6 Fakta Menarik Pekanbaru yang Berawal dari Kota Kecil di Tepian Sungai Siak

·Bacaan 6 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kota Pekanbaru adalah ibu kota dan kota terbesar di Provinsi Riau, Indonesia. Kota ini merupakan salah satu sentra ekonomi terbesar di Pulau Sumatra dan termasuk kota dengan tingkat pertumbuhan, migrasi, dan urbanisasi yang tinggi.

Pekanbaru terletak di tepian Sungai Siak dan pada awalnya merupakan sebuah kota kecil yang memiliki pasar (pekan) yang bernama Payung Sekaki atau Senapelan. Pada abad ke-18, wilayah yang kini menjadi Pekanbaru berada pada lingkar pengaruh Kesultanan Siak, dan Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah ("Marhum Pekan") secara luas dianggap sebagai pendiri kota Pekanbaru modern.

Sultan Siak ke-4 Sultan Alamuddin Syah memindahkan pusat kekuasaan Siak dari Mempura ke Senapelan pada 1762. Pada 23 Juni 1784, berdasarkan musyawarah "Dewan Menteri" dari Kesultanan Siak yang terdiri dari datuk empat suku (Pesisir, Limapuluh, Tanah Datar, dan Kampar), kawasan ini dinamai dengan Pekanbaru, dan di kemudian hari diperingati sebagai hari jadi kota ini.

Perekonomian Pekanbaru didukung oleh perdagangan dan pertambangan minyak bumi. Kota ini memiliki Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II, terminal bus antar-kota dan antar-provinsi, serta dua pelabuhan.

Pada 2017, jumlah penduduknya sekitar 886.226 jiwa. Populasi Pekanbaru bersifat kosmopolitan, dipengaruhi oleh letak strategisnya di tengah-tengah Lintas Timur Jalan Raya Lintas Sumatra. Beberapa etnis yang memiliki populasi signifikan di kota ini antara lain adalah suku Minangkabau, Orang Ocu, Melayu, Jawa, Batak, dan Tionghoa.

Tentu bukan itu saja hal-hal menarik dari Pekanbaru. Berikut enam fakta menarik seputar Kota Pekanbaru yang dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber.

1. Sejarah Pekanbaru

Pekanbaru pernah menjadi bagian distrik dari Kesultanan Siak. Namun pada 1931, Pekanbaru dimasukkan ke dalam wilayah Kampar Kiri yang dikepalai oleh seorang controleur yang berkedudukan di Pekanbaru, kemudian menjadi ibu kota Onderafdeling Kampar Kiri sampai 1942. Setelah pendudukan Jepang pada 8 Maret 1942, Pekanbaru dikepalai oleh seorang gubernur militer yang disebut gokung.

Selepas kemerdekaan Indonesia, berdasarkan Ketetapan Gubernur Sumatra di Medan tanggal 7 Mei 1946 Nomor 103, Pekanbaru dijadikan daerah otonom yang disebut haminte (kotapraja). Status itu berubah lagi pada 19 Maret 1956, berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1956, Pekanbaru (Pakanbaru) menjadi daerah otonom kota kecil dalam lingkungan Provinsi Sumatra Tengah.

Selanjutnya, sejak 9 Agustus 1957 berdasarkan Undang-undang Darurat Nomor 19 Tahun 1957, Pekanbaru masuk ke dalam wilayah Provinsi Riau yang baru terbentuk .Kota Pekanbaru resmi menjadi ibu kota Provinsi Riau pada 20 Januari 1959 berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor Desember 52/I/44-25. Sebelumnya, ibu kota Riau adalah Tanjung Pinang, yang kini menjadi ibu kota Provinsi Kepulauan Riau.

2. Masjid Raya Pekanbaru

Masjid Raya Pekanbaru atau Masjid Senapelan Pekanbaru merupakan salah satu masjid tertua di Riau, bahkan di Indonesia. Masjid ini dibangun oleh Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, sebagai sultan keempat dari Kerajaan Siak Sri Indrapura, pada abad ke-18, tepatnya pada 1762. Pembangunannya diteruskan pada masa Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah sebagai sultan kelima dari Kerajaan Siak Sri Indrapura

Masjid ini mengalami beberapa renovasi. Renovasi terakhir terjadi pada 1940, yang ditambahkan sebuah pintu gerbang masjid yang menghadap ke arah timur.

Dengan memertimbangkan masih adanya peninggalan sejarah dan budaya yang tersisa, Tim Ahli Cagar Budaya Nasional dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayan merekomendasikan untuk mengubah statusnya dari Bangunan Cagar Budaya menjadi Struktur Cagar Budaya, melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 209/M/2017 tentang Status Bangunan Cagar Budaya Masjid Raya Pekanbaru pada 3 Agustus 2017.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

3. Perpustakaan Soeman HS

Perpustakaan Soeman HS di Pekanbaru, Riau. (dok.Instagram @rika_armita/https://www.instagram.com/p/BcWO0NIFdvR/Henry)
Perpustakaan Soeman HS di Pekanbaru, Riau. (dok.Instagram @rika_armita/https://www.instagram.com/p/BcWO0NIFdvR/Henry)

Perpustakaan Soeman HS adalah salah satu perpustakaan dan penyimpanan arsip nasional yang berstatus perpustakaan provinsi. Perpustakaan ini adalah yang terbesar di Riau dan salah satu yang terbesar di Indonesia. Perpustakan Soeman HS berlokasi di tengah kota, tepatnya di Jalan Sudirman.

Perpustakaan berlantai 6 ini diresmikan oleh Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla pada 2008. Selain menjadi ruang baca, perpustakaan ini juga sekaligus menjadi ruang publik bagi masyarakat. Desainnya unik terinsipirasi dari alas baca Alquran sekilas juga mirip dengan buku yang sedang terbuka.

Selain bangunannya yang megah dan unik, Perpustakaan Soeman HS juga menyimpan sejumlah literatur terkait Melayu yang cukup lengkap. Nama perpustakaan itu bertujuan untuk mengenang jasa pujangga asal Riau keturunan Tapanuli, yaitu Soeman Hasibuan. Perpustakaan Soeman HS termasuk salah satu ikon baru pariwisata Kota Pekanbaru.

4. Tari Makan Sirih

Riau punya banyak kesenian tradisional, terutama tarian. Salah satunya adalah Tari Persembahan atau yang sering disebut dengan Tari Makan Sirih yang banyak ditampilkan di Pekanbaru. Tari Makan Sirih adalah tarian bertema gembira dan menggunakan gerakan Tari Lenggang Patah Sembilan. salah satu penari dalam tari persembahan akan membawa kotak yang berisi sirih.

Sirih dalam kotak tersebut kemudian dibuka dan tamu yang dianggap agung diberi kesempatan pertama untuk mengambilnya sebagai bentuk penghormatan, kemudian diikuti oleh tamu yang lain. Tarian ini kerap ditampilkan di berbagai acara resmi maupun acara kesenian di Pekanbaru terutama untuk menyambut tamu khusus dari daerah lain.

5. Kuliner khas Pekanbaru

Es Laksamana Mengamuk di Pulau Penyengat. (Liputan6.com/Putu Elmira)
Es Laksamana Mengamuk di Pulau Penyengat. (Liputan6.com/Putu Elmira)

Pekanbaru punya beragam kuliner khas. Salah satunya adalah Mi Sagu. Mi sagu merupakan makanan berkarbohidrat yang bisa jadi pengganti nasi. Kandungan gula dalam sagu sangat rendah, sehingga cocok dikonsumsi oleh penderita diabetes.

Tak hanya sehat, mi sagu juga memiliki rasa yang nikmat. Teksturnya lebih kenyal dibandingkan mi berbahan terigu. Sangat cocok diolah dengan cara digoreng ataupun direbus. Ada pula Asam Pedas Ikan Baung. Ikan yang bentuknya mirip dengan ikan lele ini memiliki daging tebal, lembut, dan tanpa duri

Sementara, jenis minuman diwakili Es Laksamana Mengamuk. Minuman yang terdiri dari buah kweni, santan, dan gula merah ini sangat pas dinikmati saat siang hari yang panas. Kuliner khas lainnya, ada Gulai Belacan, Gulai Siput, Miso, Ikan Asap Selais, Kue Bangkit, Lopek Bugi, Keripik Nanas dan masih banyak lagi.

6. Destinasi Wisata Pekanbaru

Ada sejumlah destinasi wisata menarik di Kota Pekanbaru. Salah satunya adalah Balai Adat Melayu Riau yang terletak di Jalan Diponegoro. Bangunan ini terdiri dari dua lantai, di lantai atasnya terpampang beberapa ungkapan adat dan pasal-pasal Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji sastrawan keturunan Bugis.

Di Jalan Sudirman juga terdapat Gedung Taman Budaya Riau yang berfungsi sebagai tempat pergelaran berbagai kegiatan budaya dan seni Melayu Riau dan kegiatan-kegiatan lainnya. Bersebelahan dengan gedung ini terdapat Museum Sang Nila Utama, merupakan museum daerah Riau yang memiliki berbagai koleksi benda bersejarah, seni, dan budaya.

Selanjutnya, Anjung Seni Idrus Tintin, salah satu ikon budaya di Kota Pekanbaru, merupakan bangunan dengan arsitektur tradisional, menggunakan nama seorang seniman Riau, Idrus Tintin. Lalu ada Taman Wisata Alam Mayang. Meski berada di daerah perkotaan, tempat wisata ini konsepnya berupa taman hijau terbuka dan dilengkapi beragam wahana yang mengasyikkan. Ada taman, kolam ikan, flying fox, kolam pemancingan, sepeda air, bumper cars, dan kereta safari.

Ada juga Desa Wisata Okura yang ditetapkan sebagai desa wisata sejak 2010. Namun, namanya baru mulai dikenal luas dalam beberapa tahun terakhir. Desa ini unik karena masih dihuni oleh suku asli, yaitu suku Melayu Riau. Desa Wisata Okura dikenal sebagai kawasan pertanian. Hal ini terlihat dari hamparan sawah yang luas dan subur. Anda pun dapat berjalan menyusuri alam pedesaan sembari menikmati segarnya udara.

8 Tips Liburan Akhir Tahun Minim Risiko Penularan Covid-19

Infografis 8 Tips Liburan Akhir Tahun Minim Risiko Penularan Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis 8 Tips Liburan Akhir Tahun Minim Risiko Penularan Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel