6 Fakta Lonjakan Harga Minyak Goreng, Siapa Biang Keroknya?

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Harga minyak goreng saat ini terhitung mahal, misalnya untuk minyak goreng curah dikisaran Rp 17.000 per liter dan minyak goreng kemasan Rp 17.500 per liter.

Ternyata kenaikan harga minyak goreng tersebut ada faktornya, salah satunya dikarenakan gejala akibat pasokan bahan baku untuk minyak nabati dunia menurun. Sehingga harga minyak goreng melonjak tajam alias mahal.

Berikut fakta-fakta soal harga minyak goreng yang melonjak, dirangkum oleh Liputan6.com, Kamis (25/11/2021).

1. Penurunan Produksi CPO Global

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan, mengatakan “Terjadi penurunan produksi CPO dari Malaysia angkanya kisaran 8 persen. kemungkinan produksi CPO dalam negeri di Indonesia juga akan turun, dari target 49 juta ton mungkin akan dihasilkan 47 juta ton.”

Selain itu, Kanada sebagai pemasok minyak nabati untuk canola oil juga mengalami penurunan di angka 6 persen. Dengan hal ini maka harga minyak goreng dunia naik, sebab bahan baku tidak ada. Belum lagi ada krisis energi di beberapa negara, seperti di India, Eropa, China terjadi.

2. Faktor Internal dari Dalam negeri

Faktor kedua, dari sisi internal Indonesia, entitas produsen minyak goreng di Indonesia belum terafiliasi dengan kebun sawit penghasil CPO. Maka produsen minyak goreng sangat tergantung pada harga CPO global.

“Yang harga CPO begitu meningkat dan ini menjadikan harga minyak goreng curah dan kemasan meningkat tajam,” ujarnya.

Berbicara terkait Harga Eceran Tertinggi (HET) minyak goreng memang ada dikisaran Rp 11 ribu per liter. Namun pada saat penyusunan HET tersebut, harga CPO masih dikisaran USD 500-600 per metrik ton.

“Dan saat ini posisinya sudah di USD 1.365 per metrik ton, dan itu langsung berpengaruh karena entitas minyak goreng di kits itu ada 435 dna didominasi oleh ketergantungan CPO, karena tidak selalu produsen minyak goreng terafiliasi dengan kebun sawitnya, maka itulah yang menyebabkan kenaikan,” ujar Oke.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

3. Diprediksi Masih Mahal hingga Awal 2022

Pembeli berbelanja dekat kertas pemberitahuan pembatasan pembelian di supermarket Kawasan Cirendeu, Tangsel, Rabu (18/3/2020). Satgas Pangan meminta pedagang membatasi penjualan bahan pokok yakni beras, gula, minyak goreng dan mi instan untuk menjaga stabilitas harga. (merdeka.com/Arie Basuki)
Pembeli berbelanja dekat kertas pemberitahuan pembatasan pembelian di supermarket Kawasan Cirendeu, Tangsel, Rabu (18/3/2020). Satgas Pangan meminta pedagang membatasi penjualan bahan pokok yakni beras, gula, minyak goreng dan mi instan untuk menjaga stabilitas harga. (merdeka.com/Arie Basuki)

Kementerian Perdagangan (Kemendag) memprediksi harga minyak goreng akan terus meningkat sampai awal tahun 2022. Hal itu disebabkan karena terjadi kenaikan harga crude palm oil (CPO) atau minyak kelapa sawit di seluruh dunia.

“Ini berpotensi terus bergerak, dan kita memprediksi sampai kuartal I -2022 pun masih meningkat terus, karena termasuk sebagai komoditi Oke supercycle harganya melonjak tajam,” kata Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan, dalam diskusi Indef PEI 2022: Pemulihan di Atas Fundamental Rapuh, Rabu (24/11/2021).

4. Pemerintah Komunikasi dengan Produsen

“Untuk itu saat ini Pemerintah sudah berbicara dengan para produsen untuk menginformasikan secara rutin kepada masyarakat tentang posisi harga minyak goreng ini setiap waktu. Sehingga ini harus ada edukasi kepada masyarakat bahwa beberapa komoditi akan kemungkinan naik,” ujar Oke.

Oke menegaskan, yang tak kalah penting bahan baku penolong juga perlu diperhatikan. Karena bahan baku penolong dari negara sumbernya juga terjadi inflasi yang tinggi bahkan di China sebesar 13 persen, itu akan berdampak pada komoditi atau produk-produk bahan baku penolong akan naik.

Memang diperlukan edukasi kepada masyarakat terkait harga minyak goreng meningkat. Oleh karena itu, dia menegaskan kembali Pemerintah sudah berbicara dengan produsen, dan produsen pun sudah memberikan perhatian yang khusus.

5. Sambut Nataru, 11 Juta Liter Minyak Goreng Siap Diedarkan

Pedagang menunjukkan minyak goreng di sebuah pasar di Kota Tangerang, Banten, Selasa (9/11/2011). Bank Indonesia mengatakan penyumbang utama inflasi November 2021 sampai minggu pertama bulan ini yaitu komoditas minyak goreng yang naik 0,04 persen mom. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pedagang menunjukkan minyak goreng di sebuah pasar di Kota Tangerang, Banten, Selasa (9/11/2011). Bank Indonesia mengatakan penyumbang utama inflasi November 2021 sampai minggu pertama bulan ini yaitu komoditas minyak goreng yang naik 0,04 persen mom. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

“Khusus untuk natal dan tahun baru produsen pun telah menyiapkan kemasan minyak goreng dengan kemasan sederhana dengan harga Rp 14 ribu yang akan didistribusikan melalui ritel, mereka sudah bekerja sama dengan ritel modern sudah disiapkan sebanyak 11 juta liter ,” kata Oke.

Persiapan tersebut untuk memberikan kepada masyarakat yang masih membutuhkan meskipun dalam keadan terbatas agar tetap membeli minyak goreng dengan kemasan sederhana dan terjangkau.

6. Mulai 1 Januari 2022 Kemendag Larang Edar Minyak Goreng Curah

Mulai 1 Januari 2022 Kementerian Perdagangan (Kemendag) melarang peredaran minyak goreng curah. Yang diperbolehkan adalah minyak goreng dalam kemasan sederhana, tujuannya untuk mengantisipasi meningkatnya harga dalam jangka pendek.

“Tidak diizinkan lagi mulai 1 januari 2022 minyak goreng diedarkan dalam keadaan curah, tinggal dua negara yang sepengetahuan saya yang masih mengedarkan minyak goreng curah yaitu Bangladesh dengan Indonesia,” kata Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan, dalam diskusi Indef PEI 2022: Pemulihan di Atas Fundamental Rapuh, Rabu (24/11/2021).

Menurutnya, jika peredaran minyak goreng semuanya dalam kemasan maka harga akan terkendali, tidak harus selalu ada perubahan jika bahan baku meningkat tidak akan langsung berdampak pada harga minyak goreng.

“Meskipun jangka panjangnya pasti akan berdampak tetapi tidak langsung. Kalau saat ini karena minyak goreng curah ini cukup tinggi kebutuhannya bahkan hampir kalau kita gabungkan minyak goreng curah rumah tangga dan industri itu kami masih mengizinkan,” pungkasnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel