500 Ton Beras Hilang, Mantan Kepala Cabang Pembantu Bulog Pinrang Buka Suara

Merdeka.com - Merdeka.com - Mantan Pimpinan Cabang Pembantu Perum Bulog Pinrang, Radytio W Putra Sikado angkat bicara usai dicopot akibat hilangnya beras 500 ton. Radityo menjelaskan sebenarnya 500 ton beras tersebut tidak hilang, tetapi diambil oleh rekanan CV SMP dan belum melakukan pengembalian.

Radytio mengatakan dia sebagai Pimpinan Cabang Pembantu Bulog Pinrang mempunyai target penyerapan atau distribusi beras Ketersediaan Pasokan dan Stabilitas Harga (KPSH). Dia mengaku awal kasus tersebut terjadi saat rekanan Bulog, CV SMP yang dipimpin seseorang berinisial I mendatanginya menawarkan berbagai macam kerja sama.

"Dia mendekati saya secara emosional. CV SMP ini memang rekanan yang punya prestasi selama kerja sama dengan Bulog khususnya pada proyek pengadaan beras. Kinerja beliau selalu mencapai target bahkan sebelum saya menjabat," ujarnya saat jumpa pers di Cafe Titi Ngopi Makassar, Jumat (25/11).

Pada Agustus 2022, I kembali mendatangi dirinya untuk mengambil beras di gudang. Saat itu, I berjanji akan menebus beras setelah menjualnya di pasar.

"Saat itu acuan harga pengambilan beras adalah Rp8.300 per kilogram sesuai rilis menteri perdagangan, sehingga harga yang seharusnya I bayar ke Bulog adalah Rp4,150 miliar," bebernya.

"Karena (I) adalah pedagang beras, wajar ketika dia kejar untung. Untungnya di mana? yaitu dia bisa jual di pasaran dengan harga yang lebih tinggi, maka untungnya di selisih itu," imbuhnya.

Radytio menyebut saat itu dia menolak tawaran I karena menyalahi prosedur. Tetapi pada akhirnya Radytio berubah pikiran karena melihat track record perusahan milik I dalam penyaluran beras KPSH yang bagus.

"Apalagi dengan mengingat prestasi dan track recordnya selama ini, dan juga ada target penyaluran beras KPSH yang saya kejar. Akhirnya saya berusaha untuk berpikiran positif. Akhirnya beras itu keluar dari gudang sebanyak 500 ton," urainya.

Satu pekan setelah beras 500 ton keluar dari gudang, ternyata I tidak kunjung menebus dan membayar. Dia pun sudah berusaha menagih kepada I agar segera membayar.

"Bahkan saya sampaikan kalau memang belum terjual kembalikan saja. Karena saya terus menagih, pada Oktober 2022, (I) menyodorkan kepada saya dua sertifikat tanah untuk jadi jaminan pembayarannya," ungkapnya.

Menurut penyampaian I, kata Radytio, satu sertifikat tanah itu adalah tanah pabrik penggilingan dan sertifikat satunya lagi adalah tanah pabrik pemolesan (rice to rice). Saat itu pula I juga memberikan kuasa kepada Radytio untuk menjual dan tanda tangan di depan notaris.

"Namun setelah saya cek, sertifikat yang katanya tanah pabrik penggilingan ternyata tanah kosong. Sementara sertifikat yang katanya tanah pabrik pemolesan ternyata ada sertifikat gandanya tercatat atas nama orang lain," beber dia.

Beberapa hari kemudian, I sempat mengembalikan 39 ton beras kepada dirinya. Sehingga, I seharusnya membayar beras 461 ton.

"Saya terjebak dengan ide pengambilan beras oleh (I) dan juga terjebak dengan janjinya yang akan segera membayar harga beras 500 ton itu. Saya meminta itikad baik (I) agar segera membayar harga beras dimaksud kepada Bulog atau mengembalikan sisa beras yang belum ia jual," ucapnya

Akibat kasus ini, dia harus menjalani pemeriksaan di Polres Pinrang dan internal Bulog Sulselbar. Bahkan, kini dia juga telah dicipot sebagai Pimpinan Cabang Pembantu Bulog Pinrang.

"Saya juga sudah diberikan sanksi oleh perusahan berupa pencopotan jabatan karena kesalahan saya yang membiarkan (I) mengambil beras di gudang tanpa melalui prosedur sebagaimana mestinya," tutupnya.

Sementara itu, Penasihat Hukum Radytio W Putra Sikado, Muh Nur Ichsan mengatakan saat ini status kliennya di Polres Pinrang masih sebagai saksi. Pihaknya masih menunggu proses selanjutnya.

"Langkah selanjutnya, kami lihat dulu situasi dan kondisi. Kalau memang mitra (I) ini tidak melakukan atau itikad baik mungkin kami mengambil langkah hukum selanjutnya," kata dia.

Meski demikian, saat ini dirinya hanya fokus mendampingi kliennya terkait pemeriksaan di Polres Pinrang.

Sebelumnya diberitakan, Bulog wilayah Sulselbar masih melakukan audit kerugian atas kehilangan 500 ton beras di gudang yang berada di Kabupaten Pinrang. Bulog Sulselbar sebelumnya telah menonaktifkan Kepala Cabang Pembantu Radytio W Putra Sikado dan Kepala Gudang Pinrang, Muh Idris.

Pimpinan Wilayah Perum Bulog Sulselbar Bakhtiar AS mengatakan sudah membentuk tim internal untuk menggali terkait raibnya 500 ton beras dari gudang di Kabupaten Pinrang. Selain menggali keterangan, tim internal ini juga melakukan audit kerugian.

"Kerugian masih kita hitung dan masih belum bisa pastikan dan masih proses," ujarnya kepada wartawan, Kamis (24/11).

Bakhtiar mengaku adanya indikasi pelanggaran hukum terkait hilangnya 500 ton beras di Pinrang. Ia mengaku sudah berkoordinasi dengan aparat penegak hukum.

"Sementara kita lihat ini kan pengeluaran barang yang ada di gudang tidak mengikuti mekanisme. Sehingga kita tetap menduga itu ada pelanggaran dari SOP (standar operasional prosedur) yang telah kita tetapkan. Makanya kita proses dan usut," tegasnya. [cob]