59 Tahun Terkubur, Prajurit TNI Temukan Bukti Penting Ganyang Malaysia

·Bacaan 2 menit

VIVA – Prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) Batalyon Infanteri (Yonif) Mekanis 643/Wanara Sakti, Komando Daerah Militer (Kodam) XII/Tanjungpura, baru saja mengamankan benda bukti penting sejarah pertempuran konfrontasi Indonesia dengan Malaysia.

Benda penting itu berupa munisi alias peluru. Jumlahnya cukup banyak, total ada 156 butir yang diamankan prajurit TNI yang tergabung dalam tugas operasi Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-Malaysia.

Dalam keterangan tertulisnya dilansir VIVA Militer, Kamis 24 Juni 2021, Komandan Satgas Pamtas RI-MLY, Yonif Mekanis 643/WNS, Letnan Kolonel Inf Hendro Wicaksono menerangkan, bahwa seratusan peluru itu masih dalam kondisi aktif. Peluru itu berjenis SME Hampas buatan Malaysia dengan kaliber 5,56 milimeter.

Menurut Letkol Inf Hendro Wicaksono, peluru itu diamankan dari tangan seorang warga di Kampung Jangkang, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.

Jadi awalnya warga itu secara tak sengaja menemukan peluru terkubur di area sebuah ladang di wilayah setempat. Lalu peluru dibawa pulang dan warga melaporkan temuan tersebut ke Pos TNI Satgas Pamtas RI-MLY, Yonif Mekanis 643/WNS.

"Saya selaku dansatgas sangat mengapresiasi apabila ada masyarakat yang dengan sukarela menyerahkan munisi ataupun senjata Api, saya juga berharap dan berusaha meyakinkan kepada masyarakat bahwa jangan takut ataupun ragu untuk menyerahkan senjata atau munisi kepada anggota Satgas Pamtas RI-MLY karena kami akan jamin keamanan sehingga tidak akan ada masalah di kemudian harinya," ujar Letkol Inf Hendro Wicaksono dalam keterangan dari Markas Komando Satgas Pamtas di Entikong.

Peluru itu buatan Malaysia dan diduga kuat sisa pertempuran Indonesia dengan Negeri Jiran yang terkenal dengan julukan Ganyang Malaysia yang terjadi 52 tahun lalu atau tepatnya pada tahun 1962.

Dengan temuan 156 peluru aktif ini, TNI menduga masih ada sisa-sisa pertempuran kedua negara di wilayah tersebut. Karena itu Dansatgas Pamtas RI-MLY memerintahkan prajurit TNI untuk melakukan penyisiran di lokasi temuan.

Dalam sejarahnya, Indonesia dan Malaysia terlibat konfrontasi bersenjata. Konfrontasi terjadi selama 3 tahun dimulai dari 1962 hingga 1966. Perang kedua negara pecah terkait adanya rencana membentuk Federasi Malaysia yang terdiri dari gabungan Brunei, Sabah dan Serawak.

Presiden Soekarno berang dan menolak rencana itu karena dinilai tidak sesuai dengan Persetujuan Manila. Saat itu Soekarno menilai Federasi Malaysia adalah boneka bentukan kolonial Inggris. Akhirnya dalam sebuah pidato Soekarno memproklamirkan istilah Ganyang Malaysia untuk konfrontasi itu.

Baca:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel