558 Badak Dibantai, Pemerintah Afsel Kerahkan Tentara

Liputan6.com, Cape Town : Perburuan badak di Afrika Selatan makin merajalela. Binatang itu ditembak, bangkainya dibiarkan bergelimpangan hingga membusuk. Hanya demi cula.

Untuk melawan perburuan badak, pemerintah Afrika Selatan tak punya pilihan lain. Jalan represif pun ditempuh, dengan mengerahkan pasukan bersenjata untuk menjaga suaka margasatwa dan melindungi kawanan badak dari para pemburu.

Termasuk dalam rencana adalah mengerahkan armada helikopter yang dilengkapi senapan, untuk patroli dari atas langit. Pasukan tentara juga akan dilengkapi kacamata yang mampu melihat di kegelapan malam, memantau pergerakan badak juga para pemburu. "Pembantaian brutal terhadap badak, yang menjadi simbol kekayaan dan warisan alam, sudah keterlaluan," kata pejabat Afrika, Thandi Modise, seperti dimuat Daily Mail, (28/11/2012)

Dia menambahkan, langkah luar biasa pun wajib dilakukan. "Untuk melindungi pariwisata dan keanekaragaman hayati.

Tentara diharapkan mengimbangi sindikat perburuan badak yang bersenjata, disokong dana besar, dan terorganisasi dengan baik.

Sejumlah komplotan diyakini menggunakan helikopter di malam hari, dengan kaca mata yang mampu menembus gelap. Mereka menembak badak dari atas lalu memutilasi bangkainya.

588 Badak Dibantai

Sejauh ini ada 588 badak yang dibantai di Afsel di tahun 2012. Pelakunya para pemburu yang terkait sindikat di Timur Jauh, yang menjual cula badak untuk digunakan sebagai obat tradisional.  Jumlah ini memecahkan  rekor.

Meski belum genap setahun, jumlahnya melampaui angka sebelumnya, 448 ekor di tahun 2011, dan "hanya" 13 ekor pada lima tahun lalu.

Kebanyakan digunakan untuk menyuplai permintaan dari Cina juga Vietnam. Cula badak diklaim mujarab untuk mengobati berbagai penyakit, dari kanker hingga impotensi.

Padahal tak ada bukti medis yang mendukung omong kosong itu. Bahan pembentuk cula badak nyatanya adalah keratin, yang juga ditemukan dalam kuku manusia.

Para ahli mengatakan, perburuan badak menjadi masalah serius bagi Afsel, rumah bagi 22.000 spesies badak, atau 80 persen dari populasi hewan itu di dunia. Kondisi saat ini kritis, sebab lebih banyak badak yang sekarat daripada yang dilahirkan.

Awal bulan ini, salah satu geng pemburu membantai delapan  badak di Taman Nasional Kruger, termasuk seekor yang masih belia. Tubuh mereka ditembus peluru lalu culanya dimutilasi.

"Hewan-hewan malang itu juga dimutilasi di bagian mata dan telinga. Sementara bagian genital betina juga dipotong," kata direktur organisasi,  Fund for Animal Welfare, Jason Bell.

Yang disayangkan, sebagian badak justru mati di Taman Nasional Kruger, yang boleh dikata sebagai habitat mereka yang paling aman di Afsel.