6 Hewan Berikut Ini Lebih Kejam dari Bawang Merah

Syahdan Nurdin, JohnyAkbar
·Bacaan 5 menit

VIVA – Dalam dongeng bawang merah dan bawang putih, karakter bawang merah dikenal sebagai sosok yang tamak dan sangat kejam. Ia tak segan menyiksa saudara tirinya hanya demi harta dan kepuasan hati.

Namun siapa sangka di dunia ini ternyata masih ada yang jauh lebih kejam dari bawang merah. Bahkan ia tega membunuh saudara kandungnya sendiri, supaya bisa menjadi satu-satunya. Begitulah gambaran dari kejamnya kehidupan di alam liar, hukum rimba berlaku, yang kuat dia yang berkuasa.

Yang kuat akan memangsa yang lemah dan yang lemah harus mampu bertahan dari kerasnya kehidupan.

1. Bayi Angsa Teritip Menggantung Nyawa di Tepi Tebing

Sekilas angsa teritip nampak seperti hewan yang lemah, tapi kenyataanya unggas ini sangat tangguh dan pemberani. Ketika waktunya bertelur angsa teritip akan membangun sarang disisi tebing batu yang tinggi dan terjal.

Tujuannya, tentu untuk menghindari serangan dari hewan pemangsa, seperti rubah arktik dan beruang. Kerasnya kehidupan sudah mereka rasakan sejak menetas dari telur, sang induk akan meninggalkan sarangnya untuk mencari makan dan membiarkan anak-anaknya kelaparan.

Bayi angsa teritip belum bisa terbang, mereka akan berjuang mengikuti induknya mencari makan dengan cara melompat dari tebing. Bagi si bayi angsa bak buah simalakama, jika tak lompat mati kelaparan, jika melompat pun mereka akan mati terluka jatuh dan menggelinding di bebatuan. Banyak yang selamat, tapi tak sedikit juga yang terluka dan mati, lalu dimangsa predator. Bayi angsa teritip yang selamat akan hidup bersama angsa teritip dewasa selama musim dingin.

2. Burung Kedasih Sang Pembawa Kematian

Mungkin Anda sering mendengar rumor, jika mendengar suara kicauan burung kedasih, pertanda akan ada kematian di sekitar Anda. Kehadiran burung kedasih sering kali dianggap sebagai pembawa petaka, mungkin mitos tersebut berkembang karena mengetahui pola hidup burung kedasih yang sangat kejam.

Burung kedasih dikenal dengan sifatnya yang licik dan merugikan burung lain, alih-alih membangun sarang untuk bertelur, burung ini lebih memilih menumpang di sarang burung lain dan membuang telur-telur yang sudah ada sebelumnya. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, sifat jahat dan licik mengalir turun-temurun di dalam darah burung ini.

Bayi burung kedasih memiliki hasrat untuk menjadi satu-satunya, burung yang pertama kali menetas akan membuang telur-telur yang belum menetas, agar tak perlu berbagi makanan dengan saudaranya. Hal kejam itu juga terjadi, apabila saudaranya sudah terlanjur menetas.

3. Persembahan Kepala untuk Sang Betina

Belalang sentadu atau lebih dikenal sebagai belalang sembah merupakan salah satu serangga yang unik karena sikap tubuhnya yang terlihat seperti sedang berdoa. Nyatanya serangga ini sangat mengerikan dan memiliki sifat layaknya zombie.

Belalang sembah memiliki kebiasaan memakan otak burung hidup-hidup, hewan mungil yang sering diremehkan ini ternyata berada di piramida makanan teratas, karena mampu membunuh berbagai hewan yang lebih besar, seperti katak, ulat, ular, dan tikus.

Walaupun kejam, belalang sembah ternyata memiliki pengorbanan cinta tak terbatas. Ketika proses kimpoi, belalang jantan akan secara sukarela menyerahkan kepalanya untuk dimakan betina. Proses alami ini dilakukan demi memenuhi kebutuhan protein belalang betina yang akan bertelur. Kekejaman tak berhenti sampai di situ, belalang betina akan memproduksi 100 hingga 200 ekor telur. Sangking banyaknya, bayi-bayi belalang yang baru lahir akan saling memangsa karena keterbatasan makanan.

4. Bertarung Nyawa dengan Saudara

Ikan hiu dikenal sebagai hewan yang paling ganas di lautan, giginya yang tajam mampu memangsa hewan lain yang lebih lemah. Tak jarang pula kasus ikan hiu yang menyerang manusia hingga merenggut korban jiwa. Keganasan ikan hiu ternyata sudah tertanam bahkan sebelum mereka lahir ke dunia.

Hiu harimau pasir memiliki sifat kanibalisme sejak masih dalam kandungan, embrio hiu yang dominan akan secara kejam memangsa embrio lainnya. Embrio yang pertama kali menetas akan tumbuh lebih cepat dan lebih besar daripada yang lain, dan pada saat inilah sang kakak akan memakan adik-adik yang lebih kecil dan lemah, untuk menunjukan siapa yang paling unggul.

Embrio di dalam rahim hiu betina berasal dari beberapa keturunan hiu jantan yang berbeda, persaingan antara embrio ini akan strategi evolusi hanya hiu yang berasal dari jantan yang paling agresif dan kuat saja yang dapat bertahan hidup.

5. Si Bungsu Yang Teraniaya Elang emas memiliki keunikan berkat bulu-bulunya yang berwarna keemasan ketika terkena sinar matahari, layaknya spesies elang hewan ini juga termasuk pemburu ganas yang suka menyergap mangsanya dari udara. Elang emas ternyata tak hanya bersikap kejam kepada mangsa dan musuhnya, tapi juga dengan saudara kandungnya sendiri.

Elang emas betina biasanya hanya bertelur sebanyak 2 butir, uniknya hewan ini membutuhkan jeda waktu 3 hari untuk mengeluarkan telurnya yang kedua. Ketika menetas bayi elang, berasal dari pertama sudah pasti memiliki ukuran yang lebih besar daripada telur kedua. Merasa tak perlu berbagi makanan dengan adiknya, si sulung akan menunjukan kuasanya dengan mematuki si bungsu.

Tak jarang sang adik elang yang malang ini akhirnya mati akibat kelaparan atau terluka parah. Walaupun kejam ternyata ada keuntungan bagi sang induk, jika jumlah anaknya yang harus dibesarkan oleh induk elang hanya 1 ekor, maka beban waktu dan tenaga yang diperlukan untuk mencarikan makanan menjadi lebih ringan.

6. Dikira Hewan Imut Tapi Ternyata Sangat Ganas

Kuda nil sering kali dinilai sebagai hewan yang lucu dan tak berbahaya, karena kerjanya hanya bermalas-malasan di air. Faktanya kuda nil adalah salah satu hewan paling mematikan di Afrika, dilaporkan seiap tahunnya lebih dari 300 korban meninggal akibat serangan hewan ini. Kuda nil lebih sering menghabiskan waktu di air dengan berendam dan suka menguap. Sejatinya kuda nil membuka mulut bukan menguap secara harfiah melainkan sebagai peringatan untuk menandai wilayanya.

Tidak hanya itu, mereka juga kerap mendengus untuk memberikan peringatan agar kuda nil lainnya tidak mendekat. Jika ada kuda nil lain yang nampak akan mengancam, hewan ini tak akan segan-segan untuk menyerang dan membunuh sampai tewas.

Perilaku ini biasanya terjadi pada kuda nil jantan yang sedang memperebutkan wilayah kekuasaan, mereka berkelahi dengan membuka mulut lebar-lebar dan saling beradu sampai salah satu tumbang. Nah, itulah perjuangan tanpa batas yang harus dihadapi oleh hewan-hewan ketika hidup di alam liar agar dapat bertahan hidup.