52 Startup Indonesia Raih Pendanaan pada Q3 2020

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) mengungkapkan, startup Indonesia masih mendapatkan pendanaan di tengah pandemi, tetapi jumlahnya memang mengalami penurunan.

Namun, hal ini bukan disebabkan penurunan minat, melainkan akibat pandemi Covid-19. Amvesindo mencatat pendanaan startup di Indonesia pada kuartal III 2020 (Q3 2020) mencapai USD 1,9 miliar. Dana tersebut mengalir ke 52 startup.

"Pendanaan sampai kuartal III masih cukup besar, walau mengalami penurunan. Namun, kami melihat ini lebih ke penundaaan daripada penurunan minat," ujar Ketua Amvesindo, William Gozali, dalam acara diskusi "Mengupas Dinamika dan Tren Pendanaan Startup 2020-2021" pada Senin (2/11/2020).

Startup Indonesia yang mendapatkan pendanaan di tengah pandemi ini merupakan kabar menggembirakan. Startup yang didanai dinilai menunjukkan berpotensi mengubah lansekap industri di new normal, memberikan nilai tambah, serta menyelesaikan masalah yang dihadapi pelanggan dan konsumen.

"Inti dari startup adalah bagaimana mengantisipasi kebutuhan konsumen," tutur William.

Pendanaan startup di Indonesia pada 2017 mencapai USD 2,9 miliar, kemudian pada 2018 turun menjadi USD 1,4 miliar, kemudian kembali tumbuh mencapai USD 2,9 miliar pada 2019.

Kategori Startup

Ilustrasi Startup (iStockPhoto)
Ilustrasi Startup (iStockPhoto)

Startup Indonesia yang tetap mendapatkan pendanaan di tengah pandemi, khususnya perusahaan yang berperan dalam digitalisasi UMKM. Enam kategori startup teratas adalah finansial teknologi (fintech), teknologi pendidikan (edutech), Software as a Services (SaaS), new retail, logistik, dan e-commerce.

Fintech dengan delapan transaksi pendanaan, serta edutech dan SaaS masing-masing enam. Ada lima transaksi pendanaan di kategori new retail, serta empat untuk masing-masing kategori logistik dan e-commerce.

Peluang Pertumbuhan 2021

William mengatakan ada beberapa kategori startup dengan peluang pertumbuhan besar pada 2021. Tiga diantaranya adalah kategori beauty, social commerce, dan food-tech.

"Ada ruang besar untuk tumbuh dan memiliki peran penting," katanya.

Selain itu, juga ada sejumlah kategori selama pandemi yang diperkirakan dapat terus memanfaatkan momentum kebiasaan baru. Sektor-sektor tersebut adalah e-health, edutech, e-logistics, dan e-grocery.

(Din/Why)