6 Fakta Ditemukannya CVR Sriwijaya Air SJ-182 dengan Kapal Penyedot Lumpur

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta Cockpit voice recorder (CVR) atau perekam suara kokpit pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang jatuh di Kepulauan Seribu, Sabtu, 9 Januari lalu telah ditemukan setelah dua bulan lebih pencarian. Hal tersebut disampaikan Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi di Terminal JITC, Tanjung Proiok, Rabu (31/3/2021).

Budi menjelaskan, CVR ditemukan pada Selasa, 30 Maret malam sekitar pukul 20.00 WIB. Data-data pada CVR, lanjut Menhub akan melengkapi informasi dari flight data recorder (FDR) yang sudah ditemukan sebelumnya.

"Flight data recorder itu akan paripurna apabila dilakukan suatu penggabungan. Apa yang tejadi di kokpit yaitu pembicaraan antara pilot dan kopilot dan itu akan melengkapi data dari FDR," ujarnya.

Menhub menyatakan, penemuan CVR pesawat Sriwijaya Air SJ-182 telah dilaporkan kepada Presiden Joko Widodo atau Jokowi, kemudian akan segera diberikan pada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk diteliti.

Sebelumnya, Pesawat Sriwijaya Air bernomor register PK-CLC dengan nomor penerbangan SJ-182 rute Jakarta-Pontianak hilang kontak pada pukul 14.40 WIB. Burung besi tersebut dilaporkan jatuh di antara Pulau Lancang dan Pulau Laki, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.

Pesawat jenis Boeing 737-500 itu sempat hilang kontak pada posisi 11 nautical mile di utara Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang setelah melewati ketinggian 11.000 kaki dan pada saat menambah ketinggian di 13.000 kaki.

Sebanyak 62 penumpang beserta kru Sriwijaya Air tewas dalam kecelakaan tersebut.

Berikut ini adalah sejumlah hal terkait ditemukannya CVR Sriwijaya dihimpun Liputan6.com:

1. Ditemukan Tidak Jauh dari Lokasi FDR

Menhub Budi Karya Sumadi mengakatan, CVR Sriwijaya Air SJ-182 ditemukan tidak jauh dengan lokasi yang sebelumnya ditemukan Flight Data Recorder (FDR).

"Alhamdulillah semalam jam 20.00 (CVR) ditemukan di tempat yang tidak jauh dari ditemukan FDR," kata Menhub di Terminal JITC, Tanjung Proiok, Rabu (31/3/2021).

Budi menjelaskan, data-data pada CVR akan melengkapi informasi dari flight data recorder (FDR) yang sudah ditemukan sebelumnya.

"Flight data recorder itu akan paripurna apabila dilakukan suatu penggabungan apa yang tejadi di kokpit yaitu pembicaraan antara pilot dan kopilot dan itu akan melengkapi data dari FDR," ujarnya.

2. Telah Lapor Presiden dan Serahkan Pada KNKT untuk Diteliti

Selanjutnya, Menhub juga menyatakan penemuan cockpit voice recorder (CVR) pesawat Sriwijaya Air SJ-182 telah dilaporkan kepada Presiden Jokowi.

"Secara teknis, penemuan ini sudah dilaporkan ke kami dan kami sudah lapor ke presiden bahwa ini sudah ditemukan," kata Budi di JICT II, Jakarta Utara, Rabu (31/3/2021).

Penemuan CVR tersebut selanjutkan akan segera diberikan pada KNKT untuk diteliti.

"Secara teknis kami sudah melapor ke Pak Presiden, kami segera berikan ke KNKT,” ucapnya.

"Yang kita temukan hari ini kita sampaikan puji syukur pada Tuhan, apa yang ditemukan itu adalah upaya untuk mendapatkan data lebih baik," tambah dia.

3. Pencarian Cukup Sulit karena Puing dan Lumpur

Menurut Budi, pencarian CVR cukup sulit lantaran banyaknya puing pesawat dan lumpur.

"Apa yang dilakukan tidak mudah karena didahului kita mencari secara teknis di mana penyelam ke dasar laut, tapi banyak sekali puing-puing, sehingga metode diubah," pungkasnya.

Sebelumnya, CVR black box pesawat Sriwijaya SJ182 masih dalam pencarian dan disebut terpecah menjadi beberapa bagian saat pesawat jatuh.

CVR tersebut diperlukan untuk investigasi penyebab kecelakaan Sriwijaya Air SJ182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu.

4. Ditemukan dengan Kapal Penyedot Lumpur

Sementara itu, Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto menerangkan pencarian selama ini kurang lebih selama 1,5 bulan mengandalkan penyelam dari tim gabungan TNI AL Basarnas dan sebagainya. Namun hasilnya nihil.

KNKT kemudian memutuskan untuk menghentikan sementara pencarian CVR selama 1 minggu. Momen ini juga dijadikan sebagai bahan evaluasi metode pencaria.

Berdasarkan analisa tim, KNKT menggunakan kapal Drag Head Suction Hopper Dredger (DSHD) untuk mengangkat lumpur di titik lokasi keberadaan CVR. Area pembersihan lumpur seluas 90x90 meter.

Soerjanto menuturkan, penggunaan kapal ini disebabkan tebalnya lumpur sehingga CVR mustahil ditemukan jika hanya mengandalkan tim penyelam.

"Area di situ banyak lumpurnya dengan kapal DSHD kami lakukan pencarian menggunakan penyedot lumpur. Jadi seperti vacum cleaner," kata Soerjanto di JICT, Rabu (31/3/2021).

5. Transkrip CVR Diperkirakan Selesai 3 Sampai 7 Hari

Usai ditemukan, KNKT akan menindaklanjuti data dari CVR tersebut. Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan, proses transkrip data dari CVR diperkirakan selesai dalam kurun tiga hari atau satu pekan.

"VCR akan kita bawa ke lab, kita akan proses yang memerlukan waktu 3 hari sampai 1 minggu kita akan buat transkrip untuk dimatching dengan FDR apa yang terjadi dalam cockpit sehingga kita bisa analisa kenapa data FDR begini," ujar Soerjanto di JICT, Rabu (31/3/2021).

6. Kronologi Penemuan CVR Sriwijaya Air

Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono membeberkan kronologi pencarian hingga ditemukannya Cockpit Voice Recorder (CVR) atau perekam suara kokpit dalam black box pesawat Sriwijaya Air SJ 182.

“Sebelum operasi Badan SAR Nasional ditutup, kita telah menemukan Flight Data Recorder (FDR) dan dua pinker locator (alat pendeteksi)," katanya dalam keterangan pers Penemuan CVR Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di Terminal JICT II Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Rabu (31/3/2021).

Soerjanto menjelaskan, meskipun posisi dua pinker tersebut dalam kondisi terpisah, tim gabungan berhasil menemukan FDR.

Lanjut dia, setelah operasi pencarian dinyatakan ditutup oleh BASARNAS pada 21 Januari lalu, tim KNKT terus melanjutkan pencarian bersama tim gabungan yang terdiri dari unsur TNI hingga warga Kepulauan Seribu dengan beberapa penyelam dari BASARNAS, TNI AL, namun tidak membuahkan hasil.

Ia mengungkapkan, setelah upaya pencarian CVR selama satu bulan setengah, tim gabungan memutuskan untuk mengubah metode pencarian.

"Kami istirahat satu minggu kemudian mengevaluasi kira-kira metode apa lagi yang bisa kita gunakan dalam pencarian kotak hitam ini," katanya.

Kemudian, KNKT memutuskan untuk mengerahkan kapal penyedot lumpur atau Trailing Suction Hopper Dredger (TSHD) King Arthur 8 saat melakukan upaya pencarian CVR.

"Dengan kapal itu kita tahu area yang dicari 90x90 meter. Kapal TSHD ini ada penyedot lumpur seperti vacuum cleaner, kita lakukan hingga kedalaman 1 meter," jelasnya.

Soerjanto menambahkan, hingga hari ke 4 pencarian menggunakan Kapal TSHD belum membuahkan hasil, kemudian pada hari terakhir pencarian, Selasa, 30 Maret akhirnya CVR berhasil ditemukan.

Dinda Permata (Magang)

Saksikan video pilihan di bawah ini: