550 Orang di AS Meninggal Akibat Corona COVID-19

Liputan6.com, Washington, D.C. - Jumlah pasien meninggal akibat Virus Corona (COVID-19) di Amerika Selatan telah menembus angka 500. Total ada 550 orang meninggal hingga Senin 23 Maret 2020 waktu setempat. New York menjadi lokasi paling terdampak.

Dilaporkan New York Post, Selasa (24/3/2020), angka kematian pada Senin pekan ini adalah yang terburuk di AS sejauh ini. Sebab, untuk pertama kalinya jumlah pasien meninggal melewati 100 orang.

Presiden AS Donald Trump mengakui situasi memang sedang buruk. Namun, ia berjanji angkan pasien COVID-19 akan berkurang. Pemerintah AS kini sedang berusaha menurunkan kurva angka pasien Virus Corona baru tersebut.

"Ini akan sangat buruk. Tentunya ini akan menjadi sangat buruk," ujar Trump saat briefing harian di Gedung Putih.

"Angkanya akan bertambah seiring berjalannya waktu, kemudian mereka akan berkurang," ujar Trump.

Koordinator Respons Virus Corona COVID-19 Gedung Putih, Dr. Deborah Birx, mengakui bahwa serangan COVID-19 di New York dan New Jersey memang lebih parah. Masyarakat pun diminta patuh pada program 15 hari pemerintah yang bertujuan menurunkan penyebaran COVID-19.

Deborah Birx berkali-kali menekankan para lansia memiliki risiko tinggi dari COVID-19, berbeda dari anak muda yang lebih kuat melawan virus itu.

Birx sendiri mengaku sempat merasakan demam pada akhir pekan lalu. Ia memutuskan tes COVID-19 dan hasilnya negatif.

Inggris Lockdown Selama 3 Minggu Akibat Ancaman Corona COVID-19

Pemandangan Jembatan Westminster dan Gedung Parlemen di London, Inggris (18/3/2020). PM Inggris Boris Johnson mengatakan seluruh sekolah akan ditutup mulai Jumat (20/3) setelah otoritas kesehatan mengonfirmasi total 2.626 kasus infeksi COVID-19 dan 104 kematian. (Xinhua/Tim Ireland)

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menetapkan lockdown selama tiga minggu untuk menangkal Virus Corona (COVID-19). Warga tak boleh keluar rumah, kecuali untuk keperluan pokok.

"Virus Corona adalah ancaman terbesar yang dihadapi negara ini selama beberapa dekade dan negara ini tidak sendirian. Di seluruh dunia, kita melihat dampak buruk dari pembunuh tak terlihat ini," ucap PM Johnson pada pengumuman yang diunggah di Twitter pada Senin malam (23/3) waktu Inggris. 

Ia berkata butuh usaha nasional untuk meredam penyebaran virus ini jika tidak ingin membebani sistem kesehatan. Karantina wilayah alias lockdown dipilih Johnson agar mengurangi jumlah orang yang sakit.

"Pada malam ini, saya harus memberikan rakyat Inggris sebuah instruksi sederhana. Kalian harus tetap di rumah, karena hal kritisnya adalah kita harus menghentikan penyebaran penyakit ini di antara keluarga," ucap PM Johnson.

Selama tiga minggu ke depan, warga Inggris hanya boleh keluar untuk belanja hal-hal pokok: olahraga individu, mendapatkan layanan kesehatan, dan pulang-pergi kerja yang tak bisa dilakukan dari rumah.

PM Johnson juga meminta warga agar tidak menemui teman atau anggota keluarga yang tidak tinggal satu rumah selama lockdown. Jika membeli makanan, warga diminta memilih delivery saja.

Bisnis-bisnis yang tidak esensial, seperti toko baju dan elektronik, diminta tutup. Tempat publik, seperti perpustakaan, taman bermain, dan tempat gym juga tutup.

"Dan kita akan menyetop kegiatan sosial, termasuk pernikahan, pembaptisan, tetapi tak termasuk pemakaman. Taman-taman akan tetap buka untuk olahraga, tetapi kumpul-kumpul akan dibubarkan," ujar PM Johnson.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: