi Sute, Tony Sucipto, dan pemain muda, Adreanus Dwiki, untuk bermain dari bangku cadangan.

Saksikan Video Pilihan Kami: