6 Hoaks dalam Sepekan, WhatsApp Curi Data Pribadi hingga Pergerakan Sesar Lembang Awal 2021

·Bacaan 6 menit
Ilustrasi Hoax. (Liputan6.com/Rita Ayuningtyas)

Liputan6.com, Jakarta - Informasi hoaks masih beredar membanjiri platform media sosial, dalam sepekan Cek Fakta Liputan6.com pun telah menelusuri sejumlah informasi yang beredar di media sosial.

Informasi tersebut beragam bentuknya dari pencurian data yang dilakukan WhatsApp hingga potensi gempa dasyat akibat pergerakan Sesar Lembang pad awal 2021.

Berdasarkan hasil penelusuran, informasi tersebut terbukti palsu alias hoaks.

Berikut 6 informasi hoaks sepekan hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com:

1. Facebook Paksa Pengguna Keluar dari Aplikasi untuk Tambahkan Fitur Pelacak

pengguna Facebook dihebohkan dengan beberapa orang yang mengklaim dirinya dikeluarkan secara paksa oleh paltform tersebut. Bahkan, ada yang menyebut mereka dikeluarkan secara paksa karena Facebook menambahkan fitur pelacak di media sosial itu.

Beberapa pengguna Faceboook pun membagikan tangkapan layar dari orang-orang yang dikeluarkan secara paksa oleh aplikasi besutan Mark Zuckerberg.

Begini narasi yang ada di tangkapan layar:

"Bagi Anda yang baru saja keluar - ini adalah pembaruan yang sekarang akan melacak semua info di ponsel Anda! Ambil langkah ekstra untuk melindungi privasi Anda!"

Pengguna lainnya pun menulis:

"Facebook mengeluarkan Anda tadi malam untuk memasang fitur pelacakan baru yang tidak benar-benar diinformasikan kepada kami. Ini melacak bisnis Anda, bahkan melacak ke mana Anda pergi meski sudah meninggalkan Facebook."

Lalu, benarkah Facebook mengeluarkan penggunanya secara paksa karena menambahkan fitur pelacak?

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim Facebook mengeluarkan penggunanya secara paksa karena menambahkan fitur pelacak merupakan informasi yang tidak benar. Faktanya, masalah login ini disebabkan oleh perubahan konfigurasi yang sudah diperbaiki oleh para teknisi.

2. Pekerja dari Tahun 2000 hingga 2021 Dapat Rp 3,5 Juta dari BPJS Kesehatan

Pada Selasa (26/1/2021), pemilik akun Facebook atas nama Ntye Hanstemm Boulers mengunggah klaim yang menyebut BPJS Kesehatan memberi bantuan dana kepada pekerja dari tahun 2000 hingga 2021.

Dalam klaim, ini merupakan bantuan BPJS Kesehatan untuk pekerja yang terdampak pandemi covid-19. Begini narasinya:

"Mereka yang bekerja antara tahun 2000 dan 2021 berhak menerima bantuan sosial finansial sebesar *Rp 3.550.000*.

Periksa apakah nama Anda ada di daftar untuk menarik manfaat

*Daftar lengkap*

https://whatsprem.club/bank-id"

Lalu, benarkah itu bantuan dari BPJS Kesehatan sebesar Rp 3,5 juta untuk pekerja dari 2000 hingga 2021?

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim soal bantuan BPJS Kesehatan sebesar Rp 3,5 juta untuk pekerja dari 2000 hingga 2021 merupakan informasi hoaks. Informasi itu bukan dari BPJS Kesehatan.

3. Nomor *#21# Bukan Cara untuk Mengetahui Penyadapan di Ponsel Pribadi

Pengguna Facebook atas nama Hadi Purnomo mengunggah klaim cara mengetahui apakah ada penyadapan atau tidak di telepon seluler (ponsel) pribadi.

Berikut narasi soal cara mengetahui penyadapan di ponsel pribadi:

"*CEK PENYADAPAN HP Anda*

_Kepada rekan-rekan untuk berhati-hati dari kemungkinan penyadapan nomor HP kita._

Anda bisa melakukan pengecekan sekarang juga di hp anda sendiri dengan mengetik :

_*#21#_

*Lalu tekan/sentuh tombol Call*

Maka akan ada respon dengan memunculkan tampilan :

_Voice : Tidak diteruskan_

_Data : Tidak diteruskan_

_Faks : Tidak diteruskan_

_SMS : Tidak diteruskan_

_Paket : Tidak diteruskan_

_PAD : Tidak diteruskan_

_Sinkron : Tidak diteruskan_

_Tidak Singkron : Tidak diteruskan_

Apabila ada salah satu yg *DITERUSKAN*, maka bisa dipastikan *Nomor anda telah disadap!!!*

_*Unt mematikan smua penyadapan tekan ##002# yess*_

*Semoga Bermanfaat...*"

Lalu, apakah benar jika kita mengetik *#21# bisa mengetahui apakah ada penyadapan di ponsel pribadi?

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6,com, klaim ketik nomor *#21#" bisa mengetahui penyadapan di ponsel pribadi adalah hoaks. Nomor itu merupakan call forwarding ini sebenarnya digunakan apabila telepon milik kita akan disambungkan ke saluran lain PSTN, mailbox, dan lain-lain.

4. Pesan Berantai Status dari WhatsApp Bisa Curi Data dan Akun Bank

Beredar di media sosial dan aplikasi percakapan pesan berantai terkait status dari WhatsApp yang diklaim bisa mencuri data pribadi, dan akun bank penggunanya serta dipantau oleh pemerintah. Informasi itu banyak dibagikan sejak Jumat (30/1/2021).

Ada dua pesan berantai yang tersebar terkait status WhatsApp tersebut. Berikut masing-masing isinya:

"Mohon perhatian jika ada status yang tampil distatus wa agar tidak membuka dan mengklik status tersebut Krn apabila diklik berarti menyetujui bahwa WhatsApp anda akan sama dengan system Facebook yang terpantau oleh pemerintah"

sementara pesan berantai kedua berisi sebagai berikut:

"Perhatian...TACTICS PENIPU BARU... Hati-hati jika mendapat pesan dari Whatsapp, sudah ada di TV3 News, jangan tekan link biru, jika anda tekan data rekening bank dan data pribadi akan di transfer"

Lalu benarkah pesan berantai yang menyebut status WhatsApp bisa mencuri data, akun bank dan dipantau pemerintah?.

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, pesan berantai yang menyebut status dari WhatsApp bisa mencuri data, akun bank dan dipantau pemerintah adalah hoaks. Faktanya status tersebut memang diunggah Whatsapp untuk menjelaskan kebijakan privasi baru.

5. Vaksin Covid-19 Bukan Penyebab Kematian Legenda Bisbol AS

Legenda bisbol Amerika Serikat, Hank Aaron meninggal dunia pada 22 Januari 2021. Dua minggu sebelum meninggal dunia, dia sempat disuntik vaksin covid-19 Moderna.

Sehari setelah kematiannya, netizen mengklaim kalau vaksin covid-19 menjadi penyebab utama Hank Aaron meninggal dunia di usia 86 tahun. Begini narasinya.

"Saudara kita Hank Aaron - RIP - ingin menjadi contoh dan inspirasi bagi Orang Kulit Hitam dengan disuntik vaksin covid-19. Sayangnya, ia menjadi contoh yang jelas bagi Orang Kulit Hitam mengapa vaksin ini TIDAK DAPAT dipercaya.

Pada tanggal 5 Januari, Aaron menerima yang pertama dari dua tembakan vaksin Moderna MRNA. Dua minggu setelah menerima suntikan Moderna pertamanya, Hank Aaron meninggal dalam tidurnya. Tidak ada sebab kematian diberikan, tetapi Anda melakukan menghitung ini."

Kicauan itu pertama kali ditemukan Cek Fakta Liputan6.com berada di akun Facebook Wesley Muhammad. Beberapa jam setelahnya, ada banyak netizen yang membagikan postingan serupa.

Lalu, benarkah Aaron Hank meninggal karena vaksin covid-19 moderna?

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim legenda bisbol, Aaron Hank meninggal dunia karena vaksin covid-19 merupakan informasi yang tidak benar. Kematian Aaron Hank terjadi karena faktor alami.

6. Potensi Gempa Dasyat Pergerakan Sesar Lembang pada Awal 2021

Cek Fakta Liputan6.com mendapati informasi potensi gempa dasyat pergerakan Sesar Lembang pada awal 2021.

Informasi potensi gempa dasyat pergerakan Sesar Lembang pada awal 2021, beredar lewat aplikasi percakapan WhatsApp.

Berikut isinya:

"Pemberitahuan

BMKG Meminta Warga Bandung, Cimahi Bandung Barat Padalarang Lembang

WASPADA, Gempa Dahsyat Mengintai Akibat Gerakan Sesar Lembang

DESKJABAR-Warga Jawa Barat, khususnya dan warga Bandung, Cimahi

Bandung Barat padalarang Lembang tidak ada salahnya untuk meningkatkan

kewaspadaan tinggi akan terjadinya gempa bumi besar. Pasalnya diprediksi

akan terjadi potensi dahsyatnya pergerakan

Sesar Lembang pada awal tahun 2021 ini

Innalillahi"

Benarkah informasi potensi gempa dasyat pergerakan Sesar Lembang pada awal 2021?.

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, informasi potensi gempa dasyat pergerakan Sesar Lembang pada awal 2021 tidak benar.

Potensi pergerakan memang ada. Namun, sampai saat ini belum bisa diprediksi waktu dan kekuatannya.

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia.

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu.

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Simak Video Berikut