6 Hal Penting yang Harus Diketahui tentang Film Pulau Plastik

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Sampah plastik saat ini masih menjadi salah satu permasalahan lingkungan yang belum bisa diatasi dengan baik. Hampir seluruh kegiatan yang dilakukan oleh manusia melibatkan plastik, dan hal ini yang mendukung mencemarkan lingkungan. Isu lingkungan inilah yang diangkat menjadi sebuah film berjudul Pulau Plastik

Pulau Plastik dibuat dengan bentuk film dokumenter dan telah tayang di bioskop Indonesia pada 22 April 2021. Film dokumenter yang tayang di bioskop Indonesia secara komersil masih bisa dihitung dengan jari. Kehadiran Film Pulau Plastik ini diharapkan bisa menginspirasi para sineas Indonesia untuk membuat film dengan gendre serupa.

Visinema Pictures merilis film ini untuk memperingati Hari Bumi yang ke- 51. Film ini sebagai salah satu bentuk kepedulian insan perfilman Indonesia mengenai keadaan bumi, terutama menyangkut isu lingkungan yang tak berkesudahan.

Berikut beberapa hal perlu Anda ketahui tentang film Pulau Plastik, yang dirangkum oleh Liputan6.com dari beberapa sumber.

1. Menceritakan Perjuangan Kawula Muda

Film ini menceritakan tentang tiga individu yang berjuang untuk melawan polusi akibat penggunaan plastik sekali pakai. Gede Robi, adalah vokalis band grunge Bali Navicula; Tiza Mafira, pengacara muda dari Jakarta; dan Prigi Arisandi, ahli biologi dan penjaga sungai dari Jawa Timur.

Ketiga muda-mudi ini mengekplorasi sejauh mana polusi plastik yang terjadi di Indonesia, bagaimana hal ini telah memasuki rantai makanan dan mempengaruhi kesehatan manusia, serta upaya untuk mengatasi krisis polusi plastik tersebut.

Pengambaran tiga muda-mudi yang memerangi polusi sampah ini menujukkan bahwa pentingnya kesadaran anak bangsa tentang masalah tersebut. Saat masyarakat Indonesia terutama kaum muda sudah sadar tentang masalah ini, jadi kemungkinan besar masalah polusi sampah bisa diatasi.

2. Menggambarkan Keadaan Laut Indonesia

Film ini ingin menggambarkan keadaan laut Indonesia yang memprihatinkan. Satu sisi Indonesia merupakan negara maritim, di mana lautan lebih luas dibanding daratan serta kaya akan potensi sumber kekayaan laut, namun di sisi lain Indonesia juga menjadi negara kedua terbesar penghasil sampah plastik ke laut setelah China.

Melalui film ini diharapkan tumbuh kesadaran masyarakat Indonesia agar lebih bijak dalam penggunaan plastik sekali pakai. Banyak studi yang menunjukan tingginya jumlah mikroplastik yang ada di laut dan akhirnya menjadi makanan para biota laut. Biota laut yang telah memakan mikroplastik ini nantinya akan berakhir di piring makan kita, yang berarti kita pun mengonsumsi mikroplastik.

3. Hasil Kolaborasi dengan Pulau Plastik

Ilustrasi sampah plastik (dok.unsplash/ Nick Fewings)
Ilustrasi sampah plastik (dok.unsplash/ Nick Fewings)

Nama Pulau Plastik sendiri merujuk kepada sebuah gerakan sosial yang memiliki misi mengurangi sampah plastik di Bali. Pulau Plastik sendiri memanfaatkan budaya populer dan mencakup kampanye di media sosial dan beberapa media lain.

Kampanye yang dilakukan oleh Pulau Plastik ini bertujuan untuk mengubah perilaku masyarakat agar menolak, mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang plastik sekali pakai, mendukung implementasi kebijakan pemerintah di Bali tentang plastik sekali pakai, dan mendorong adopsi dan implementasi kebijakan tentang plastik sekali pakai pada skala nasional.

4. Dari Serial Jadi Film

Awalnya, Pulau Plastik sendiri berbentuk series yang terdiri dari empat episode yang setiap opisodenya berdurasi 20 menit. Film ini diproduksi oleh Kopernik dan Akarumput yang mencakup masalah utama seputar plastik sekali pakai, termasuk mikroplastik, pemilahan dan pembuangan rumah tangga, kebijakan pemerintah, serta industri makanan dan perhotelan.

Serial dengan empat episode ini memiliki judul yang berbeda di setiap episodenya. Episode pertama berjudul Segara Kertih (Harmoni dengan Lautan Kita), episode kedua berjudul Karmaphala (Konsekuensi Tindakan Kita), episode ketiga berujudul Bedawang Nala (Penyu yang Membawa Dunia), dan episode terakhir berjudul Tri Hita Karana (Hubungan Manusia, Tuhan dan Alam).

5. Penggabungan Jurnalisme Investigasi dan Budaya Populer

Film karya sutradara Dandhy D. Laksono dan Rahung Nasution ini merupakan penggabungan antara jurnalisme investigasi dan budaya populer. Jurnalisme investigasi sendiri merupakan kegiatan mengumpulkan, menulis, mengedit dan menerbitkan informasi yang bersifat investigatif atau menelusuri sebuah kasus mendalam yang dianggap memiliki kejanggalan. Jurnalisme invesigasi sendiri biasa memilih topik yang kompleks, dalam hal ini masalah polusi akibat sampah plastik.

Hasil dari laporan jurnalisme investigatif yang kompleks tersebut berusaha disampaikan dengan pendekatan budaya populer yang lebih dekat dengan masyarakat. Hasil tersebut dikemas dengan bahasa dan budaya masyarakat secara general agar lebih mudah dipahami dan dimaknai oleh para penonton.

6. Murni untuk Menyosialisasikan Bahaya Plastik

Angga Dwi Sasongko selaku eksekutif produser Visinema Pictures mengungkapkan, bahwa Pulau Plastik ini memiliki tujuan untuk menyadarkan masyarakat tentang bahayanya plastik terlebih jika masuk ke dalam tubuh. Film ini juga bertujuan untuk membantu usaha gerakan aktivis lingkungan yang selama ini telah berjuang mengkampanyekan bahaya plastik.

Karena tujuan film tersebut, Angga pun tidak mempermasalahkan soal pendapatan dari film ini. Menurutnya, ini adalah bukti kepedulian sineas dan industri film di Indonesia tentang isu-isu lingkungan yang terjadi di Indonesia. Ini juga sebagai komitmen mereka untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik. (Dinda Rizky Amalia Siregar)

Indonesia Sumbang Sampah Plastik Terbesar Kedua Sejagat

Infografis Indonesia Sumbang Sampah Plastik Terbesar Kedua Sejagat. (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Indonesia Sumbang Sampah Plastik Terbesar Kedua Sejagat. (Liputan6.com/Triyasni)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: