6 Gejala Penyakit Antraks, Penyebab, Pengobatan, dan Cara Mencegahnya

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Penyakit antraks merupakan jenis penyakit menular dan berisiko mengancam nyawa. Penyakit ini disebabkan karena adanya kuman Bacillus anthracis. Umumnya, jenis bakteri ini akan menjangkiti berbagai hewan ternak, seperti kambing, sapi, atau kuda.

Penyakit antraks sendiri juga sering disebut dengan penyakit sapi gila. Sebenarnya, dalam keadaan normal bakteri penyebab penyakit antraks hanya menghasilkan spora yang tidak aktif dan biasa hidup di tanah. Sayangnya saat spora masuk ke dalam tubuh binatang atau manusia, spora tersebut dapat menjadi aktif.

Pada manusia, penyakit antraks dapat menular dikarenakan kontak dengan binatang, daging, wol, maupun dengan kulit binatang yang sudah terlanjur terinfeksi. Selain itu, bisa juga penyakit antraks tersebut menyerang akibat adanya kontak langsung dengan penderita penyakit antraks itu sendiri.

Sayangnya, tidak banyak gejala penyakit antraks yang disadari. Hal ini tentu menjadi masalah tersendiri. Pasalnya, dengan memahami gejala penyakit antraks, dapat mempercepat penanganan terhadap penyakit berbahaya tersebut.

Berikut Liputan6.com telah merangkum dari berbagai sumber, mengenai gejala penyakit antraks, penyebab, pengobatan, serta cara pencegahannya, Jumat (5/2/2021).

Gejala Penyakit Antraks

Ilustrasi luka. (dok. Pixabay/Novi Thedora
Ilustrasi luka. (dok. Pixabay/Novi Thedora

1. Muncul luka yang semakin parah

Gejala penyakit antraks yang pertama, timbul luka atau lecet pada kulit, namun kondisi nya semakin parah. Jika penderita terpapar bakteri antraks dari hasil kontak dengan hewan yang sakit, maka hal tersebut memang dapat bisa menimbulkan gejala penyakit antraks berupa gangguan pada kulit.

Gejala penyakit antraks ini umumnya muncul 1–7 hari setelah bersentuhan dengan hewan yang sakit. Tahapannya, pada kulit akan muncul luka terbuka atau lecet yang rasanya gatal. Lalu, hanya dalam waktu singkat, luka tersebut bisa menjadi borok dan bahkan mulai bernanah. Luka tersebut biasanya akan timbul di bagian kulit lengan, kepala, atau leher.

2. Kelenjar getah bening di sekitar luka membengkak

Saat ada luka yang berat pada kulit, sering menyebabkan kelenjar getah bening yang ada di sekitarnya jadi membengkak. Kondisi adanya luka dan borok pada kulit yang diakibatkan penyakit antraks daapt berlangsung selama dua minggu, sebelum akhirnya berubah menjadi jaringan parut dan akan menimbulkan bekas luka permanen pada kulit.

3. Demam dan bengkak di leher

Selanjutnya, gejala penyakit antraks dapat berupa demam dan bengkak pada leher. Terutama jika bakteri antraks masuk ke tubuh dengan cara terhirup ke saluran pernapasan. Biasanya gejala penyakit antraks ini mulai timbul sekitar 2–7 hari kemudian. Memang, gejala penyakit antraks ini berupa demam dan bengkak di leher. Namun, lama kelamaan akan muncul luka di rongga mulut.

Bahayanya, kondisi luka tersebut akan melebar serta membentuk semacam membran atau selaput pada mulut jika sudah berusia dua minggu.

Gejala Penyakit Antraks

Ilustrasi Sesak Napas Credit: unsplash.com/Laura
Ilustrasi Sesak Napas Credit: unsplash.com/Laura

4. Nyeri tenggorokan hingga sulit bernapas

Kemudian, gejala penyakit antraks bisa mengalami nyeri tenggorokan, kesulitan menelan, serta kesulitan bernapas. Adanya perdarahan pada rongga mulut juga dapat terjadi. Sebenarnya, gejala penyakit antraks inilah yang sering menyebabkan antraks yang masuk melalui saluran napas jadi sangat berbahaya.

5. Demam dan nyeri perut

Ketika bakteri antraks masuk melalui saluran pencernaan, gejala penyakit antraks umumnya akan muncul sekitar 2–5 hari setelah bakteri tersebut tertelan oleh penderita. Ada pun gejala yang paling utama dapat berupa demam dan nyeri perut.

6. Mual hingga muntah darah

Bahkan, jika kondisinya sudah sangat parah, maka penderita penyakit antraks dapat mengalami gejala seperti mual, muntah, bahkan muntah darah juga bisa terjadi. Apabila kondisinya sudah muntah darah sangat banyak, maka penderita penyakit antraks bisa mengalami syok.

Penyebab Penyakit Antraks

Bacillus anthracis, bakteri penyebab antraks (Wikipedia)
Bacillus anthracis, bakteri penyebab antraks (Wikipedia)

Penyebab penyakit antraks sendiri dikarenakan spora bakteri Bacillus anthracis. Spora tersebut terdapat di tanah dan dapat hidup tidak aktif tanpa inang selama bertahun-tahun.

Spora tersebut hanya akan menjadi racun dan menyebar ke seluruh bagian tubuh saat melakukan kontak dengan binatang dan manusia. Penularan kepada manusia dapat terjadi melalui 3 cara, seperti kontak kulit, inhalasi, serta daging yang sudah terkontaminasi.

Memang ada banyak faktor yang bisa menyebabkan seseorang tertular penyakit antraks. Seperti oleh orang-orang yang bekerja dan memerlukan kontak dengan hewan ataupun daging. Penyebab seseorang terinfeksi antraks beberapa di antaranya karena:

- Bekerja mengolah produk hewan atau daging.

- Melakukan penelitian tentang penyakit antraks.

- Bertugas di daerah yang berisiko terserang penyakit antraks.

- Dokter hewan yang menangani hewan-hewan yang rentan terkena penyakit antraks.

Cara Pengobatan Penyakit Antraks

Ilustrasi vaksin corona | pexels.com/@rethaferguson
Ilustrasi vaksin corona | pexels.com/@rethaferguson

Pengobatan antraks dengan menggunakan antibiotik. Jenis antibiotik dan lama pemberian antibiotik tergantung dari gejala penyakit antraks yang dialami pasien. Tapi umumnya antibiotik yang digunakan adalah doksisiklin atau golongan kuinolon (seperti siprofloksasin dan levofloksasin).

Namun, apabila terjadi kondisi sesak napas yang berat atau syok, sangat perlu dilakukan perawatan di ruang rawat intensif.

Cara Mencegah Penyakit Antraks

Ilustrasi mencuci tangan (Dok.Unsplash)
Ilustrasi mencuci tangan (Dok.Unsplash)

Meski sudah dilakukan tindak pengobatan dari gejala penyakit antraks. Perlu tentunya untuk mencegah agar penyakit antraks tidak menjangkiti kembali. Untuk mencegah tertular antraks, bagi mereka yang sehari-hari bekerja dengan hewan atau produk hewan, ada baiknya untuk rutin mencuci tangan dengan air mengalir serta sabun setiap kali selesai bekerja.

Kemudian, selama bekerja juga sangat penting untuk selalu menggunakan alat pelindung diri yang dilengkapi dengan masker, goggle atau kacamata pelindung, sarung tangan, serta apron.