5 Tipe Hubungan yang Langgeng tanpa Saling Mengekang

·Bacaan 6 menit

Fimela.com, Jakarta Di bulan Oktober yang istimewa kali ini, FIMELA mengajakmu untuk berbagi semangat untuk perempuan lainnya. Setiap perempuan pasti memiliki kisah perjuangannya masing-masing. Kamu sebagai perempuan single, ibu, istri, anak, ibu pekerja, ibu rumah tangga, dan siapa pun kamu tetaplah istimewa. Setiap perempuan memiliki pergulatannya sendiri, dan selalu ada inspirasi dan hal paling berkesan dari setiap peran perempuan seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Elevate Women: Berbagi Semangat Sesama Perempuan di Share Your Stories Bulan Oktober ini.

TERKAIT: Saling Menguatkan di Situasi Pandemi dengan Membuat Sabun dari Minyak Jelantah

TERKAIT: Menjadi Ibu yang Bekerja sebagai Tulang Punggung Keluarga, Hatiku Harus Lebih Tegar

TERKAIT: 5 Tips bagi Perempuan yang Ingin Melepaskan Cinta yang Tak Bisa Dimiliki

***

Oleh: Putu Asthiti

Negara kita tercinta Indonesia ini sudah lama merdeka. Tapi, sayangnya saya masih lihat banyak wanita yang belum bisa merasakan hubungan romansa yang "merdeka". Karenanya, kali ini saya ingin mengulas makna hubungan yang merdeka dari sudut pandang wanita.

Sebelumnya, kita samakan persepsi makna merdeka dulu deh ya?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, merdeka adalah bebas. Baik itu bebas dari perhambaan, penjajahan, dll. Berdiri sendiri, tidak terikat, tidak membayar kepada orang atau pihak tertentu.

Jadi, jika digunakan dalam hubungan konteks, hubungan yang merdeka itu seperti apa?

Jawaban dari para pria yang mungkin berbeda dengan para wanita, karena itu kali ini saya akan membahasnya dari sudut pandang wanita. Sudut pandang yang saya dapat dari melihat, mendengar, dan membaca kisah para wanita di sekitar saya.

Jadi, hubungan yang merdeka itu adalah…

1. Bebas menjadi diri sendiri

Terlihat klise, namun pada kenyataannya banyak dari kami yang rela atau udah mengubah dirinya untuk memenuhi harapan kalian para pria. Nah, perubahan itu artinya bagus, apalagi jika perubahan itu kami meng-upgrade diri. Misalnya dari yang tadinya ceroboh, karena saran kalian akhirnya kami belajar menjadi lebih teliti. Dari pembantuan, pembukuan, dan perubahan-perubahan baik lainnya. Itu bagus.

Tapi, ada hal-hal seperti cara bicara, cara berdandan, gaya berpakaian, pilihan karir dan lainnya yang tak sepatutnya kalian atur. Itu adalah bagian dari karakter dan hak personal kami. Jika kalian memang tidak bisa menerima itu, mengapa kalian mau berpasangan dengan kami?

2. Bebas bertengkar tanpa takut putus

Kenapa harus bertengkar? Bukankah lebih baik menghindari konflik dengan pasangan? Bagaimana kalau pertanyaannya dibalik, kenapa takut bertengkar? Apakah karena takut menyakiti pasangan? Takut membuat pasangan marah? Karena malas berdebat? Karena malu dilihat dari orang? Atau takut putus?

Salah satu alasan di atas mungkin menjadi penyebab banyak pasangan yang memilih untuk mengalah atau diam saat ada perbedaan pendapat atau masalah, agar tidak bertengkar. Karena menganggap konflik tidak baik untuk hubungan, banyak yang tidak mau jujur mengungkapkan ketidaknyamanannya dengan sikap pasangannya.

Bukan berarti kami suka bertengkar, tentu tidak. Tapi, bukankah seharusnya pasangan adalah sahabat terbaik kita? Di mana kita bisa bebas menyampaikan pernyataan tanpa khawatir dihakimi, di mana kita bisa menegurnya jika dia salah tanpa khawatir dengan ancaman putus? Di mana kita bisa berdebat membahas berbagai hal dan tetap bisa tertawa bersama walaupun tidak menemukan kata sepakat? Juga partner terbaik untuk masalah matematika sampai menemukan solusinya?

Banyak bukti menyatakan bahwa pertengkaran yang dilakukan secara dewasa dan sehat yaitu dengan emosi yang terkendali, tidak saling berteriak, dan benar-benar mendengarkan saat pasangan bicara, justru sangat bagus untuk perkembangan hubungan

Pertengkaran menjadikan kita mengenal pasangan dan juga diri sendiri dengan lebih baik. Pertengkaran membuat kita tahu, apakah pasangan adalah orang yang compatible atau sesuai dengan kita dalam menghadapi masalah bersama-sama atau tidak.

Jadi kami ingin kalian bisa menjadi partner bertengkar yang baik, hehehe. Karena hidup tidak pernah lepas dari masalah, pasangan yang tidak bisa diajak “bertengkar dengan asyik”, bukanlah pasangan yang patut dipertahankan.

3. Bebas memiliki privasi

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Gumpanat
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/Gumpanat

Password HP, media sosial, dan email adalah privasi. Memiliki pasangan tidak menjadikan hal tersebut berubah. Pasangan yang baik menghargai privasi pasangannya. Privasi tidak hanya sebatas password. Mengecek isi HP pasangan juga merupakan pelanggaran privasi.

Apakah kalian berpasangan dengan mantan teroris, atau wanita yang memiliki reputasi sebagai penipu kelas kakap sehingga kalian harus tau semua password dan isi HP-nya? Tidak kan? Hehehe.

Dan memiliki privasi juga termasuk membiarkan pasangan memiliki “me time”. Berpasangan tidak berarti kita harus selalu berdua kan? Kita adalah 2 individu berbeda yang memiliki komitmen untuk berpasangan. Terkadang kami juga ingin menikmati waktu sendiri atau bersama teman-teman wanita kami. Selalu bersama pun bisa mempercepat terjadinya kejenuhan dalam hubungan.

Jadi, biarkan kami memiliki waktu “me time” kami sesekali. Di saat yang sama, kalian pun bisa seru-seruan dengan pria-pria sahabat kalian kan?

4. Bebas bergaul dan mengembangkan diri

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/vichie81
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/vichie81

Tak sedikit teman wanita yang bercerita bahwa dia melewatkan sebuah kesempatan bagus karena dilarang oleh pasangannya. Atau ada teman wanita yang terpaksa memblokir akun-akun lelaki dari media sosialnya karena pasangannya terlalu cemburu, bahkan ada yang harus memblokir semua kontak lelaki dari kontak messenger-nya!

Saya tidak menyalahkan para pria yang melarang ini dan itu pada wanitanya sih, justru saya ingin menggetok kepala para wanita curhat ke saya karena memilih pacar seperti itu, sambil bilang “Hello, apa kamu tidak bisa menemukan lelaki yang cukup dewasa, percaya diri, dan berpandangan luas, sehingga kamu harus berpacaran dengan pria cupu, kekanak-kanakan dan insecure yang harus memasung kebebasanmu demi menutupi rasa rendah diri mereka?” Tapi tentunya saya tidak melakukannya, bisa ditabok balik nanti! Hehehe.

Mungkin, ini mungkin lho ya, pria yang melarang wanitanya berkembang sebenarnya takut wanitanya lebih sukses darinya. Dia terlalu rendah diri untuk berpasangan dengan wanita yang lebih sukses. Mungkin Pria yang melarang wanitanya bergaul pria lain tidak yakin bahwa dirinya cukup berharga dan layak untuk bersaing dengan pria-pria lain dan untuk dipertahankan oleh wanitanya.

Mungkin pria yang mengharuskan pasangannya memberi tahu semua password media sosial dan juga HP-nya adalah pria yang dulunya (bahkan masih sampai sekarang) suka tebar pesona dengan banyak wanita sehingga dia mencurigai wanitanya berbuat sama dengannya. Itu hanya pendapat saya, kalian para pria lah yang lebih tau sebabnya.

Tapi, jika kalian para pria tidak memacari atau menikahi wanita murahan, perlukah kalian melarang wanita kalian bergaul dengan pria lain? Seharusnya kalian tahu kalau pasangan kalian adalah wanita yang cerdas, santun dan berkualitas sehingga dia tahu batasan dalam bergaul bukan?

Dan mengapa kalian harus takut kalau wanita kalian menjadikan dirinya lebih berkualitas dengan mengambil berbagai peluang yang ada? Seharusnya jika memang kalian lelaki berkualitas, kalian akan senang bergaul dan memiliki pasangan yang sama berkualitasnya dengan kalian bukan?

Masih perlukah membatasi pergaulan dan perkembangan diri wanita kesayangan kalian?

5. Bebas mempercayai

Kelemahan wanita yang paling mendasar adalah insecurity. Entah mengapa, wanita seringkali merasa tidak percaya diri. Misalnya, melihat pasangannya bekerja dengan para wanita cantik rasa rendah dirinya tiba-tiba muncul, walaupun dia tidak kalah cantiknya dengan wanita-wanita itu. Itulah mengapa kadang wanita bisa cemburu tanpa sebab. Bukan karena tidak percaya kalian, tapi kami tidak percaya diri.

Karena itu kami mengharapkan kami dapat mempercayai pasangan kami 100% (setidaknya 99.9% deh). Kami ingin kalian para pria akan selalu jujur pada kami dan tidak menyembunyikan apa pun pada kami, seberapa buruk atau pun kacau keadaannya. Itu dapat mengurangi insecurity kami.

Contoh lainnya dari saling mempercayai adalah saat ada wanita yang kalian tahu mulai mendekati kalian. Kadang pria memilih untuk tidak memberitahukan pada kami karena takut kami salah paham.

Bukankah akan jauh lebih menguntungkan dan menyenangkan bagi hubungan kita jika kalian percaya kami cukup dewasa untuk mampu menjadikan kondisi tersebut sebagai bahan diskusi lalu menemukan pemecahannya bersama? Dan karena kejujuran kalian dalam menceritakan hal yang cukup sensitif itu membuat kami makin mempercayai kalian?

Dibandingkan kami mengetahuinya dari orang lain atau melihat langsung bagaimana wanita lain itu menggoda kalian, tentunya akan berbeda dampaknya bukan?

Nah, jika kalian para pria dapat bekomitmen untuk selalu jujur, kami juga akan memberikan garansi hubungan yang jauh dari drama dan juga kecemburuan tidak penting. Bukankah itu menyenangkan?

Selamat hubungan yang penuh kemerdekaan!

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel