5 Tips Menghindari Gangguan Kesehatan Mental Bagi Remaja Selama Karantina COVID-19

Bola.com, Jakarta - Pandemi virus corona memiliki berbagai efek yang dapat dirasakan oleh semua kalangan masyarakat. Berbagai bidang kehidupan seperti sosial dan ekonomi terkena dampaknya.

Anjuran pemerintah agar tetap berada di rumah selama masa karantina pandemi COVID-19 juga tidak dapat diterima dengan mudah oleh sebagian kalangan. Sebagian dari mereka terbiasa melakukan aktivitas di luar rumah.

Namun, agar dapat meminimalisasi tertular dari virus corona dan mengurangi penyebaran virus ini agar tidak makin meluas, masyarakat harus menaati anjuran pemerintah untuk tetap berada di rumah.

Berbagai kegiatan yang biasanya dilakukan di luar rumah harus berpindah di dalam rumah, seperti beribadah, bekerja, belajar, dan berbagai aktivitas lain.

Bahkan sekolah dan kuliah, yang biasanya menjadi rutinitas, harus dilakukan di dalam rumah dengan cara online.

Secara khusus, ada dampak yang dirasakan remaja dalam masa karantina mandiri. Kehidupan remaja yang biasanya sangat aktif dan dipenuhi berbagai aktivitas sosial, kini harus ditunda karena melakukan karantina.

Menjadi seorang remaja itu cukup sulit, apalagi dalam masa pencarian jati diri, dan karantina pandemi COVID-19 membuatnya menjadi makin sulit.

Dengan penutupan sekolah dan acara yang dibatalkan, banyak remaja kehilangan beberapa momen terbesar dalam kehidupan muda mereka, serta momen sehari-hari seperti berbincang dengan teman dan berpartisipasi dalam kegiatan belajar-mengajar di dalam kelas.

Namun, ada berbagai cara untuk mengatasi kecemasan dan rasa stres yang mungkin muncul pada remaja akibat karantina selama pandemi COVID-19.

Berikut Bola.com telah merangkum dari UNICEF, lima tips untuk menghindari kecemasan dan stres bagi remaja selama masa karantina COVID-19.

Memahami Kecemasan

Cara mengatasi kecemasan./Copyright shutterstock.com

1. Memahami kecemasan yang dirasakan adalah normal

Jika penutupan sekolah, berbagai tempat hiburan, dan karantina membuat Anda merasa cemas, Anda bukan satu-satunya orang yang merasakan hal tersebut.

Para psikolog telah lama menyadari kecemasan adalah hal normal dan sehat yang dialami oleh sebagian besar orang yang dapat mengingatkan kita akan ancaman, dan membantu kita mengambil tindakan untuk melindungi diri dari berbagai ancaman tersebut.

Kecemasan Anda saat ini akan membantu Anda untuk membuat keputusan penting yang harus dilakukan  dalam kondisi saat ini, seperti untuk tidak berkumpul dengan banyak orang di tempat umum dan mencuci tangan dengan air dan sabun secara rutin.

Untuk menghindari kecemasan yang berlanjut, pastikan Anda membaca berbagai sumber tepercaya dan tepat mengenai COVID-19. Hal tersebut dapat menjaga Anda untuk tetap tenang, namun selalu waspada.

Jika Anda mengalami kecemasan karena mengalami berbagai gejala seperti pusing, mual, batuk, dan demam, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah memberitahu kondisi yang Anda rasakan kepada orang yang lebih tua, agar mereka dapat membantu dan memberi saran terbaik.

Cara Baru Berhubungan dengan Teman

Kini, pengguna Skype bisa membuat latar belakang menjadi buram (sumber: Microsoft)

2. Temukan cara baru untuk berhubungan dengan teman

Jika Anda ingin menghabiskan waktu bersama teman untuk sekadar berbincang atau berbagi canda tawa dalam masa karantina saat ini, temukan cara lain agar Anda tidak perlu keluar dari rumah.

Banyak media sosial yang dapat Anda gunakan untuk berkomunikasi dengan mereka dan tidak mengharuskan Anda untuk keluar rumah, contohnya Skype, google Hangout, atau zoom yang dapat membuat Anda bertatap muka langsung denga teman-teman Anda dari kejauhan.

3. Membuat kegiatan baru di Rumah

Mungkin satu di antara hal yang dapat dilakukan untuk terhindar dari kecemasan dan stres adalah membuat diri Anda tetap sibuk melakukan sesuatu setiap harinya.

Berdiam diri tidak melakukan apa pun dapat mengakibatkan munculnya berbagai pikiran negatif yang dapat menyebabkan kecemasan pada diri Anda.

Maka, buat diri Anda sesibuk mungkin dengan berbagai kegiatan yang dapat dilakukan di rumah, seperti berkebun, belajar bermain alat musik, menonton film, membaca buku, dan bermain gim.

Menyelami Perasaan

Foto Ilustrasi

4. Rasakan lebih dalam perasaan yang sedang dialami

Kehilangan suatu acara bersama teman, hobi, dan berbagai acara lainnya yang tertunda karena COVID-19 mungkin menjadi sesuatu yang sangat mengecewakan.

Cara terbaik untuk mengatasi kekecewaan ini adalah, membiarkan diri Anda merasakannya. Ketika memiliki perasaan kecewa yang menyakitkan, jalan satu-satunya adalah melewatinya dan bukan menghindarinya.

Rasakan kesedihan yang Anda alami. Jika sudah dapat merasakannya, Anda akan melewatinya dan akan membaik dengan sendirinya. Jangan menumpuk kesedihan karena hal tersebut tidak baik bagi kesehatan mental.

Hal lain yang dapat Anda lakukan adalah berbagi kesedihan dan menceritakannya kepada teman. Hal tersebut dapat mengurangi rasa sakit yang Anda alami karena merasa kecewa terhadap suatu hal.

5. Berbaik hati kepada diri sendiri dan orang lain

Ada anak-anak atau remaja yang masih menjadi objek perundungan pada masa pandemi COVID-19 saat ini. Jangan menambah beban teman, dengan melakukan perundungan terhadap mereka. Bantu mereka menyelesaikannya atau melaporkan kepada orang yang lebih tua untuk membantu mereka menanganinya.

Jika Anda menyaksikan ada teman diintimidasi, datangi mereka dan cobalah untuk menawarkan bantuan dan dukungan.

Tidak melakukan apa pun dapat membuat orang itu merasa semua orang membenci mereka atau tidak ada yang peduli. Buat perbedaan dengan membantu teman melewati situasi sulit ini.

Sumber: UNICEF

 

Disclaimer:

Bersama lebih dari 50 media nasional dan lokal, Bola.com ikut serta melakukan kampanye edukasi #amandirumah secara serentak di stasiun televisi, radio, koran, majalah, media siber, dan media sosial.

Bola.com secara intens akan memproduksi konten-konten edukasi informatif yang positif berkaitan dengan wabah virus corona COVID-19 sebagai bagian gerakan moral bersama #medialawancovid19. Tolong bantu sebar seluas mungkin info positif ini ke seluruh lapisan masyarakat agar mata rantai penyebaran COVID-19 di Indonesia dapat diputus.