5 Tradisi Pernikahan yang Unik di Indonesia

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Pernikahan adat Indonesia sarat dengan nilai-nilai budaya yang diwariskan turun-temurun hingga sekarang. Berdasarkan tradisi leluhur, ritual pernikahan di beberapa daerah di Indonesia tidak hanya dilakukan pada hari besar saja. Faktanya, banyak daerah di Indonesia yang memiliki upacara atau prosesi yang dilakukan sebelum acara pernikahan.

Ini dia beberapa trandisi unik dalam serangkaian prosesi pernikahan di Indonesia. Langsung saja simak ulasan berikut ini.

Jawa - Midodareni

Pada malam Midodareni, mempelai pria dan keluarganya mengunjungi keluarga mempelai perempuan untuk dilantik. Malam itu, kedua mempelai tidak diperbolehkan untuk bertemu. Pengantin pria kemudian mempersembahkan bingkisan pernikahan yang disebut seserahan untuk keluarga mempelai perempuan.

Sedangkan mempelai perempuan harus tinggal di kamarnya dan hanya boleh dikunjungi oleh sesama perempuan. Setelah prosesi berakhir, keluarga mempelai perempuan memberikan kado pernikahan untuk mempelai pria, biasanya termasuk pakaian adatnya untuk dikenakan pada upacara panggih keesokan harinya.

Betawi - Malam Pacar

Ilustrasi Pernikahan Adat Jawa Credit: pexels.com/Deden
Ilustrasi Pernikahan Adat Jawa Credit: pexels.com/Deden

Malam Pacar dilakukan pada malam sebelum hari pernikahan. Dalam prosesi pernikahan Betawi ini, mempelai perempuan mengecat kukunya dengan pewarna pacar atau henna. Ritual ini dilakukan untuk mempercantik pengantin di keesokan harinya.

Sebelum prosesi ini, dilakukan ‘ritual potong centung dan ngerik bulu kalong’ dengan mencabut sebagian rambut pengantin perempuan dengan menggunakan koin dan gunting. Tradisi Malam Pacar biasanya dilakukan setelah prosesi ‘lamaran, pingitan, dan siraman.’

Minang - Malam Bainai

Malam Bainai adalah malam terakhir bagi pengantin perempuan untuk menikmati kebebasannya sebagai perempuan lajang. Pengantin perempuan menghabiskan malam bersama teman-teman dekat dan keluarganya. Sebelum prosesi dimulai, sebuah ritual yang disebut ‘mandi-mandian’ dilakukan.

Kata Bainai sendiri berasal dari inai atau henna. Tanaman inai berubah menjadi oranye ketika dihancurkan, dan kemudian ditempatkan pada kuku pengantin wanita. Setiap kuku yang diwarnai memiliki arti yang berbeda. Misalnya, jari manis kawin melambangkan harapan bahwa pasangan akan selalu setia dan saling mencintai.

Bugis - Mappacci

ilustrasi/copyright shutterstock.com/ teguh Hariansyah
ilustrasi/copyright shutterstock.com/ teguh Hariansyah

Ritual Mappacci melambangkan kesucian. Selama upacara, kedua mempelai duduk bersebelahan di panggung pernikahan. Di depan mereka ada bantal sebagai tanda penghormatan. Ada pula tujuh helai sutra untuk melambangkan harga diri, daun pisang melambangkan kehidupan berkelanjutan, lilin sebagai penerangan, dan tujuh helai daun nangka sebagai lambang harapan.

Pewarna merah pacci kemudian dicampur dalam wadah logam yang menandakan kesucian. Satu per satu, para tamu mengusap pacci ke tangan dan kuku pasangan, diiringi dengan doa. Orang yang menerapkan pacci biasanya adalah kerabat yang dikenal karena pernikahannya yang bahagia dan tahan lama.

Lombok-Merarik

Merarik, berasal dari Bahasa Sasak yaitu ‘rari’ yang berarti ‘lari’ atau dalam istilah dapat diartikan sebagai melarikan seorang perempuan untuk dinikahi. Merarik berbeda dengan menculik, karena dalam tradisi Merarik, tidak boleh ada pemaksaan dan kedua belah pihak harus sepakat satu sama lain.

Merarik harus dilakukan pada malam hari untuk menghindari keributan, kemudian calon pengantin pria akan membawa calon pengantin perempuan ke rumah kerabatnya. Setelah ini, pihak kerabat pria akan memberitahukan keluarga perempuan untuk meminta wali (persetujuan) yang dikenal dengan istilah ‘Nyelabar.’

Demikianlah beberapa ulasan mengenai beberapa tradisi pernikahan yang unik di Indonesia. Semoga bermanfaat.

#ElevateWomen