6 Faktor Pengaruhi Ketidakstabilan Harga Karet di Sumsel

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Palembang - Naik turunnya harga karet di Sumatera Selatan (Sumsel), dirasakan pengusaha perkebunan karet setiap hari.

Asisten Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel Nur Ahmadi mengatakan, rata-rata setiap bulan harga menurun hanya per sekian rupiah.

Seperti di bulan Desember 2020 lalu, harga karet mencapai Rp 14.097 per Kilogram (Kg). Namun kini, harga karet merosot di angka Rp 13.924 per Kg, untuk kondisi Kadar Karet Kering (KKK) 70 persen.

Untuk harga karet juga, tergantung dari kadarnya yang setiap harinya berbeda-beda. Ada KKK dari 40-70 persen hingga 100 persen.

“Ini karena pasar uang internasional, permintaan konsumen, dan tersedianya karet. Tapi stok karet di Sumsel selalu ada setiap hari,” ucapnya,

Dia mengatakan, kualitas karet ekspor atau Standar Indonesia Rubber (SIR), telah melalui proses pengolahan di pabrik.

Gapkindo Sumsel sendiri, menaungi 29 unit pabrik di Sumsel. Selain di Sumsel, ada juga di Bangka Belitung.

“Kami sebagai asosiasi yang ditunjuk, untuk mengurusi karet Indonesia, khususnya di wilayah Sumsel,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang (Kabid) Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (P2HP) Dinas Perkebunan Provinsi Sumsel Rudi Arpian menuturkan, harga komoditi karet di wilayahnya sangat tergantung dengan harga internasional.

“Harga tersebut tergantung khususnya di Bursa Singapore Comodity (SICOM). Setiap hari harga bisa naik atau turun,” katanya di Palembang Sumsel.

Menurutnya, ada enam faktor yang mempengaruhi harag karet di pasar internasional. Yaitu, nilai tukar rupiah terhadap dollar, penggunaan karet sintetis sebagai competitor karet alam dan suplay dan demand di pasar karet internasional.

Lalu, perkembangan industri berbahan baku karet, faktor cuaca dan hama penyakit, serta permainan spekulan di Pasar Berjangka International.

Harga Karet Sumsel

Pembangunan aspal karet untuk jalan nasional di Sumsel sudah menggunakan bahan baku karet mentah dari petani lokal (Dok. BBPJN Wilayah Sumsel / Nefri Inge)
Pembangunan aspal karet untuk jalan nasional di Sumsel sudah menggunakan bahan baku karet mentah dari petani lokal (Dok. BBPJN Wilayah Sumsel / Nefri Inge)

“Sejak masa pendemi Covid-19, harga di pasar internasional mendapat harga keseimbangan baru, suplay sama dengan demand,” ujarnya.

Salah satunya karena permintaah industri hilir berbahan baku karet yang menurun. Serta produksi karet dari negara produsen yang juga menurun. Ini merupakan dampak dari penyakit gugur daun tahun lalu yang belum pulih dan cuaca ekstrim di negara produsen karet.

“Untuk Sumsel harga FOB Rp18.000 - Rp19.000 per Kg untuk KKK 100 persen sudah cukup baik. Itu berlangsung sejak pekan kedua pada Oktober, sampai pekan ketiga pada Februari 2021,” katanya.

Umur Simpan Bokar

Presiden Jokowi mengecek kualitas karet di Sembawa, Kabupaten Banyuasin Sumsel (Dok. Humas Pemprov Sumsel / Nefri Inge)
Presiden Jokowi mengecek kualitas karet di Sembawa, Kabupaten Banyuasin Sumsel (Dok. Humas Pemprov Sumsel / Nefri Inge)

Di tingkat kelembagaan Petani UPPB, harga saat ini berfluktuasi antara Rp9.000 - Rp 11.000 per Kg untuk karet mingguan, dengan KKK antara 50 persen hingga 60 persen.

Sedangkan di luar UPPB, sekitar 75 persen dari jumlah petani karet di Sumsel, hanya menikmati harga Rp 6.000 - Rp8.000 per kg. Hal tersebut karena kualitas KKK hanya sebesar 50 persen.

“Itu karena umur simpan bokar mereka tidak sampai satu pekan. Biasanya umur 2-3 hari sudah mereka jual, karena kebutuhan rumah tangga yang mendesak. Bahkan ada kebiasan petani, merendam karet ke dalam kolam serta tidak menjaga kebersihan karet dari tatal dan tanah,” katanya.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini :