5 Teknologi Anak Bangsa untuk Penanganan Virus Corona

Krisna Wicaksono, Misrohatun Hasanah

VIVA – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi mengenalkan beberapa teknologi buatan anak bangsa, yang bisa dipakai untuk penanganan virus COVID-19. Melalui Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk Penanganan COVID-19 (TFRIC19), mereka berhasil menelurkan lima produk.

"Untuk menanggulangi pandemi, BPPT dengan membangun ekosistem inovasi teknologi secara cepat, agar produk kesehatan bisa dihasilkan secara mandiri," ujar Kepala BPPT, Hammam Riza dalam konferensi daring, Rabu, 20 Mei 2020.

Baca juga: Uji Coba Jaringan 5G Tembus Rekor Dunia

Teknologi pertama adalah PCR Test Kit dan Non-PCR diagnostic test COVID-19. PCR test kit yang dikembangkan oleh BPPT, Nusantics dan PT Biofarma ini memiliki sensitivitas tinggi terhadap Sars-CoV-2. Alat telah diproduksi sebanyak 50 ribu unit, dan akhir bulan ini ditargetkan rampung 100 ribu unit.

Selain PCR, tersedia juga Rapid Detection Test (RDT) untuk deteksi antibodi IgG/IgM, yang pada akhir bulan ini akan diproduksi sebanyak 10 ribu unit. Lalu jika sudah melewati uji validasi, produksi ditingkatkan menjadi 50 ribu unit pada Juni. Terakhir adalah RDT Kit untuk deteksi antigen micro-chip, yang pada Juli nanti sebanyak 100 kit akan diserahkan ke rumah sakit.

Teknologi kedua adalah software artificial intelligence, untuk deteksi COVID-19 melalui CT-scan dan X-ray. Teknologi lain yang dilibatkan untuk alat ini adalah machine learning, deep learning, platform data mining dan sistem pendukung keputusan berbasis knowledge growing system (KGS).

BPPT mengklaim, alat ini akan membantu radiolog dan dokter dalam mempercepat proses diagnosa virus corona. Sifatnya komplemen terhadap deteksi berbasis PCR dan rapid test, juga bisa mengatasi kelangkaan tenaga medis dan ahli di rumah sakit.

Selanjutnya adalah Whole Genome Sequencing COVID-19 Origin Indonesia. Ini merupakan kegiatan epidemiologi Covid-19 di Indonesia, membandingkan sequence dari berbagai virus di Indonesia dengan virus yang ada di berbagai negara, menganalisa mutasi yang terjadi pada sampel virus 2019-nCoV Indonesia, dan membandingkan sequence virus dari penderita dengan symptom dan asymptomatic.

Alat keempat adalah Mobile Lab BSL2. Menurut Hammam, alat ini dibangun di atas kontainer untuk dapat dikirimkan ke berbagai daerah, guna memudahkan pelaksanaan uji PCR dalam rangka mendeteksi COVID-19.

"Mobile lab BSL-2 ini juga telah mengikuti standar WHO, yang dilengkapi sejumlah peralatan untuk mendukung pemeriksaan swab COVID-19, antara lain peralatan PCR untuk tes swab, bio-safety cabinet, dan sistem pemprosesan limbah medis," katanya.

Terakhir adalah Emergency Ventilator. Produk ini dibangun dengan desain open source, yang dikembangkan di Eropa dengan modifikasi sesuai material dan komponen yang ada di pasar lokal. Ventilator portabel ini menggunakan ambu bag (alat untuk memompa oksigen atau pipa berkatup).

Diperkirakan, kebutuhan ventilator pada puncak pandemi akan mencapai lebih dari 70 ribu unit. Sementara, jumlah ventilator yang tersedia diperkirakan tidak sampai tujuh ribu unit.