565 Warga India di Afghanistan Dievakuasi, Seluruhnya Bakal Dijemput

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, New Delhi - Pemerintah India akan memastikan proses evakuasi penuh terhadap seluruh warga India yang berada di Afghanistan. Setelah negara tersebut dikuasai Taliban dan terjadi huru-hara di bandara Kabul usai Amerika Serikat menarik mundur pasukan militernya.

Dikutip dari The Quint pada Jumat (27/8/2021), Menteri Luar Negeri India S Jaishankar menyampaikan keputusan tersebut setelah rapat internal terkait krisis di Afghanistan.

"Kami telah melakukan operasi evakuasi dalam kondisi yang sangat sulit, terutama di bandara Kabul, Afghanistan," cuitan Jaishankar dalam akun Twitter miliknya.

"Fokus utama kami adalah langkah cepat proses evakuasi para warga. Kemudian sebagai negara sahabat kami berupaya menolong warga negara Afganistan yang terjebak dalam situasi mencekam tersebut," imbuh cuitan Menlu Jaishankar.

Menurut laporan Press Trust of India, sebuah dokumen yang dibagikan dalam pertemuan itu menunjukkan bahwa pemerintah India sejauh ini telah mengevakuasi 565 orang. Jumlah tersebut sudah termasuk 175 personel kedutaan, 263 warga negara India lainnya, 112 warga negara Afghanistan, termasuk Hindu dan Sikh dan 15 warga negara ketiga.

Kabar Afghanistan terkini: dua ledakan bom dahsyat menghantam perbatasan Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul, saat warga sipil terus berusaha melarikan diri dengan penerbangan dari Afghanistan yang dikuasai Taliban.

Pemboman itu terjadi beberapa jam setelah pemerintah Barat memperingatkan warganya untuk menjauh dari bandara, karena ancaman serangan oleh ISIS-K, cabang kelompok ISIS di Afghanistan.

*** Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Sebelumnya Hampir 400 Orang Sudah Dievakuasi

Foto satelit menunjukkan sisi militer Bandara Internasional Kabul, Selasa (17/8/2021).  Bandara internasional di Kabul dilanda kekacauan yang parah akibat ribuan warga memenuhi bandara tersebut untuk melarikan diri dari Taliban. (Planet Labs Inc. via AP)
Foto satelit menunjukkan sisi militer Bandara Internasional Kabul, Selasa (17/8/2021). Bandara internasional di Kabul dilanda kekacauan yang parah akibat ribuan warga memenuhi bandara tersebut untuk melarikan diri dari Taliban. (Planet Labs Inc. via AP)

Sebelumnya India telah berupaya mengevakuasi warganya dari Afghanistan. Seperti dikutip dari BBC sebanyak 146 orang India yang terdampar yang dievakuasi ke Doha, tiba di Delhi pada hari Senin (23/8).

Menurut laporan, mereka telah melakukan perjalanan ke ibu kota dalam tiga penerbangan berbeda, termasuk pesawat angkut. Maka India telah mengevakuasi hampir 400 orang sejak seminggu terakhir.

Sejak Taliban meraih kekuasaan dalam serangan kilat pada 15 Agustus, sejumlah besar orang telah mencoba melarikan diri dari Afghanistan. Kelompok itu telah meyakinkan bahwa tidak akan ada "balas dendam" dan pembalasan, tetapi para ahli mengatakan terlalu dini untuk mempercayai mereka, mengingat sejarah brutal kelompok itu.

India, yang telah mengevakuasi para diplomat dan duta besarnya, telah berlomba untuk memberikan jalan yang aman bagi warga India lainnya yang terdampar di tengah kekacauan.

Pada Minggu (22/8), kontingen lain yang terdiri dari 168 orang diterbangkan dari Kabul ke Delhi. Kelompok itu dilaporkan termasuk 24 orang Sikh dan Hindu Afghanistan, dua di antaranya adalah anggota parlemen di pemerintahan Afghanistan yang sekarang jatuh.

"Semua pencapaian selama 20 tahun terakhir di Afghanistan telah hilang. Tidak ada yang tersisa. Sekarang nol," kata anggota parlemen Afghanistan Narinder Singh Khalsa setelah mendarat di India, menurut surat kabar The Indian Express.

Khalsa mengatakan dia bersama dengan 72 orang Sikha dan Hindu Afghanistan lainnya, telah berusaha mencapai bandara Kabul sejak Jumat. Tetapi mereka didatangi oleh Taliban dalam perjalanan, dan dikirim kembali, tambahnya.

Kelompok itu kembali berjalan ke bandara pada hari Sabtu, di mana mereka melihat lautan orang-orang yang putus asa.

"Di setiap gerbang bandara, 5.000-6.000 orang berdiri," kata Khalsa.

Khalsa mengatakan mereka awalnya tidak dapat memasuki bandara, tetapi kemudian diberikan masuk melalui pos pemeriksaan VIP.

"Ini adalah keputusan yang sangat sulit dan menyakitkan untuk meninggalkan negara ini. Kami belum pernah melihat situasi seperti itu. Semuanya telah direnggut. Semuanya sudah berakhir," katanya.

Reporter: Bunga Ruth

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel