6 Humor Gus Dur Paling Lucu, Masih Dikenang hingga Sekarang

Bola.com, Jakarta - KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur merupakan Presiden Republik Indonesia yang keempat. Meski masa jabatannya sebagai presiden terbilang singkat, Gus Dur selalu dikenang banyak orang.

Di kalangan masyarakat Indonesia, Gus Dur dikenal memiliki sifat humoris. Gus Dur juga dianggap sebagai figur yang tak kaku dan kerap menyempatkan bercanda di sela-sela aktivitasnya.

Semasa hidupnya, Gus Dur sering melontarkan kata-kata lucu yang mengundang gelak tawa orang yang mendengarnya.

Tak hanya itu, Gus Dur juga banyak memiliki humor lucu yang bisa membuat seseorang tertawa terpingkal-pingkal. Bukan karena lucu saja, tetapi karena mengajarkan banyak hal tentang kehidupan.

Gus Dur tutup usia pada 30 Desember 2009 dalam usia 69 tahun. Namun, segala kelakar dan guyonan Gus Dur akan selalu dikenang, seperti halnya jasa besarnya terhadap Bangsa Indonesia.

Penasaran dengan cerita lucu Gus Dur? Berikut ini koleksi humor Gus Dur paling lucu, seperti dilansir dari Merdeka, Selasa (9/6/2020).

1. Doa sebelum Makan

Gus Dur bercanda dengan para pastor di Semarang. "Ada seorang pastor yang mempunyai hobi aneh, yakni berburu binatang buas," kata Gus Dur. Setiap hari Minggu, setelah selesai misa ia pergi ke hutan.

Ketika melihat seekor harimau, ia langsung saja menarik pelatuk senapan dan menembakanya. "Dor, dor, dor!"

Ternyata tembakan pastor tersebut meleset. Dan….. Harimau tersebut justru balik mengejar. Mengatahui hal tersebut, sang pastor pun langsung lari terbirit-birit.

Namun, sialnya, di depan sang pastor berhadapan dengan jurang yang sangat dalam. Ia pun memilih berhenti. Ia pasrah dan berlutut. Harimau mendekatinya perlahan, siap menerkam.

Jantung sang pastor berdegup makin kencang. Ia mengangkat kedua tangannya sambil berdoa dan menutup mata.

Pastor tersebut berdoa lama sekali. Sang pastor pun terheran-heran karena ternyata ia masih hidup. Ia menoleh ke samping. Dilihatnya harimau itu terdiam di sampingnya sambil mengangkat kedua kaki depannya, seperti sedang berdoa.

Sang pastor bertanya kepada harimau, "Kenapa, kamu kok tidak menerkam saya, malah ikut-ikutan berdoa?"

"Ya saya sedang berdoa. Berdoa sebelum makan!" kata harimau.

2. Saat Gus Dur Dibohongi

Gus Dur diketahui rutin tidur malam pukul 01.00 WIB. Saat malam hari, Gus Dur sering bertanya pada keluarga atau pengawalnya, "Jam berapa sekarang?". Jika jawabannya belum sampai waktu yang ditentukan itu, ia tidak akan tidur.

Nah, untuk menjaga kesehatan Gus Dur agar tidak tidur terlalu malam, pihak keluarga pun bersekongkol. Jadi, kalau Gus Dur tanya jam berapa, semuanya supaya bilang sudah jam satu agar Gus Dur beranjak tidur.

Hal itu berlangsung beberapa kali. Gus Dur pun akhirnya sadar. "Wah selama ini saya dikibulin."

Tanpa sepengetahuan keluarga, Gus Dur membeli jam tangan yang ketika dipencet bisa berbunyi.

Suatu malam, pukul 23.00, Gus Dur bertanya, "Sudah jam berapa sekarang?" Kompak semua bilang. "Jam satu Gus!"

Sambil tersenyum, Gus Dur langsung memencet jam tangan dan bisa didengar semua: "Sekarang jam 11 malam," kata jam tangan itu dalam bahasa Inggris.

3. Gus Dur Halalkan Ikan Curian

Saat Gus Dur masih berusia belasan tahun, ia menimba ilmu agama di Pondok Pesantren Salaf Asrama Perguruan Islam atau Pesantren API, Tegalrejo, Magelang pada1957-1959.

Gus Dur bersama beberapa teman-temannya merancang skenario pencurian ikan di kolam milik sang guru, Kiai Chudlori.

Pada waktu itu, Gus Dur menyuruh teman-temannya untuk mencuri ikan di kolam, sementara Gus Dur mengawasi di pinggir kolam.

Gus Dur tak ikut serta masuk kolam, ia hanya di pinggirnya saja, dengan dalih untuk mengawasi jika sewaktu-waktu kiai Chudlori keluar dan melewati kolam.

Tak lama kemudian, Kiai Chudlori yang selalu keluar rumah setiap pukul 01.00 WIB untuk menuaikan salat malam di masjid, melintas di dekat kolam.

Saat itu juga, teman-teman Gus Dur yang justru sedang asyik mengambil ikan, langsung disuruh kabur. Sementara Gus Dur tetap berdiri di pinggir kolam dengan memegang ikan hasil curian.

"Tadi ikan milik Pak Kiai telah dicuri oleh santri-santri bengal dan saya berhasil mengusir para pencuri itu. Ikan hasil curiannya berhasil saya selamatkan," kata Gus Dur kepada Kiai Chudlori.

Atas jerih-payah itu, akhirnya Kiai Chudlori menghadiahkan ikan tersebut kepada Gus Dur, untuk dimasak bersama teman-temannya. Ikan itu pun langsung dimasak dan dinikmati Gus Dur bersama teman-teman bengalnya.

Teman-teman bengal yang disuruh mencuri tadi mengajukan protes kepada Gus Dur. Namun, bukan Gus Dur namanya jika tak bisa berdalih yang lebih penting adalah hasilnya.

"Ah kamu juga ikut makan ikannya. Lagi pula, ikan ini kan sudah halal," kata Gus Dur.

4. Becak Tidak Boleh Masuk

Presiden Gus Dur pernah bercerita kepada salah seorang menterinya, Mahfud MD, tentang orang Madura yang banyak akal dan cerdik.

Jadi, ceritanya bermula saat ada seorang tukang becak asal Madura yang kepergok seorang polisi ketika memasuki kawasan bertuliskan 'becak dilarang masuk'.

Alhasil, polisi pun langsung datang menyemprit tukang becak yang melanggar aturan tersebut.

"Apa kamu tidak melihat gambar itu? Becak tak boleh masuk jalan ini," kata polisi itu membentak.

"Oh saya lihat Pak, tapi itu kan gambarnya becak kosong tidak ada orangnya. Becak saya kan ada orangnya, berarti boleh masuk," jawab si tukang becak.

"Bodoh, apa kamu tidak bisa baca? Di bawah gambar itu kan ada tulisan becak dilarang masuk!" bentak Pak polisi lagi.

"Tidak pak, saya tidak bisa baca. Kalau saya bisa baca ya saya pasti jadi polisi seperti sampeyan, bukan jadi tukang becak begini," bantah si tukang becak sambil cengengesan. 

5. Gus Dur Sakit Gigi

Sudah beberapa hari ini Gus Dur sakit gigi, cenat cenut. Dibuat duduk sakit, berbicara sakit, mendengarkan musik juga masih sakit.

"Siapa bilang sakit hati lebih berat dari pada sakit gigi," kata Gus Dur kepada seorang stafnya, mengutip lirik lagu dangdut.

"Lha kan iya lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati Gus?" jawab seorang stafnya.

"Lebih baik sakit hati saja," kata Gus Dur.

"Lha kenapa Gus?"

"Saya ini lagi sakit gigi…!" kata Gus Dur agak berteriak.

Staf Gus Dur tak berani bertanya lagi.

6. NU Lama dan Baru

Suatu hari di Bulan Ramadan, Gus Dur menyambangi kediaman Presiden Soeharto untuk berbuka puasa bersama. Dirinya hadir ditemani Kiai Asrowi.

Usai berbuka dan salat maghrib, Gus Dur akan pergi ke tempat lain dan melewatkan waktu salat tarawih bersama. Pak Harto pun meminta kepada Gus Dur agar Kiai Asrowi tetap tinggal untuk memimpin salat tarawih bersama.

Gus Dur pun mengiyakan permintaan Pak Harto tersebut. Namun, menurut Gus Dur, sang Kiai harus diberi penjelasan dulu apakah salat tarawih akan dilaksanakan dengan cara NU Lama atau NU Baru.

Pak Harto pun bingung karena dirinya tak mengetahui perbedaan antara NU Lama dan NU Baru.

Soeharto kemudian bertanya kepada Gus Dur, "Memang kalau NU Lama gimana?" Gus Dur menjawab, "Kalau NU Lama, tarawih dan witirnya itu 23 rakaat."

Pak Harto kembali bertanya, "Kalau NU Baru?" Dengan santainya Gus Dur menjawab, "Kalau NU Baru diskon 60 persen, jadi tarawih sama witirnya cuma tinggal 11 rakaat." Gus Dur memang paling bisa deh.

 

Disadur dari: Merdeka.com (Reporter: Anwar Khumaini. Published: 10/12/2013).