6 Fakta Menarik Tolitoli yang Miliki Legenda 3 Manusia Kahyangan

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Toli-Toli merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah. Dulunya, kabupaten ini bernama Buol ToliToli. Setelah munculnya Undang-Undang No. 51 Tahun 1999, daerah ini dimekarkan menjadi dua kabupaten, yaitu Kabupaten Tolitoli dan Kabupaten Buol.

Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Tolitoli. Wilayahnya berbatasan dengan Laut Sulawesi dan Kabupaten Buol di sebelah utara, Kabupaten Parigi Moutong di sebelah selatan, Selat Makassar di sebelah barat, serta Kabupaten Buol di sebelah timur.

Luas wilayah Tolitoli 4.079,77 kilometer persegi yang terbagi menjadi sepuluh kecamatan. Lampasio merupakan kecamatan terluas di kabupaten ini dengan wilayah 626 kilometer persegi, sementara Dampal Utara merupakan kecamatan terkecil seluas 182,88 kilometer persegi.

Pada 2020, jumlah penduduk Kabupaten Tolitoli sebanyak 225.154 jiwa. Penduduk laki-laki di kabupaten ini lebih banyak daripada perempuan, yaitu 115.056 jiwa penduduk laki-laki dan 110.098 jiwa penduduk perempuan. Tidak hanya itu, berikut enam fakta menarik lain tentang Kabupaten Tolitoli yang dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber.

1. Asal-muasal Nama Tolitoli

Nama Tolitoli berasal dari kata Totolu yang dapat diartikan sebagai Tiga. Menurut masyarakat setempat, tiga mengarah pada suku bangsa Tolitoli dari tiga manusia kahyangan yang turun ke Bumi melalui Olisan Bulan (bambu emas), Bumbung Lanjat (puncak pohon langsat), dan Ue Saka (sejenis rotan).

Olisan Bulan dikenal pula sebagai Tau Dei Baolan atau disebut Tamadika Baolan, Ue Saka dikenal sebagai Tau Dei Galang atau Tamadika Dei Galang, serta bumbung Lanjat menjelma sebagai seorang putri yang dikenal sebagai Tau Dei Bumbung Lanjat atau Boki Bulan.

Pada 1858, berdasarkan Langgae-Contract yang ditandatangani pihak Belanda antara Dirk Francois dengan Raja Bantilan Safiuddin dari Kerajaan Tolitoli, nama Totolu telah berubah menjadi Tontoli. Selanjutnya, pada 1918, berdasarkan Korte Verklaring yang ditandatangani oleh Raja Mohammad Ali dengan pemerintah Belanda, nama Tontoli berubah menjadi Tolitoli.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2. Pantai Sabang Tende

Keindahan bawah laut di Pantai Sabang Tende, Kabupaten Toli-Toli, Provinsi Sulawesi Tengah. (dok. pariwisata.tolitolikab.go.id)
Keindahan bawah laut di Pantai Sabang Tende, Kabupaten Toli-Toli, Provinsi Sulawesi Tengah. (dok. pariwisata.tolitolikab.go.id)

Pantai Sabang Tende terletak di Desa Sabang, Kecamatan Galang, tepatnya di sebelah utara pusat Kota Tolitoli. Pantai ini merupakan tempat penyelaman yang jadi andalan karena pemandangan bawah lautnya yang masih asri.

Selain itu, pantai ini terkenal dengan hamparan pasir putih yang halus dan bersih dan tempat snorkeling para wisatawan. Di sekitar Pulau Sabang Tende terdapat banyak biota laut tridacna clams, sejenis kerang air asin berukuran 10-40 cm dengan warna yang beragam.

3. Pulau Salando

Pulau Salando merupakan pulau kecil terluar dari Provinsi Sulawesi Tengah yang terletak di Desa Kapas, Kecamatan Dakopemean. Keistimewaan yang dimiliki oleh pulau ini yaitu pasir putih yang halus serta pasir timbul seluas dua kilometer persegi ketika air laut surut.

Masyarakat sekitar menyebut Pulau Salando sebagai Pulau Lampu. Pulau ini hanya didiami oleh dua orang penjaga lampu mercusuar dan anggota keluarga mereka.

Pulau ini juga dikenal dengan keanekaragaman biota laut, seperti Lionfish, ikan yang berbisa banyak ditemukan di pulau ini. Biota laut lainnya yaitu murry, nudibranch, ikan pari, dan ikan napoleon, salah satu jenis ikan yang dilindungi.

4. Tari Moduai

Pada zaman kerajaan, tarian ini dipentaskan untuk menyambut tamu raja. Kini, tari moduai biasanya ditampilkan untuk penyambutan tamu penting, seperti tokoh masyarakat dan ketua adat.

Para tamu lalu diminta untuk berjalan perlahan sambil diiringi kolintang masarama sampai ke pintu gerbang tempat pertemuan. Setelah itu para tamu dihamburkan beras kuning dan diucapkan kata-kata penyambutan tertentu dalam Bahasa Toli-Toli.

5. Desa Wisata Malangga

Rumah Langko di Desa Wisata Malangga, Kabupaten Toli-Toli, Provinsi Sulawesi Tengah. (dok. jadesta.com)
Rumah Langko di Desa Wisata Malangga, Kabupaten Toli-Toli, Provinsi Sulawesi Tengah. (dok. jadesta.com)

Desa wisata Malangga berada di Kecamatan Galang, sekitar 60 menit dari pusat Kota Toli-Toli. Keunikan di desa ini adalah rumah penduduk memiliki atap yang dapat dibuka dan ditutup yang disebut Rumah Langko.

Bagian atap rumah berfungsi untuk menaruh hasil bumi pada plafon rumah agar cahaya matahari dapat langsung mengeringkan hasil bumi tanpa menjemur di depan rumah. Hasil panen Kecamatan Galang antara lain bayam, cabai besar, cabai rawit, dan bawang merah.

Selain itu, warga Desa Malangga masih membuat gua merah dan minyak kelapa secara tradisional. Setiap tahun, warga desa juga melaksanakan upacara adat panen. Dalam ajang Anugerah Desa Wisata 2021, desa ini masuk dalam 300 desa wisata terbaik.

6. Air Terjun Malangga

Air Terjun Malangga berada di Desa Tinigi, Kecamatan Galang. Air terjun setinggi lima meter ini dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua dan melewati perbukitan.

Air terjun ini menjadi tempat favorit warga Tolitoli untuk berlibur. Air terjun ini memiliki kedalaman tiga meter yang menjadi tempat tinggal biota air tawar, yaitu udang air tawar dan ikan mujair.

Pemandangan sekeliling air terjun adalah hutan tropis yang luas. Pengunjung dapat melihat pula berbagai jenis hewan yang tinggal di sana, seperti kakatua putih, hewan langka yang tidak dilindungi. Selain itu, terdapat pula monyet hitam, kus-kus, babi hutan, dan ayam hutan. (Gabriella Ajeng Larasati)

Manfaat Tes Rapid Antigen dan PCR

Infografis Manfaat Tes Usap Rapid Antigen dan PCR. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Manfaat Tes Usap Rapid Antigen dan PCR. (Liputan6.com/Trieyasni)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel