6 Dampak Buruk Helicopter Parenting untuk Kesehatan Mental dan Fisik Anak

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Setiap orangtua tentu selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Hal ini membuat orangtua tak segan-segan selalu membantu si kecil dalam segala hal.

Hal ini jika dilakukan secara berlebihan menandakan kamu menerapkan pola asuh helicopter parenting. Melansir dari Parents, Helicopter jenis pola asuh yang terlalu overprotektif pada anak.

“Mereka terlalu ikut campur dalam segala urusan anak, terutama pada hal-hal yang berkaitan dengan kesuksesan dan kegagalan si kecil,” kata Carolyn Daitch, Ph.D., Direktur The Center for the Treatment of Anxiety Disorders. Secara sederhananya, pola asuh ini membuat orangtua selalu siap sedia membantu anak.

Pola asuh ini tampaknya sangat membantu anak-anak dalam jangka pendek karena orangtua selalu siap sedia membantu anak-anak dalam segala hal. Namun, dalam jangka panjang, helicopter parenting berdampak pada masalah kesehatan mental anak. Dikutip dari Pscyhology Today, berikit ini 6 dampak buruk dari pola asuh helicopter parenting.

1. Mereka memiliki lebih banyak masalah kesehatan

Waspadai dampak buruk Helicopter Parenting, pola asuh orang tua yang terlalu overprotektif pada anak. (Foto:Instagram.com/Marcos Paulo Prado).
Waspadai dampak buruk Helicopter Parenting, pola asuh orang tua yang terlalu overprotektif pada anak. (Foto:Instagram.com/Marcos Paulo Prado).

Sebuah studi tahun 2016 dari Florida State University menemukan bahwa anak-anak helikopter lebih cenderung memiliki masalah kesehatan di masa dewasa.

Hal ini dikarenakan, mereka tidak pernah belajar bagaimana mengelola kesehatan mereka karena orang tua mereka selalu memberi tahu mereka kapan harus tidur, kapan harus berolahraga, dan apa yang harus dimakan.

Studi menunjukkan bahwa dengan tidak adanya pengingat terus-menerus, anak-anak helikopter tidak merawat tubuh mereka.

2. Meningkatkan kecemasan anak

Waspadai dampak buruk Helicopter Parenting, pola asuh orang tua yang terlalu overprotektif pada anak. (Foto:Instagram.com/Annie Spratt).
Waspadai dampak buruk Helicopter Parenting, pola asuh orang tua yang terlalu overprotektif pada anak. (Foto:Instagram.com/Annie Spratt).

Penelitian yang diterbitkan oleh Cognitive Therapy and Research menemukan, helicopter parenting berdampak pada kecemasan anak jangka panjang.

Penelitian ini dilakukan dengan mendorong anak-anak menyelesaikan teka-teki sebanyak mungkin dalam waktu 10 menit. Dalam penelitian ini, orangtua diizinkan membantu anak-anak, tetapi tidak disarankan untuk melakukannya.

Hasilnya, peneliti menemukan orang tua dengan kecemasan sosial lebih sering menyentuh teka-teki anak dan membantu mereka meski si kecil tidak memintanya. Akibatnya, pola asuh ini dapat meningkatkan kecemasan anak.

3. Anak merasa dirinya istimewa

Waspadai dampak buruk Helicopter Parenting, pola asuh orang tua yang terlalu overprotektif pada anak. (Foto:Instagram.com/Allen Taylor).
Waspadai dampak buruk Helicopter Parenting, pola asuh orang tua yang terlalu overprotektif pada anak. (Foto:Instagram.com/Allen Taylor).

Orang tua helikopter sangat menyayangi anak-anak mereka sehingga anak-anak cenderung berpikir bahwa mereka sangat istimewa. adalah pusat alam semesta. Dan anggapan bahwa mereka istimewa tidak hilang ketika mereka berusia 18 tahun.

Para peneliti dari University of Arizona menemukan bahwa anak-anak helikopter tumbuh dengan perasaan berhak. Artinya, mereka selalu ingin keinginannya dituruti.

4. Anak tumbuh dengan masalah emosional

Waspadai dampak buruk Helicopter Parenting, pola asuh orang tua yang terlalu overprotektif pada anak. (Foto:Instagram.com/Mick Haupt).
Waspadai dampak buruk Helicopter Parenting, pola asuh orang tua yang terlalu overprotektif pada anak. (Foto:Instagram.com/Mick Haupt).

Pada orangtua yang menerapkan pola asuh ini, anak-anak menjadi tumbuh tanpa belajar cara mengendalikan emosi mereka. Kurangnya keterampilan pengaturan emosi ini menjadi masalah besar ketika mereka menghadapi dunia luar.

Sebuah studi 2013 yang dilakukan oleh para peneliti di University of Mary Washington di Virginia menemukan bahwa mahasiswa yang dibesarkan oleh orangtua dengan helicopter parenting lebih cenderung mengalami depresi, dan melaporkan kepuasan yang lebih rendah dengan kehidupan mereka secara keseluruhan.

5. Mereka bergantung pada obat-obatan

Waspadai dampak buruk Helicopter Parenting, pola asuh orang tua yang terlalu overprotektif pada anak. (Foto:Instagram.com/Ryan Franco).
Waspadai dampak buruk Helicopter Parenting, pola asuh orang tua yang terlalu overprotektif pada anak. (Foto:Instagram.com/Ryan Franco).

Anak-anak yang dibesarkan dengan helicopter parenting tidak terbiasa menoleransi ketidaknyamanan. Orang tua mereka melindungi mereka dari rasa sakit dan mencegah mereka menghadapi kesulitan.

Sehinga ketika mereka mengalami sakit, mereka cenderung meraih pengobatan. Mereka ingin rasa sakit mereka cepat teratasi.

Sebuah studi tahun 2011 yang dilakukan oleh para peneliti di University of Tennessee di Chattanooga menemukan bahwa mahasiswa yang orang tuanya berada jauh lebih mungkin untuk minum obat untuk kecemasan dan depresi . Mereka juga lebih cenderung mengonsumsi pil pereda nyeri untuk rekreasi.

6. Tumbuh dengan kurang motivasi

Waspadai dampak buruk Helicopter Parenting, pola asuh orang tua yang terlalu overprotektif pada anak. (Foto:Instagram.com/chinhleduc).
Waspadai dampak buruk Helicopter Parenting, pola asuh orang tua yang terlalu overprotektif pada anak. (Foto:Instagram.com/chinhleduc).

Umumnya, anak-anak yang dibesarkan dengan helicopter parenting tidak memiliki waktu luang sebanyak anak-anak lain. Lingkungan mereka biasanya sangat terstuktur karena diatur oleh orangtua mereka secara ketat.

Akibatnya, mereka menjadi tidak memiliki konyrol mental dan motivasi untuk dapat berhasil.

Dalam studi yang diterbitkan tahun 2014, menemukan anak-anak yang dibesarkan dengan helicopter parenting cenderung senang menunda-nunda, tidak memiliki inisiatif, dan kurang memiliki motivasi untuk berhasil.

#Elevate Women

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel