6 Bahaya Terlalu Lama Menggunakan Masker, Sebabkan Masalah Kesehatan

Liputan6.com, Jakarta Masker merupakan salah satu alat pelindung pernapasan. Masker umumnya digunakan untuk melindungi diri dari udara yang tidak layak dihirup. Misalnya saja udara yang penuh dengan polusi dan udara yang penuh dengan virus/bakteri. Namun, menggunakan masker terlalu lama juga bukan kebiasaan baik. Justru ada banyak bahaya terlalu lama menggunakan masker yang jarang diketahui.

Semakin tebal masker yang digunakan, maka semakin bagus kerja masker terhadap penyaringan udara. Masker yang memiliki kemampuan menyaring lebih tinggi, juga akan membatasi penapasan lebih tinggi pula. Hal inilah yang membuat penggunaan masker harus lebih diperhatikan. Sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan serta kesehatan pemakainya. Agar bahaya terlalu lama menggunakan masker tidak pula mengancam nyawa.

Bahaya terlalu lama menggunakan masker juga akan semakin diperparah jika disertai aktivitas olahraga. Ketika berolahraga, jantung manusia akan lebih cepat berdetak dan napas akan semakin tersengal. Jadi, jika ingin berolahraga, sebaiknya pilih waktu dan situasi tepat agar tidak perlu menggunakan masker. Begitu juga dengan waktu penggunaan masker. Masker hanya bisa digunakan 8 jam saja, setelah itu masker harus segera diganti yang baru.

Berikut Liputan6.com ulas bahaya terlalu lama menggunakan masker dari berbagai sumber, Senin (15/6/2020).

Sakit Kepala

Ilustrasi Sakit Kepala (Ilustrasi/iStockphoto)

Sakit kepala termasuk salah satu bahaya terlalu lama menggunakan masker. Penggunaan masker harus disudahi ketika timbul rasa sakit dan tidak nyaman di kepala, kulit kepala, atau leher. Kepala akan terasa lebih berat dari biasanya dan leher terasa lebih kaku. Meski sebenarnya sakit kepala bukan kondisi parah dan bisa diatasi dengan obat pereda sakit, minum air putih cukup, dan banyak beristirahat. Namun, jika hal ini terus dilakukan secara berulang juga akan membahayakan nyawa.

Sebuah penelitian menemukan, ada sepertiga pekerja medis mengalami sakit kepala saat menggunakan masker N95. Kebanyakan dari mereka sudah memiliki kondisi sakit kepala bawaan. Kemudian sakit kepala yang dirasakan justru semakin memburuk setelah terlalu lama menggunakan masker.

Bukti dari penelitian ini menunjukkan, sakit kepala diakibatkan oksigenasi darah berkurang atau peningkatan karbon dioksida dalam darah. Sedangkan masker N95 yang dipakai berjam-jam, bisa mengurangi oksigenasi darah sebanyak 20%.

Peningkatan RAW

ilustrasi sesak napas (sumber: iStockphoto)

Bahaya terlalu lama menggunakan masker bisa menyebabkan resistensi saluran napas (RAW). Kondisi ketika ada hambatan yang dihasilkan oleh gaya gesek aliran udara. Gesekan ini masuk ke dalam saluran napas dengan dinding saluran napas. Resitensi saluran napas bisa terjadi akibat kontraksi otot polos bronkial, volume paru, densitas, dan viskositas gas respirasi. Jika kondisinya terus dibiarkan, akan timbul penyakit asma bronkiale, penyakit paru obstruktif kronik, dan obesity hipoventilation syndrome.

Penimbunan Karbon Dioksida

Ilustrasi Pemakaian Masker Credit: pexels.com/Anna

Penimbunan karbon Dioksida akan terjadi jika terlalu lama menggunakan masker. Pertukaran antara oksigen dan karbon dioksida akan terganggu. Kemungkinan dari sulitnya pertukaran keduanya, yakni menyebabkan penimbunan pada karbon dioksida. Hal ini sudah pasti akan membahayakan tubuh, meski sebenarnya karbon dioksida penting untuk tubuh.

Gas karbon dioksida akan berperan mengatur tingkat keasaman (pH) darah dan mendukung proses pernapasan. Tubuh yang kekurangan atau kelebihan karbon dioksida, dapat mengalami gangguan keseimbangan asam basa dan keracunan karbon dioksida. Sedangkan tubuh yang memiliki kadar karbon dioksida teralu tinggi bisa menjadi asidosis. Asidosis bisa menyebabkan oksigen dalam darah sulit dilepaskan ke dalam sel tubuh dan tubuh menjadi kekurangan oksigen. Penderita akan merasa mual, muntal, pusing, sakit kepala, dan detak jantungnya meningkat, hingga alami koma dan kematian.

Hipoksia

Ilustrasi Lemas. (Ilustrasi: iStockphoto)

Hipoksia termasuk salah satu bahaya terlalu lama menggunakan masker. Kondisi ini akan menyebabkan kurangnya pasokan oksigen di sel dan jaringan tubuh. Hipoksia terjadi ketika terdapat gangguan dalam sistem transportasi oksigen dari mulai bernapas sampai oksigen digunakan sel tubuh. Jika dibiarkan, kondisi ini akan mengganggu fungsi otak, hati, dan organ lainnya dengan cepat. Bahkan hipoksia juga bisa memicu terjadinya anoksia.

Gejala timbulnya hipoksia, yakni:

- Napas pendek dan cepat.

- Detak jantung cepat.

- Warna kulit menjadi agak kebiruan atau dapat menjadi merah terang seperti buah ceri, tergantung penyebab dari hipoksianya.

- Lemas.

- Menjadi linglung atau bingung.

- Kehilangan kesadaran.

- Berkeringat.

- Batuk.

- Rasa seperti dicekik.

- Napas berbunyi (mengi).

Anoksia

Ilustrasi Lemas (iStockphoto)

Setelah hipoksia, kondisi dari bahaya terlalu lama menggunakan masker bisa menyebabkan anoksia. Ketika tubuh atau otak berhenti mendapatkan asupan oksigen. Hipoksia yang berubah menjadi anoksia, akan menyebabkan otak, jantung, ginjal, dan jaringan tubuh berhenti bekerja. Empat sampai lima menit setelah oksigen habis, otak dapat mengalami kerusakan secara permanen.

Sel otak bisa mati dan memengaruhi berbagai fungsi yang dikendalikan langsung oleh otak. Kemungkinan terburuknya akan menyebabkan komplikasi hingga kematian. Penderita akan merasakan sakit kepala, pengingkatan kecepatan bernapas, penglihatan mati rasa, dan mudah berkeringat. Ketika kondisinya sudah sangat parah, penderita akan mengalami kebingungan, sering mengantuk, munculnya sianosis/semburat biru pada kulit.

 

Iritasi Kulit

ilustrasi masker | pexels.com/@polina-tankilevitch

Iritasi kulit bisa terjadi karena terlalu lama menggunakan masker. Bahaya terlalu lama menggunakan masker ini disebabkan gesekan dan tekanan masker. Biasanya terjadi di hidung, pipi, bawah mata, dan dagu. Iritasi juga bisa terjadi karena kelembapan udara akibat napas. Iritasi kulit, dehidrasi kulit, dan jerawat akan terjadi di sekitar mulut karena kelembapan alami kulit hilang.

Solusi agar terhindar dari iritasi, selalu bersihkan wajah dan beri pelembab untuk memperbaiki kondisi kulit. Lakukan sebelum tidur dan sebelum mulai memakai masker. Bagi kulit sensitif, sangat direkomendasikan untuk menggunakan produk pelembap yang mengandung ceramide, squalene, niacinamide, dan/atau asam hyaluronic. Sementara hindari produk anti-penuaan untuk sementara waktu karena justru berpotensi mengiritasi kulit.