6 Bahaya Pemanis Buatan untuk Kesehatan Tubuh, Picu Depresi

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Tentunya Anda sudah tidak asing dengan pemanis buatan. Penggunaan pemanis buatan sudah sangat umum pada makanan atau minuman. Alasannya, tentu karena harganya yang relatif lebih murah dibanding gula biasa, namun bisa memberi rasa yang sama nikmatnya.

Selain itu, banyak pemanis buatan yang memiliki kalori cukup rendah. Maka tidak heran, apabila bagi yang sedang dalam program diet penurunan berat badan, penggunaan pemanis buatan menjadi salah alternatif pengganti gula.

Pemanis buatan sendiri juga kerap digunakan bagi penderita diabetes mellitus. Tujuannya untuk mengontrol keseimbangan gula darah. Kendati banyak manfaatnya dalam bagi kesehatan, apakah ada bahaya pemanis buatan yang bisa mengancam kesehatan?

Melihat dari jenis-jenis pemanis buatan, memang sebenarnya sangat banyak. Akan tetapi, jenis pemanis buatan yang paling umum digunakan pada produk makanan atau minuman adalah aspartam dan sukralosa.

Berdasar ketentuan dari Badan Pengawas Makanan dan Obat Amerika (FDA), sudah mengizinkan penggunaan enam jenis pemanis buatan, yakni sakarin, aspartam, sukralosa, neotame, acesulfame-K, dan stevia. Sebenarnya, risiko timbulnya bahaya pemanis buatan cukup minim, tentu jika dikonsumsi dalam batas wajar. Sayangnya, kerap kali masyarakat mengonsumsi pemanis buatan dalam takaran yang terlalu banyak, sehingga potensi bahaya pemanis buatan semakin tinggi.

Lantas, apa saja bahaya pemanis buatan yang bisa timbul? Berikut Liputan6.com telah melansir dari berbagai sumber, mengenai bahaya pemanis buatan yang perlu diwaspadai, Senin (1/2/2021).

1. Jadi penyebab kanker

ilustrasi dokter/Photo by rawpixel.com from Pexels
ilustrasi dokter/Photo by rawpixel.com from Pexels

Bahaya pemanis buatanP yang pertama ternyata tidak main-main. Pada tahun 1970, hadirnya jenis pemanis buatan yaitu siklamat, kuat diduga menjadi salah satu penyebab kanker. Hingga akhirnya peredaran jenis pemanis buatan tersebut ditarik dari pasaran. Dengan begitu, saat ini jenis pemanis siklamat sudah tidak diperbolehkan untuk beredar di pasaran.

Kendati demikian, Anda tetap perlu hati-hati jika akan mencampurkan pemanis buatan ke dalam makanan atau minuman yang dikonsumsi. Pastikan tidak menggunakan pemanis buatan dengan berlebihan, khususnya jika tidak ingin mendapatkan bahaya pemanis buatan yang tidak diinginkan, salah satunya kanker.

2. Penyebab penyakit kronis

Ilustrasi Rumah Sakit (pixabay.com)
Ilustrasi Rumah Sakit (pixabay.com)

Selain kanker, bahaya pemanis buatan juga bisa menyebabkan timbulnya penyakit kronis. Dalam sebuah penelitian di Inggris, dalam jangka waktu kurang lebih 11 tahun ditemukan, jika orang yang konsumsi dua kaleng makanan maupun minuman yang di dalamnya terkandung pemanis buatan tinggi risikonya untuk timbul beberapa penyakit kronis, seperti penyakit ginjal kronis serta penyakit jantung koroner.

Maka tidak heran, jika banyak yang kurang merkomendasikan konsumsi pemanis bauta dalam jumlah banyak dan jangka panjang.

3. Meningkatkan gula darah

ilustrasi tes gula darah dan diabetes | pexels.com/@wdnet
ilustrasi tes gula darah dan diabetes | pexels.com/@wdnet

Dalam sebuah penelitian yang mempelajari tentang penggunaan dari pemanis buatan, khususnya pada penderita diabetes tipe-2, menunjukkan jika penggunaan beberapa jenis pemanis buatan, seperti aspartame atau sukralosa, sangat berisiko memicu peningkatan tingkat gula darah.

Itu sebabnya, mengapa jika Anda adalah penderita diabetes, ada baiknya untuk tidak mengonsumsi jenis pemanis buatan yaitu aspartame atau sukralosa. Sebab, hal ini tentu akan meningkatkan risiko bahaya bagi kesehatan tubuh.

4. Menyebabkan kecanduan gula

ilustrasi permen/Photo by Laura Briedis on Unsplash
ilustrasi permen/Photo by Laura Briedis on Unsplash

Dengan rasa yang cenderung lebih manis jika dibandingkan dengan gula, serta banyaknya masyarakat yang kerap menggunakan pemanis buatan dengan berlebihan, menyebabkan lidah mereka cenderung terbiasa dengan manis yang berlebihan. Padahal ini bisa berdampak buruk terhadap kesehatan.

Di mana, mereka jadi tidak bisa lagi mengonsumsi minuman yang memiliki rasa tidak manis seperti kopi pahit atau teh tawar. Begitu juga dengan makanan, di mana mereka jadi lebih cenderung gemar mengonsumsi makanan yang memiliki rasa sangat manis.

Akhirnya, konsumsi gula jadi kelewat banyak. Bahkan hingga benar-benar kecanduan dan tidak bisa lepas dari konsumsi gula. Kondisi ini dalam jangka panjang tentu akan menyebabkan berbagai dampak buruk bagi kesehatan, salah satunya seperti diabetes.

5. Penyebab berat badan naik

Ilustrasi turunkan berat badan. (dok. Ketut Subiyanto/Pexels/Brigitta Bellion)
Ilustrasi turunkan berat badan. (dok. Ketut Subiyanto/Pexels/Brigitta Bellion)

Kendati tujuan awal penggunaan pemanis buatan yaitu untuk menurunkan berat badan, namun menjadi sangat ironi, ketika kebiasaan mengonsumsi pemanis buatan dalam jumlah berlebihan justru jadi salah satu penyebab kenaikan berat badan. Melansir Klikdokter, hal ini didukung oleh sebuah penelitian yang dilakukan di San Antonio kepada lebih dari 5.000 orang.

Dari hasil penelitian bisa ditunjukkan, jika bahaya pemanis buatan yang dikonsumsi secara rutin, serta dalam jangka waktu panjang bisa menjadi penyebab kenaikan berat badan. Itulah mengapa ada baiknya untuk memerhatikan konsumsi dari pemanis buatan tersebut.

6. Memicu depresi

Ilustrasi Serangan Panik Credit: pexels.com/AndreaPiacquadio
Ilustrasi Serangan Panik Credit: pexels.com/AndreaPiacquadio

Selanjutnya, bahaya pemanis buatan juga bisa memicu depresi. Terutama bagi orang-orang yang memang memiliki gangguan panik, konsumsi dari pemanis buatan secara berlebihan akan semakin tinggi memicu serangan panik kambuh. Padahal, jika serangan panik muncul berulang, bisa menjadi salah satu penyebab terganggunya kualitas hidup seseorang.

Jika kurang dihiraukan, adanya serangan panik yang berulang bisa menjadi penyebab timbulnya depresi. Itulah mengapa, sangat kuat alasan untuk tidak mengonsumsi pemanis buatan secara berlebihan. Mengingat, dampak yang ditimbulkan bisa sangat berbahaya.