5 Tragedi Pesawat Jatuh yang Menimpa Pesepak Bola

Liputan6.com, Jakarta Dunia dirgantara Indonesia kembali diwarnai kecelakaan. Kali ini menimpa Pesawat TNI Hawk 200 jatuh di Perumahan Sialang Indah, Desa Kubang Jaya, Kabupaten Kampar. Insiden pesawat jatuh ini terjadi pada Senin pagi, 15 Juni 2020, membuat warga sekitar berhamburan keluar rumah. 

Pilot pesawat naas ini selamat. Penerbang bernama Apriyanto itu sempat mengaktifkan kursi pelontar. 

Pilot belakangan ditemukan menyangkut di atas pohon, sementara kursinya jatuh di rumah warga. 

TIM SAR bersama personel TNI masih menelusuri lokasi pesawat jatuh tersebut.  

Insiden pesawat jatuh memang kerap terjadi. Tidak hanya menimpa warga sipil biasa, tragedi dirgantara juga beberapa kali dialami oleh insan sepak bola, baik perorangan maupun tim.  

Leicester City salah satunya. Dua tahun lalu, tim berjuluk The Foxes itu juga harus kehilangan sang pemilik, Vichai Srivaddhanaprabha, dalam kecelakaan helikopter, Sabtu (29/10/2018). 

Tragedi ini terjadi di lapangan parkir, King Stadium. Srivaddhanaprabha datang untuk menyaksikan duel Leicester melawan West Ham United dalam lanjutan Premier League 2018/19. 

Skor berakhir imbang 1-1 dan Srivaddhanaprabha berniat pulang saat helikopter jenis AgustaWestland AW169 yang ditumpanginya mengalami gangguan mesin. 

Sejumlah saksi mata melihat kalau baling-baling belakang bermasalah tidak lama setelah helikopter terbang. Tidak lama berselang, helikopter dengan nomor registrasi G-VSKP berputar-putar tak terkendali sebelum menubruk tanah di areal parkir King Stadium. 

Seluruh penumpang tewas akibat kejadian ini, termasuk Srivaddhanaprabha. Selain pengusaha 60 tahun itu, empat korban meninggal lainnya adalah staf Vichai, Nursara Suknamai dan Kaveporn Punpare, pilot Eric Swaffer, dan pilot kedua Izabela Roza Lechowicz.

Setelah insiden ini, tragedi penerbangan juga merenggut nyawa pemain baru Cardiff City, Emiliano Sala. Pemain yang baru direkrut dari Nantes itu tewas setelah pesawat yang dicarternya untuk kembali ke Cardiff terjatuh di Selat Inggris pada 21 Januari tahun lalu.   

Tragedi ini juga menambah panjang daftar para sepak bola yang meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat terbang. Sebelumnya, insiden seperti ini bahkan pernah merenggut nyawa satu tim sekaligus. 

Berikut ini merupakan tiga tragedi pesawat jatuh yang juga menelan korban pesepakbola. 

 

 

Chapecoense

1. Tragedi Hillsborough (Inggris 1989) - Laga yang tak terlupakan bagi fans Liverpool dan Nottongham Forest. Pertandingan yang penting di laga semifinal FA Cup berimbas penuh sesaknya stadion Hillborough oleh fans fanatik kedua tim. (AFP/Paul Ellis)

28 November 2016 menjadi momen kelabu bagi klub asal Brasil ini. Bukan karena kalah menyesakkan dalam sebuah laga, tapi karena klub yang identik dengan warna hijau itu kehilangan hampir seluruh skuat intinya dalam kecelakaan pesawat LaMia Flight 2933. 

Mereka termasuk dalam 77 korban meninggal dunia saat pesawat yang membawa mereka dari Santa Cruz de la Sierra, Bolivia menuju Medellín, Kolombia kecelakaan. Pesawat nahas tersebut kehabisan bahan bakar sebelum akhirnya menghantam pegunungan Cerro Gordo.

Saat kejadian, para pemain hendak bertanding melawan Atletico Nacional pada final Copa Sudamericana, kompetisi antarklub Amerika Latin yang setara dengan Liga Europa.  

Tiga pemain selamat dalam kejadian tersebut. Mereka adalah bek kiri, Alan Ruchel (18), kiper cadangan, Jakson Follmann (19), dan bek tengah Neeto. Follmann harus kehilangan satu kakinya akibat kejadian ini dan segera memutuskan pensiun dari sepak bola. 

Kiper utama, Danilo, juga masih hidup saat ditemukan tim penyelamat. Namun nyawanya tidak bisa diselamatkan. Dia tewas dalam perjalanan menuju rumah sakit. 

 

Manchester United

Suasana di luar kandang Manchester United (MU), Old Trafford. (AFP/Oli Scarff)

Matt Busby merupakan salah satu manajer terbaik yang pernah dimiliki Manchester United (MU). Selama menangani Setan Merah, Busby sangat berkuasa. Dia menentukan sendiri pemain-pemain yang akan dibeli, pemain yang dilepas, dan turun melatih di lapangan. 

Busby menyukai pemain muda. Skuatnya kala itu dihuni pemain dengan rata-rata berusia 22 tahun. Itu sebabnya, para pemain di era Busby, akrab disebut sebagai Busby Babes. 

Pada tahun 1952 pasukan Busby berhasil menjuarai Divisi Utama Liga Inggris. Ini sekaligus menjadi gelar liga pertama Setan Merah setelah penantian panjang selama 41 tahun. Sejak saat itu, MU mulai di perhitungkan di kancah sepak bola domestik maupun internasional. 

Namun musibah menimpa Busby Babes pada 6 Februari 1958. Pesawat yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan di Munich, Jerman. Saat itu, para pemain MU berniat kembali usai bertemu dengan tim Yugoslovakia, Red Star Belgrade di Piala Eropa. 

Selain para pemain, pesawat nahas itu juga membawa suporter dan wartawan. Sebanyak 20 dari 44 penumpang dinyatakan tewas dalam kejadian ini, termasuk delapan pemain MU. Sementara 23 penumpang lainnya mengalami luka parah termasuk, Matt Busby. 

 

 

Torino

Para pemain memberikan penghormatan atas meninggalnya pemain Fiorentina, Davide Astori sebelum laga Serie A di Olympic Stadium, Roma, (9/3/2018). Roma menang 3-0. (AFP/Filippo Monteforte)

1942-1949 menjadi era keemasan Torino. Dalam kurun waktu itu Tim asal kota Turin itu meraih lima gelar liga secara beruntun. Pada masa itu, Torino juga menjadi tulang punggung timnas Italia. Setidaknya 10 pemain tim berjuluk Il Toro itu berada di skuat Gli Azzurri. 

Namun masa keemasan ini juga diwarnai tragedi pilu. Pada 4 Mei 1949, pesawat FIAT G212 yang membawa skuat Torino menabrak dinding gereja Basilica of Superga yang berada di kota Turin. Saat itu, para pemain bersama sejumlah awak media baru saja kembali dari Lisbon usai menjalani laga persahabatan melawan SL Benfica. Tidak ada yang selamat dalam kejadian ini. Sebanyak 27 penumpang dan tiga awak kabin dinyatakan meninggal dunia. 

Dua hari setelah kejadian tersebut, Torino pun dinobatkan sebagai juara. Baik Torino maupun lawan-lawannya menurunkan pemain usia muda di empat pertandingan sisa. 

Jutaan warga turun ke jalananan kota Turin di hari pemakaman para korban. Akibat kejadian ini, timnas Italia sempat trauma bepergian naik pesawat. Karena itu, Gli Azzurri memutuskan bertolak ke Piala Dunia 1950 di Brasil dengan menggunakan kapal laut.