6 Mahakarya Titiek Puspa, yang Ulang Tahun ke-83 Hari Ini 1 November 2020

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Titiek Puspa salah satu singer-songwriter terbesar dalam sejarah musik Indonesia. Ia ikon seniman Tanah Air yang melintasi tiga generasi. Karya-karyanya lestari hingga kini.

Bisa jadi, Titiek Puspa diva pertama yang menjadi kiblat bagi para diva generasi berikutnya seperti Vina Panduwinata, Ruth Sahanaya, Krisdayanti, Titi DJ, dan sejumlah solis wanita setelahnya.

Ia eksis bermusik dan diakui kredibilitasnya di seni peran lewat sejumlah film top seperti Inem Pelayan Seksi dan Ateng Minta Kawin. Minggu (1/11/2020), Titiek Puspa ulang tahun ke-83. Izinkan Showbiz Liputan6.com mengajak Anda menapaki 6 rekam jejaknya di industri rekaman.

1. Kupu-kupu Malam

Titiek Puspa. (Foto: Instagram @titiekpuspa_official)
Titiek Puspa. (Foto: Instagram @titiekpuspa_official)

Membahas (maaf) pelacuran, yang disalahkan selalu perempuan. Titiek Puspa melayangkan gugatan secara elegan, penuh empati, dan renungan untuk yang rajin menyebut PSK berdosa lalu diimbau bertobat secepatnya.

Ia menulis dua pertanyaan menusuk, “Dosakah yang dia kerjakan? Sucikah mereka yang datang?” Sebuah kritik dari nurani seorang wanita yang ditulis secara objektif. Versi asli lagu ini dirilis dalam irama blues pada 1977. Suara Titiek Puspa terdengar bergetar di beberapa bagian. Pertanda ia berdendang dengan raga dan jiwa.

2. Bing

Titiek Puspa. (Foto: Instagram @titiekpuspa_official)
Titiek Puspa. (Foto: Instagram @titiekpuspa_official)

Salah satu contoh karya personal yang pas, ada dalam “Bing” gubahan Titiek Puspa pada 1973. Lagu ini ditulis beberapa saat setelah mendengar kabar sahabatnya yang juga seniman legendaris, Bing Slamet, berpulang. Liriknya jelas menyiratkan kesedihan namun bukan itu menu utama.

Titiek Puspa menceritakan kronologi menerima kabar duka dalam balutan sastra lalu menggarisbawahi esensi duka untuk sahabat lewat bait, “Kubersimpuh di sisi jasad membeku, doa tulus dan air mata. Segala dosa kumohonkan ampunan-Nya, seakan terjawab dan Kau terima.” Itu sudah.

3. Apanya Dong?

Titiek Puspa. (Foto: Instagram @titiekpuspa_official)
Titiek Puspa. (Foto: Instagram @titiekpuspa_official)

Cinta adalah tema purba yang terus difotokopi sampai buram dan menjemukan. Titiek Puspa mengantisipasi kejenuhan tema ini lewat nomor rock n roll dengan lirik “ugal-ugalan” lalu dibawakan “suka-suka” oleh Euis Darliah. Lagu cinta biasanya berlirik romantis, aransemen dibikin melodius agar pendengar terbius. Titiek Puspa tak demikian.

Liriknya lugas, tentang kebingungan karena cinta datang tanpa sebab jelas. “Apa apa apanya dong? Apanya dong, apanya dong? Dang ding dong!” tulisnya. Di era itu, Titiek Puspa seolah berkata, “Bingung kenapa bisa cinta sama dia? Jogetin aja shaaay!”

4. Bimbi

Titiek Puspa. (Foto: Instagram @titiekpuspa_official)
Titiek Puspa. (Foto: Instagram @titiekpuspa_official)

Mau bukti lain betapa genius seorang Titiek Puspa? Simak kembali “Bimbi,” tentang wanita yang mengalami gegar budaya gara-gara urbanisasi. Hijrah dari kampung ke kota, kerja entah halal atau haram ujug-ujug kaya raya lalu berlagak tak kenal asal-usulnya.

Bimbi lupa, harta hanyalah titipan dan roda kehidupan terus berputar. Dari hidup yang gemerlap, perputaran nasib melemparkan Bimbi kembali ke jalanan. Adakah Bimbi di kehidupan nyata? Buanyak!

5. Cinta

Titiek Puspa. (Foto: Instagram @titiekpuspa_official)
Titiek Puspa. (Foto: Instagram @titiekpuspa_official)

Salah satu romantika percintaan adalah perselingkuhan dengan kata pengantar janji di atas ingkar. Ini dilukiskan Titiek Puspa lewat kalimat menyayat, “Dan yang lebih menghancurkan kalbu, kau bercumbu di depanku.”

Titiek Puspa tak 100 persen menyalahkan si tukang selingkuh. Ada introspeksi diri saat cinta tak berjalan sesuai harapan. “Oh Tuhan, tunjukkanlah dosa dan salahku. Mudahnya dia buat janji, semudah dia ingkar janji,” guratnya.

6. Pantang Mundur

Titiek Puspa. (Foto: Instagram @titiekpuspa_official)
Titiek Puspa. (Foto: Instagram @titiekpuspa_official)

Lagu pahlawan di medan perang tak jauh dari glorifikasi semangat juang dan pengorbanan. Bagaimana jika lagu soal pahlawan ditulis dari sudut pandang sang istri? Titiek Puspa melakukannya lewat “Pantang Mundur.” Ini mengisahkan istri pahlawan yang hamil dan menanti suami pulang dengan selamat.

Ia bersalin dan mengirim kabar ke suami seraya menanyakan nama untuk buah hati tercinta. “Putra pertama lahir sudah, kupintakan nama padamu pahlawan. Sembah sujud ananda, dirgahayulah kakanda.”