6 Pemain Asing Paling Ikonik di Liga Indonesia Tahun 2000-an

Jakarta - Sejak aturan pemain asing diberlakukan pada era Galatama serta Liga Indonesia musim pertama 1994-1995, ribuan pemain asing datang ke Tanah Air dan meramaikan kompetisi. 

Sepak bola Indonesia selalu menjadi daya tarik pemain-pemain asing berkarier. Selain bayaran cukup tinggi, atmosfer suporter di Indonesia juga menjadi magnet tersendiri buat para pemain asing.

Sepak bola Indonesia tampaknya dianggap menjanjikan buat sejumlah pemain asing. Para pemain impor tersebut kadang enggan kembali ke negara asal.

Sepak Indonesia memang kerap diterpa isu yang tak sedap seperti dibekukan FIFA, penunggakan gaji pemain hingga isu pengaturan skor. Tapi, kondisi tersebut tetap tak menyurutkan minat pemain asing untuk berkiprah di Liga Indonesia. Hampir setiap musim para pemain asing silih berganti datang ke Indonesia.

Beberapa pemain asing ada yang sukses dan bisa langsung beradaptasi dengan klub barunya. Namun ada juga pemain asing yang harus terdepak sebelum kompetisi berakhir.

Bahkan, karena saking lamanya berkiprah di Indonesia, ada beberapa pemain asing yang betah dan enggan kembali ke negara asalnya. Beberapa pemain asing memutuskan menjadi warga Indonesia.

Namun, ada juga pemain asing yang sudah memutuskan kembali ke negaranya tapi tetap diingat orang Indonesia. Biasaya para pemain tersebut diingat karena loyal dengan satu klub ataupun gayanya saat bermain bola.

Terutama para pemain asing era 2000-an. Berikut Bola.com merangkum dari berbagai sumber, beberapa pemain asing Liga Indonesia yang ikonik pada era 2000-an.

Julio Lopez

(Persijap)

Julio Lopez kali pertama menginjakan kakinya di Indonesia saat membela PSIS Semarang pada 2003. Namun, saat itu ia hanya bertahan selama satu musim bersama Mahesa Jenar.

Setelah itu ia bermain untuk Persib Bandung sebelum memutuskan pergi dari Indonesia. Saat membela Tim Maung Bandung ia sempat bikin heboh dengan masuk studio rekaman.

J-Lo sempat mengisi album kompilasi keluaran Viking. Bersama penyanyi asal Kota Kembang, Conny Dio, ia melantunkan lagu berjudul Persib Nu Aing, yang selalu diputar saat Persib bermain di Stadion Siliwangi.

Hengkang dari Bandung dan Indonesia tiga tahun kemudian pemain yang akrab disapa J-Lo itu kembali ke Indonesia dan berkostum PSIS Semarang.

Meskipun bermain untuk banyak klub di Indonesia, Julio Lopez dikenal ikonik pemain PSIS Semarang. Saat berseragam PSIS, J-Lo mencatatkan 51 penampilan dengan mengemas 36 gol.

Raihan tersebut merupakan yang terbanyak dicatatkan Julio Lopez ketimbang saat membela klub lain di Indonesia.

Redouane Barkaoui

(Dok.pribadi)

Redouane Barkaoui bermain di Indonesia pada 2006-2008. Meskipun hanya bermain selama dua tahun, Redouane Barkaoui bisa dibilang cukup dikenang para bobotoh.

Redouane Barkaoui dikenal mempunyai selebrasi yang unik dan khas. Ia kerap melakukan tari Jaipong setelah memasukkan bola ke gawang lawan.

Tari Jaipong merupakan kesenian asal Jawa Barat. Wajar tentunya jika Redouane Barkaoui sering melakukan selebrasi tari Jaipong saat membela Persib Banadung.

Selebrasi tersebut yang membuat Redouane Barkaoui dikenal sebagai pemain asing yang ikonik di Indonesia.

Cristian Carrasco

Cristian Carrasco

Cristian Carrasco kali pertama bermain di Indonesia pada 2003. Klub pertama yang ia bela ialah PSMS Medan.

Seperti halnya Redouane Barkaoui, Cararrasco mempunyai kebiasaan yang unik saat selebrasi, yaitu dengan selalu memakai topeng Spiderman. Ia pun sering dijuluki Spiderman di lapangan.

Faktor tersebut yang membuat Cristian Carrasco dikenal sebagai pemain asing yang ikonik di Indonesia.

Meskipun ia mengawali karier di PSMS Medan, puncak karier Cristian Carrasco terjadi saat berkostum Persita Tangerang.

Bersama Persita, Cristian Carrasco total mencatatkan 98 penampilan dengan mengemas 48 gol.

Marcio Souza

(Istimewa)

Marcio Souza pertama kali datang ke Indonesia pada 2006. Tim pertama yang ia bela ialah Persela Lamongan.

Selama dua tahun membela Persela, Marcio Souza total mencatatkan 66 penampilan dengan menyumbang 41 gol. Catatan bersama Persela tersebut menjadi yang terbaik selama Marcio Souza berkiprah di Liga Indonesia.

Seperti halnya Redouane Barkaoui, Marcio Souza juga mempunyai selebrasi unik khas Indonesia. Setelah mencetak gol, Marcio Souza mempunyai gaya nyeleneh mirip komedian Indonesia, Tukul Arwana.

Pemain asal Brasil itu akan bertepuk tangan vertikal lalu menarik-narik bibirnya seperti yang kerap diperakan Tukul Arwana saat berada di Televisi.

Hal tersebutlah yang membuat Marcio Souza dikenal sebagai pemain asing yang ikonik di Indonesia.

Patricio Jimenez Diaz

Patricio Jimenez D

Patricio Jimenez Diaz mengawali karier di Indonesia bersama Semen Padang pada 2004. Pemain yang akrab disapa Pato itu mempunyai ciri khas yang gampang dikenali.

Patricio Jimenez dikenal berpenampilan gondrong yang terurai hingga bahu. Selain itu, Patricio Jimenez juga mempunyai tendangan kaki kiri yang sangat bagus.

Satu di antara aksi unik dan akrobatik yang pernah dilakukan Patricio Jimenez ialah menendang penalti dengan mata tertutup. Aksi tersebut ia lakukan pada babak 32 besar Copa Indonesia 2007 saat berhadapan dengan Persijap Jepara di Stadion Siliwangi.

Rambutnya yang panjang membuat Jimenez harus mengenakan bandana saat bermain bola. Saat akan menendang penalti, Patricio Jimenez tiba-tiba menurunkan bandananya hingga matanya tertutup.

Dengan mata yang tertutup tersebut, Patricio Jimenez langsung mengeksekusi penalti. Lebih kerennya lagi, penalti tersebut sukses mengelabui kiper Persijap Jepara, Fance Haryanto.

Aksi menghibur tersebut yang menjadikan Patricio Jimenez Diaz dikenal sebagai pemain asing yang ikonik di Liga Indonesia pada era 2000-an.

Usai gantung sepatu, Patricio masih beredar di Indonesia. Ia melatih SSB fokus melahirkan talenta-talenta muda.

Emanuel De Porras

(Futbolistasaxem)

Mungkin sosok Emanuel De Porras berbeda dengan kelima pemain di atas. Jika pemain di atas diingat karena mempunyai keunikan atau ciri khas, De Porras dikenal karena ketajamannya di lini depan.

Emanuel De Porras merupakan satu di antara pemain asing yang garang pada era Liga Indonesia. Persija Jakarta menjadi klub pertama yang jadi pelabuhan Emanuel De Porras di Indonesia pada 2004.

Bersama Persija, De Porras mampu melesakkan 16 gol dari 31 penampilan. Kehadiran De Porras membuat Bambang Pamungkas terpinggirkan dari tim utama Macan Kemayoran.

Kamudian pada 2005, De Porras memutuskan bergabung dengan PSIS Semarang. Bersama PSIS, Emanuel De Porras mampu melesakkan 23 gol, dengan perincian 13 gol pada 2005 dan 10 gol pada 2006.

Meskipun Emanuel De Porras tak mempunyai ciri khas, ia bisa dibilang merupakan pemain asing yang ikonik di Liga Indonesia era 2000-an.