6 Fakta Film Losmen Bu Broto, Meminang Maudy Ayunda di Amerika Hingga Revisi Naskah 9 Kali

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Losmen Bu Broto sempat trending di mesin pencari Google. Film karya sineas Ifa Isfansyah dan Eddie Cahyono ini kebanjiran pujian penonton dan para pemerhati film.

Losmen Bu Broto adalah reboot dari serial legendaris Losmen yang tayang di TVRI dekade 1980-an. Kala itu, Mieke Wijaya didapuk menghidupkan karakter Bu Broto yang ikonis.

Dirilis di bioskop di tengah pandemi Covid-19 mulai Kamis, 18 November 2021, berikut 6 fakta dari balik layar Losmen Bu Broto. Ada yang sudah menonton filmnya?

Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

1. Museum Kotagede Yogyakarta

Para pemain film Losmen Bu Broto yakni Maudy Koesnaedi, Maudy Ayunda, dan Baskara Mahendra. (Foto: Dok Instagram @maudyayunda)
Para pemain film Losmen Bu Broto yakni Maudy Koesnaedi, Maudy Ayunda, dan Baskara Mahendra. (Foto: Dok Instagram @maudyayunda)

Menerapkan protokol kesehatan ketat, lokasi syuting Losmen Bu Broto berlokasi di museum Kotagede Yogyakarta, pantai Parangtritis, dan salah satu pasar di Kota Gudeg. Sejak awal, film ini memang direncanakan dipoles dua sutradara.

“Salah satu produser, yakni Andi Boediman menginginkan Eddie Cahyono karena jatuh hati pada film Siti. Lalu kami duetkan dengan Ifa Isfansyah,” beri tahu produser Paragon Pictures, Robert Ronny.

2. Positif Covid-19

Produser Robert Ronny dalam gala premiere Losmen Bu Broto, Solo, November 2021. (Foto: Dok. Instagram @robertronny)
Produser Robert Ronny dalam gala premiere Losmen Bu Broto, Solo, November 2021. (Foto: Dok. Instagram @robertronny)

Syuting Losmen Bu Broto yang sedianya 24 hari molor menjadi 28 hari. Ada sebuah kendala yang sempat bikin pemain dan kru syok, yakni Robert Ronny terpapar virus Corona.

“Di Jogja, saya enggak enak badan dan setelah menjalani uji usap, ternyata positif Covid-19. Seluruh pemain dan kru lalu di-swab, beruntung hasilnya negatif,” ujarnya dalam interviu via telepon dengan Showbiz Liputan6.com.

3. Meminang Maudy Ayunda

Maudy Ayunda merilis lagu baru berjudul
Maudy Ayunda merilis lagu baru berjudul

Konflik utama Losmen Bu Broto bertumpu pada tokoh Sri. Maka, pemeran Sri harus punya aura kebintangan yang dengan mudah memenangkan hati penonton. “Nama Maudy Ayunda lalu tercetus,” Robert Ronny mengingat, Jumat (19/11/2021).

Saat itu pelantun “Untuk Apa” kuliah di AS. Maudy Ayunda yang ditawari peran Sri mengabari orangtuanya. Orangtua menyarankan Maudy mengambil peran ini karena mereka dulu rajin menonton Losmen yang fenomenal.

4. Mengapa Maudy Koesnaedi

Maudy Koesnaedi sebagai Bu Broto. (Foto: Dok. Paragon Pictures)
Maudy Koesnaedi sebagai Bu Broto. (Foto: Dok. Paragon Pictures)

Saat menulis naskah Losmen Bu Broto, para produser belum tahu siapa yang pantas memerankan karakter ini. Maudy Koesnaedi awalnya dinilai kurang pas menjadi Bu Broto.

“Usianya 46 tahun tapi wajahnya jauh lebih muda. Saya awalnya ragu. Maudy saat ditawari antusias. Setelah tes kamera, dia pas jadi Bu Broto. Solusinya, anak-anak Bu Broto dimudakan,” terangnya.

5. Revisi Naskah 9 Kali

Maudy Koesnaedi dan para pemain Losmen Bu Broto. (Foto: Instagram @maudykoesnaedi)
Maudy Koesnaedi dan para pemain Losmen Bu Broto. (Foto: Instagram @maudykoesnaedi)

Semula konflik film ini tak seperti yang tersaji di layar lebar sekarang. Awalnya, film mengangkat konflik Losmen versus hotel kekinian yang menjamur di Bumi Mataram.

“Ditulis Alim Sudio, sempat direvisi dua kali. Lalu saya, Andi Boediman, Ifa, Eddie, termasuk Kamila Andini berbagi ide. Naskah direvisi hingga sembilan kali. Barulah kami syuting,” Robert Ronny memaparkan.

6. Target Jumlah Penonton

Adegan film Losmen Bu Broto. (Foto: Dok. Paragon Pictures)
Adegan film Losmen Bu Broto. (Foto: Dok. Paragon Pictures)

Sebelum tayang di bioskop, sejumlah pihak menggoda Losmen Bu Broto agar banting setir ke platform streaming. Namun, Robert Ronny dan tim berkukuh untuk menayangkannya di bioskop mengingat pengalaman sinematik tak bisa ditukar dengan medium lain.

“Saya berkali mengawal editing sampai kebal dengan konfliknya. Oktober 2021, saya tes DCP di Epicentrum XXI Jakarta. Saat itu saya merasakan letupan emosi dalam konflik keluarga ini. Genrenya drama, namun tetap saja pengalaman menonton di bioskop sensasinya lebih dahsyat,” pungkasnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel