6 Fakta Menarik tentang Alor, Negeri Seribu Moko

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta - Alor merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang terletak di bagian timur laut. Kabupaten seluas 2.864,64 km2 itu terdiri dari tiga pulau besar dan enam pulau kecil yang saat ini ada penghuninya.

Secara geografis, kondisi daerah yang memiliki 17 kecamatan itu merupakan daerah pegunungan yang dikelilingi oleh lembah-lembah dan jurang-jurang. Sekitar 63,94 persen dari wilayah Alor merupakan daerah dengan kemiringan lebih dari 40 derajat.

Terhimpit di antara rimbunnya gugusan pulau di ujung timur Flores, Alor adalah lokasi impian penyelam dan petualang berbagai negara. Alor bahkan dielu-elukan sebanding dengan keindahan taman bahwa laut di Karibia.

Namun, hal-hal menarik tentang Alor tak hanya itu. Liputan6.com merangkum enam fakta di antaranya yang dikutip dari berbagai sumber, Jumat, 12 Februari 2021.

1. Negeri Seribu Moko

Salah satu keunikan yang dapat Anda jumpai di Alor adalah ditemukannya banyak moko. Benda itu adalah salah satu peninggalan budaya pra-sejarah Dongson di Vietnam Utara.

Memiliki julukan Negeri Seribu Moko di Alor, tidaklah mengherankan karena memang moko telah berperan penting bagi masyarakat Alor sejak zaman dahulu. Masyarakat Alor menyebut moko sebagai sebutan untuk nekara perunggu. Umumnya bentuk moko di Alor tergolong nekara tipe pejeng dengan bentuk dasar lonjong seperti gendang berbagai ukuran.

Moko berdiameter 40-60 sentimeter dan tingginya 80-100 sentimeter, memiliki empat tali yang berfungsi sebagai peganggan. Terdapat pola hias yang beragam tergantung zaman pembuatannya. Bila diperhatikan saksama, bentuknya mirip dengan benda-benda perunggu di Pulau Jawa pada masa Kerajaan Majapahit.

Moko berperan penting bagi masyarakat Alor, yaitu jumlah dan jenis moko tertentu yang dimiliki dapat menunjukkan status sosial seseorang. Sementara pada zaman dulu, Moho sempat berfungsi sebagai alat tukar ekonomi masyarakat pulau ini, bahkan menyebabkan inflasi pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Akhirnya, penguasa membuat sistem baru yang membatasi peredaran Moko di Pulau Alor.

Moko juga digunakan sebagai gendang untuk mengiringi tarian adat. Biasanya alat musik gong dan moko dimainkan untuk mengiringi tari-tarian tradisional seperti tarian lego-lego.

Selain sebagai alat musik tradisional, moko juga berfungsi sebagai peralatan belis atau mas kawin. Dalam tradisi pernikahan masyarakat Alor, moko digunakan sebagai alat pembayaran belis atau mas kawin seorang laki-laki kepada calon istrinya.

2. Keindahan Pantai di Alor

Seorang nelayan di Kabupaten Alor melestarikan biaota laut.
Seorang nelayan di Kabupaten Alor melestarikan biaota laut.

Alor dikenal dengan pulau berbentuk burung dengan wisata pantai yang luar biasa indah. Salah satunya Pantai Ling'Al yang terletak di sisi barat daya Pulau Alor. Tepatnya di Kampung Lingal, Desa Halerman, Kecamatan Alor Barat Daya atau sekitar 150 km dari pusat Kota Kalabahi.

Dengan hamparan pesisir sekitar 500 meter, pantai ini memiliki pemandangan kontras ketika pasir putih bertemu dengan birunya air laut. Eksotismenya juga terdapat pada perbukitan hijau di belakangnya.

Ada pula Pantai Batu Putih yang terletak di Desa Alila Timur, Kecamatan Kabola, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Pantai ini merupakan salah satu pantai kebanggaan warga Alor. Tak heran jika pantai ini selalu ramai dikunjungi wisatawan baik di hari libur maupun hari biasa.

Dinamakan pantai batu putih karena banyak dikelilingi oleh tebing-tebing batu berwarna putih. Di sini pengunjung bisa memanjakan mata dengan pemandangan alam yang indah. Selain menikmati keindahan alam, pantai ini kerap digunakan sebagai tempat foto pre-wedding.

3. Upacara Adat Ala Baloe

Upacara Adat Ala Baloe (Makan Baru Padi) merupakan upacara syukuran setelah panen kebun atau ladang yang dilakukan oleh masyarakat di Kampung Bangpalalo, Kecamatan Alor Barat Laut, Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Upacara ini menyimbolkan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, para leluhur dan sesama. Upacara tersebut biasanya diadakan pada Juni atau juli dalam setiap tahun.

Upacara ini mengandung nilai-nilai kehidupan yang masih tetap dijunjung oleh masyarakat setempat, yakni mensyukuri nikmat rezeki hasil panen padi yang diberikan Tuhan pada masyarakat. Selain itu, untuk mengingat dan mengenang kembali jasa-jasa para leluhur yang telah meniggal dunia, dan memupuk dan meningkatkan rasa solidaritas sesama manusia sejak dari leluhur nenek moyang.

4. Kaya akan Bahasa Daerah

Keunikan lain dari kabupaten yang berbatasan laut dengan negara Timor Leste ini memiliki 42 bahasa daerah, 12 di antaranya logat atau dialeknya yang hampir sama. Setiap kampung atau desa memiliki bahasa yang berbeda-beda. Bahkan dalam satu desa, setiap dusunnya pun beda bahasa.

Perbedaan bahasa itu, lantaran topografi dan geografi di wilayahnya adalah pegunungan dan lembah. Antara satu desa dengan desa lainnya dibatasi oleh gunung, sehingga masing-masing warganya menggunakan bahasanya sendiri.

5. Al Quran Tertua di Asia Tenggara

Berbahan kulit kayu, Alquran peninggalan penyebar Islam di Alor, NTT, tetap terpelihara baik. (http://tourism.nttprov.go.id)
Berbahan kulit kayu, Alquran peninggalan penyebar Islam di Alor, NTT, tetap terpelihara baik. (http://tourism.nttprov.go.id)

Alquran tertua di Asia Tenggara ternyata tersimpan di Tanah Air. Alquran ini milik Kesultanan Ternate dan berada di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.

Kitab suci agama Islam dari kulit kayu tersebut berusia ratusan tahun dan berisikan ayat-ayat Al Quran lengkap 30 juz (114 surat) dengan pembungkus berupa kotak kayu, tersimpan di rumah Nurdin Gogo yang tak lain adalah turunan dari Sultan Iang Gogo asal Ternate, Maluku.

Alquran ini dibawa ke Alor Besar pada 1519 Masehi oleh Iang Gogo yang merantau bersama empat saudaranya dengan misi menyebarkan Islam hingga ke Alor. Kitab suci ini dibawa pada masa Kesultanan Babullah V dengan menggunakan perahu layar yang menurut riwayat bernama Tuma Ninah yang berarti "Singgah Sebentar".

6. Popcorn Khas Alor

Selain memiliki alam yang menawan, Alor juga mempunyai makanan khas lokal. Salah satu yang harus dicicipi saat berkunjung ke Alor adalah Jagung Titi. Bisa dibilang inilah popcorn khas Nusa Tenggara Timur.

Cara pembuatannya dimulai dengan menyangrai jagung kemudian dipipihkan. Rasanya sangat mirip popcorn, tapi bentuknya seperti emping. Jagung titi biasa cocok dijadikan camilan untuk menemani minum kopi atau teh.

Tak hanya itu, adapun Kue Rambut nama kue tersebut mewakili bentuk kue yang berserabut halus layaknya rambut, yang kemudian dibentuk menjadi bentuk segitiga. Kue rambut terbuat dari tepung singkong dan campuran gula lontar. (Melia Setiawati)

Mending Liburan di Rumah Saja

Infografis Daripada Jemput Virus Corona, Mendingan Liburan di Rumah Saja. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Daripada Jemput Virus Corona, Mendingan Liburan di Rumah Saja. (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: